Menjadi Imam Butuh Kesetiaan dan Penyerahan Diri yang Total pada Tuhan

INGARAJA – Live In Panggilan yang diselenggarakan oleh Komisi Panggilan dan Seminari Pusat Pastoral Keuskupan Denpasar, dalam kolaborasi dengan Paroki St. Paulus Singaraja selaku tuan rumah, Sabtu (21/6/2025), mamasuki hari kedua.
Hari pertama, setelah dibuka secara resmi oleh Ketua Komisi Panggilan dan Seminari RD. Antonius Gede Ekadana Putra di aula paroki, seluruh peserta yang terdiri dari para Imam, Bruder, Suster, Frater, Seminaris serta sejumlah remaja dan OMK utusan paroki di Dekenat Bali Barat, dijemput oleh para Ketua Lingkungan dan Stasi untuk tinggal bersama umat (live in) yang sudah ditentukan.
Di setiap Lingkungan/Stasi sudah ada agenda kegiatan. Selain kebersamaan bersama keluarga di rumah masing-masing, juga malam harinya dijadwalkan untuk berkumpul bersama seluruh umat di lingkungan itu, mulai dari anak-anak, remaja, OMK dan dewasa.
Aktivitas bersama umat dalam satu Lingkungan antara lain Ibadat Sabda, Doa Rosario, dan dilanjutkan dengan sharing bersama serta malam keakraban.
Media ini berusaha untuk datang ke beberapa Lingkungan bersama Komsos Paroki St. Paulus Singaraja guna menyaksikan secara langsung dinamika yang terjadi di Lingkungan.
Namun, tidak semua Lingkungan didatangi karena jaraknya cukup jauh, apalagi Stasi Seririt yang paling jauh. Hanya tiga Lingkungan yang tidak jauh dari gereja yang dapat dijangkau yaitu Lingkungan St. Maria, St. Yohanes Baptista dan St. Stefanus.
Sesuai agenda dari panitia, kebersamaan di Lingkungan diawali dengan Ibadat Sabda/berdoa bersama, dilanjutkan dengan sharing. Dalam sharing juga diselipkan dengan beberapa pertanyaan.
Menarik bahwa ada banyak pertanyaan sederhana namun kritis diungkapkan umat, baik terkait dengan kehidupan menggereja umumnya maupun soal panggilan khusus sebagai imam dan hidup selibat lainnya.
Menanggapi pertanyaan seorang kaum muda di Lingkungan Yohanes Baptista tentang tantangan masuk Seminari hingga syarat menjadi seorang imam, Fr. Pedro, sebagai salah seorang Fasilitator di Lingkungan itu menjawab bahwa untuk menjadi seorang imam itu butuh kesetiaan, disiplin pada aturan dan penyerahan total kepada Tuhan.
Menurut Fr. Pedro, hal yang sama juga berlaku di biara-biara (suster) bahwa kesetiaan dan disiplin serta penyerahan diri secara total kepada Tuhan itu menjadi hal utama.

Frater Pedro kemudian menambahkan bahwa dirinya masih dalam perjalanan untuk menjadi imam, karena itu dia mohon doa dari umat agar sampai pada tahbisan imamat. Saat ini Fr. Pedro melanjutkan studi S-2 Teologi, setelah selesai menjalani TOP di Seminari Tukan tahun lalu.
Banyak pertanyaan lain yang muncul, seperti seorang OMK di Lingkungan St. Maria, bertanya tentang remaja yang aktif di Sekami, lalu sulit mau ikut aktif di OMK. Bruder Andre, CDD, Frater serta Suster yang menjadi Fasilitator di Lingkungan ini, menjawabnya dengan bijak.

Intinya bahwa transisi dari Sekami ke OMK itu butuh waktu dan kesabaran karena soal kenyamanan, karena itu jangan lelah untuk melakukan pendekatan dan buatlah kegiatan-kegiatan menarik dan kreatif.
Masih ada pertanyaan sederhana lainnya, misalnya soal warna jubah dan maknanya, yang dipakai para suster, juga hal yang paling tidak disukai dari aturan di Seminari atau Biara, dan sebagainya.
Katekese Panggilan
Live In Panggilan yang dilaksanakan di Paroki St. Paulus Singaraja ini, berlangsung selama tiga hari, 20-22 Juni 2025. Hari kedua, Sabtu (21/6), agenda kegiatannya cukup padat.
Mengawali kegiatan dengan misa pagi di gereja paroki, lalu dilanjutkan dengan Katekese Panggilan, dan sharing/konsultasi pribadi tentang panggilan. Untuk Katekese dan sharing panggilan ini, peserta dibagi dalam tiga kelompok berdasarkan kategori yaitu Kelompok anak-anak dan remaja Sekami, Kelompok OMK dan Kelompok KMK (Mahasiswa).
Setiap kelompok memiliki Fasilitator masing-masing. Di Kelompok Anak-anak dan Remaja Sekami Fasilitatornya adalah RD. Antonius Gede Ekadan Putra dan Br. Andre, CDD, dan sejumlah Suster, Frater, Seminaris.

Sedangan Kelompok OMK, Fasilitatornya RP. Klement, CDD dan beberapa Suster, Frater dan Seminaris; demikian juga di Kelompok KMK dengan Fasilitator Diakon Vian, SVD, Sr. Gissel, OSSS, dan juga Frater serta Suster dan Seminaris.
Di setiap kelompok, selain diisi dengan materi Katekese Panggilan, juga ada animasi-animasi berupa lagu dan gerak yang menarik sehingga suasana menjadi lebih cair, hangat, semangat dan akrab.
Materi Katekese di setiap kelompok hampir sama, hanya cara mempresentesikannya sesuai gaya masing-masing Fasilitator. Materi Katekese antara lain memperkenalan jenis-jenis panggilan, Dasar Kitab Suci tentang Panggilan, Panggilan Hidup Selibat (Imam, Biarawan-Biarawati), tantangan panggilan zaman sekarang, dan sebagainya.
Romo Tony Ekadana Putra, ketika menyampaikan katekese di depan anak-anak dan remaja Sekami menjelaskan panggilan dibagi dalam panggilan umum dan panggilan khusus. Panggilan umum, katanya, adalah menjadi orang baik terutama bagi pengikut Kristus.

Sedangkan Panggilan Khusus, menurut Rm. Tony, antara lain panggilan hidup berkeluarga (suami-isteri), panggilan hidup selibat (Imam, Biarawan, Biarawati) dan panggilan hidup membaktikan diri dalam cara lain (misionaris, hidup bakti di dunia). “Semua panggilan tujuannya adalah melayani Tuhan,” imbuh Romo Tony.
Romo Tony juga menjelaskan Dasar Kitab Suci tentang panggilan dengan memberikan contoh beberapa tokoh Kitab Suci yang dipanggil khusus oleh Tuhan seperti Bunda Maria dan para Rasul.
Khusus panggilan hidup selibat sebagai imam ataupun bruder dan suster, menurut Rm. Tony, tidak harus seorang yang pintar atau memiliki kemampuan dan sempurna, tetapi orang yang mau dibentuk oleh Tuhan. “Tuhan memanggil orang biasa untuk melakukan hal luar biasa,” katanya.
Romo Tony memberi contoh Simon Petrus dan saudara-saudaranya yang dipanggil Yesus untuk menjadi RasulNya adalah orang sederhana, latar belakang nelayan dan tidak terlalu pintar , tetapi mau dibentuk oleh Tuhan. Demikian rasul yang lain, dari latar belakang orang biasa dan sederhana.

Lantas bagaimana dengan panggilan Tuhan pada zaman sekarang? Menurut Rm. Tony, Tuhan terus memanggil, hanya sering kita terlalu sibuk untuk mendengarnya.

Sementara RP. Klement, CDD, di kelompok OMK menjelaskan, Panggilan Tuhan di zaman sekarang tanda-tandanya, antara lain ada rasa damai untuk membaktikan diri kepada Tuhan Allah, sering terlintas atau terpikir ingin melayani lebih banyak, kerinduan untuk hidup dekat dengan Tuhan, melalui orang lain misalnya berkata ‘kamu cocok menjadi imam, atau bruder atau suster’, merasa tertarik tapi takut dan sebagainya.

Tantangan panggilan zaman sekarang, kata Pater Klement, adalah banyak kaum yang takut dipanggil menjadi imam, suster atau bruder; dunia yang terus menawarkan ketenaran, kekayaan, kenyamanan dan kenikmatan duniawi; dan tantangan duniawi lainya.
Usai Katekese dilanjutkan dengan interaksi dengan peserta berupa sharing/konsultasi panggilan, sesekali diselingi dengan animasi.

Masih ada beberapa agenda hari kedua yang dilanjutkan setelah makan siang seperti persiapan untuk malam vokasional, outbond dan olahraga serta berpuncak pada malam vokasional di aula paroki. *
Hironimus Adil



