Misa Inkulturasi Sumba di YGYB Denpasar, Diaspora Diajak Bersatu Pulihkan Nama Baik Sumba

DENPASAR – Suasana Gereja Yesus Gembala Yang Baik (YGYB) Denpasar tampak semarak pada Minggu (30/8/2026), saat umat Katolik diaspora Sumba di Bali menyemarakan Misa Inkulturasi bersama umat paroki YGYB. Nuansa budaya Sumba begitu terasa dengan balutan busana adat yang dikenakan umat serta lantunan lagu-lagu khas Sumba yang mengiringi perayaan Ekaristi.
Perayaan Ekaristi dipimpin Romo Aloysius Bulu Lero,CM, imam asal Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang saat ini bertugas di Papua Nugini. Ia didampingi Pastor Paroki YGYB Denpasar, RP Yohanes Nyoman Madia Adnyana, SVD, dan pastor rekan, Romo Gregorius Loudowick Lengga Wangge, SVD.
Dalam homilinya, Romo Aloy mengajak umat asal Sumba yang berada di Bali untuk melihat kehidupan di tanah rantau sebagai bagian dari panggilan iman sekaligus tanggung jawab bersama menjaga nama baik daerah asal.

Menurutnya, masyarakat Sumba di perantauan menghadapi berbagai tantangan dan stigma yang selama ini melekat. Karena itu, ia mengajak diaspora Sumba tidak larut dalam pandangan negatif, tetapi bersama-sama menunjukkan bahwa Sumba juga memiliki banyak sisi positif yang patut dibanggakan.
“Banyak salib kita di Bali ini. Sumba selalu dianggap negatif. Mari kita bersatu dan memulihkan nama baik Sumba,” ajaknya.
Ia menegaskan, upaya mengubah pandangan tersebut dapat dimulai dari sikap dan perilaku setiap orang Sumba di tanah rantau. Menurutnya, nama baik Sumba tidak hanya dibangun melalui kata-kata, tetapi terutama melalui tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari.

“Jadikan nama yang selama ini dianggap buruk menjadi baik kembali. Inilah salib kita!,” katanya.
Romo Aloy juga mengajak umat untuk terus menghadirkan nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan bermasyarakat. Menjadi pengikut Kristus, katanya, berarti menghadirkan kebaikan, melayani Tuhan sekaligus melayani sesama tanpa membeda-bedakan.
“Menjadi pengikut Kristus di tanah rantau. Kita maju bersama, berjuang bersama, dan tetap setia mengikuti Tuhan,” pesannya.

Selain mengajak umat memperkuat persatuan dan menjaga nama baik Sumba, dalam perayaan Misa tersebut umat juga diajak secara khusus untuk mendoakan saudara-saudara yang menjadi korban gempa bumi di NTT. Doa dipanjatkan bagi para korban yang meninggal dunia, mereka yang mengalami luka maupun kehilangan tempat tinggal, serta seluruh keluarga yang terdampak bencana. Ajakan doa tersebut menjadi ungkapan solidaritas dan kepedulian umat Sumba di Bali terhadap masyarakat di tanah kelahiran.
Romo Aloy menilai kebersamaan menjadi kekuatan penting bagi diaspora Sumba dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di Bali. Dengan persatuan dan semangat saling mendukung, berbagai persoalan yang berat dapat dihadapi secara bersama-sama.

Ia menilai kebersamaan menjadi kekuatan penting bagi diaspora Sumba dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan di Bali. Dengan persatuan dan semangat saling mendukung, berbagai persoalan yang berat dapat dihadapi secara bersama-sama.
Misa Inkulturasi Sumba tersebut juga menjadi momen istimewa bagi Romo Aloy. Ia mengaku bersukacita karena di penghujung masa liburannya di tanah air masih diberikan kesempatan untuk memimpin perayaan Ekaristi dengan nuansa adat Sumba di Denpasar.
“Saya sangat gembira karena di akhir liburan ini masih bisa memimpin Misa Inkulturasi Sumba bersama umat di Bali,” ungkapnya.

Perayaan Misa semakin semarak dengan penampilan paduan suara “Voice of Sumba” yang membawakan lagu-lagu bernuansa Sumba. Kehadiran musik dan busana adat tersebut makin memperkuat suasana perayaan, juga menjadi ruang bagi umat untuk merawat identitas budaya Sumba di tengah kehidupan sebagai diaspora di Bali.
Misa Inkulturasi Sumba akhirnya menjadi lebih dari sekadar perayaan iman. Perjumpaan tersebut menjadi momentum mempererat persaudaraan, merawat budaya, sekaligus meneguhkan komitmen umat Sumba untuk membawa wajah positif Sumba melalui kehidupan, karya, dan pelayanan di tanah rantau. *
Karolina Ida, Komsos Paroki YGYB
Editor: Hiro/KomsosKD



