LINTAS PERISTIWA

PERNAS Lembaga Biblika Indonesia Resmi Dibuka di Gereja Katedral Denpasar

DENPASAR – Pertemuan Nasional Lembaga Biblika Indonesia (LBI) diawali dengan Misa Kudus di Gereja Roh Kudus Katedral Denpasar, Selasa (15/7/2025) petang. Selain peserta Pernas, misa juga dihadiri umat Katolik lainnya.

Sebelum misa, seluruh peserta, panitia dan narasumber, diterima dengan sapaan kasih oleh Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey, didampingi Pastor Paroki Katedral RP. Yosef Casius Wora, SVD beserta Dewan Pastoral Paroki (DPP) di gerbang Katedral Denpasar.

Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey bersama Pastor Paroki Katedral RP. Yosef Wora, SVD Menerima peserta di gerbang katedral

Selanjutnya pengalungan selendang khas Bali kepada Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD (mewakili narasumber), Ketua LBI RP. Albertus Purnomo, OFM beserta para pengurus LBI dan beberapa perwakilan peserta oleh DPP Roh Kudus Katedral Denpasar.

Bapak Uskup Agung Ende sebagai salah satu narasumber, menerima kalungan selendang dari DPP Katedral

Usai acara penerimaan, dilanjutkan dengan Misa Kudus yang dipimpin Uskup Denpasar sekaligus Uskup Delegatus Kitab Suci KWI Mgr. Silvester San. Turut mendampingi Mgr. San, antara lain Uskup Agung Ende Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, Ketua LBI serta sejumlah imam konselebrasi lainnya.

Misa pembukaan Pertemuan Nasional (Pernas) LBI ini bertepatan dengan Pesta St. Bonaventura, seorang Uskup dan Pujangga Gereja. Dalam pengantar misa, Mgr. San, berharap agar dengan bantuan St. Bonaventura, para penggerak Kitab Suci, selalu mampu menghayati dan mewartakan Firman Tuhan dalam konteks Asia khususnya Indonesia.

Sementara dalam homilinya, Mgr. San, mengingatkan bahwa Yesus mencela orang farisi dan ahli taurat karena kemunafikannya. Mereka, kata Uskup San, sangat pandai dalam mengajar, tetapi tidak selaras dengan perbuatan dan keteladanan hidupnya, sehingga mereka menjadi orang munafik.

Peserta PERNAS saat mengikuti misa pembukaan di Katedral Denpasar

Menurut Uskup San, kesaksian dan keteladanan hidup lewat perbuatan nyata, jauh lebih penting daripada kata-kata. Oleh karena itu, celaan atau peringatan Yesus kepada orang farisi dan ahli taurat, menjadi peringatan kepada para pimpinan Gereja dan para penggerak Kita Suci agar antara pengajaran dengan aksi nyata atau kesaksian hidup itu harus selaras.

Sebuah sambutan tunggal sebelum berkat penutup disampaikan juga oleh Mgr. Silvester San, selaku Delegatus Kitab Suci KWI.

Mendasarkan tema Pernas LBI 2025 “Mewartakan Kristus dalam Konteks Asia/Indonesia,” Doktor Bidang Kitab Suci itu, berharap agar Pernas LBI ini memberi jaminan kesimbungan karya Kitab Suci dari waktu ke waktu. Pernas juga menunjukan sinodalitas Gereja Indonesia dalam mewartakan Yesus sesuai konteks Asia/Indonesia.

“Pernas ini juga menunjukan sinodalitas, berjalan bersama Gereja dalam konteks Asia/Indonesia. Kita berdoa agar pertemuan ini berjalan baik dan berguna dalam mewartakan Kristus di Asia dan Indonesia yang memiliki konteks kemiskinan, konteks keragaman kultural/budaya dan konteks kemajemukan suku, agama, ras dan golongan,” ungkap Mgr. San.

Perwakilan peserta dengan pakaian adat daerahnya mengantar persembahan

Realitas kemiskinan, keragaman budaya dan kemajemukan masyarakat, lanjut Mgr. San, menjadi tantangan bagi Gereja Asia dan Indonesia, terutama para delegatus dan penggerak Kitab Suci.

“Situasi ini menantang kita untuk mencari cara mewartakan Kristus dalam konteks tersebut, dan salah satunya adalah dengan cara dialog maupun pendekatan lain sesuai konteks Gereja Lokal kita masing-masing,” harapnya.

Di sisi lain sambutannya, Bapak Uskup Denpasar juga memperkenalkan secara singkat tentang profil Keuskupan Denpasar yang meliputi wilayah pelayanan Provinsi Bali dan NTB.

Khusus Bali, menurut Mantan Rektor Seminari Tinggi Ritapiret Maumere, itu terkenal sebagai pulau damai dan toleransi serta julukan lainnya termasuk pulau cinta karena banyak orang ingin menikah di Bali. Sebagai pula damai dan toleransi, kata Mgr. San, Bali sering dijadikan tempat favorit untuk pertemuan baik nasional maupun internasional.

Kepada para peserta, Mgr. San mengucapkan “Selamat bersidang, semoga memberikan pencerahan dan menghasilkan buah yang baik dalam meningkatkan karya kerasulan Kitab Suci dalam konteks Indonesia maupun dalam Gereja Lokal masing-masing.

Usai sambutan, Bapak Uskup, selaku Delegatus Kitab Suci KWI, didampingi Uskup Agung Ende Mgr. Budi Kleden, SVD dan Ketua Lembaga Biblika Indonesi (LBI) RP. Albertus Purnomo, OFM, dipersilahkan untuk membuka Pernas LBI 2025 secara resmi yang ditandai dengan pemukulan gong.

Bapak Uskup Mgr. Silvester San didampingi Mgr. Budi Kleden,SVD dan RP. Albertus Purnomo,OFM membuka Pernas LBI

Setelah foto bersama usai misa, seluruh peserta, narasumber dan panitia Pernas, bergegas kembali ke Catholik Center, tempat berlangsungnya Pernas selama 5 hari, 15-19 Juli 2025. Bahkan para Dosen Kitab Suci dari berbagai Perguruan Tinggi Katolik di Indonesia, yang merupakan peserta Pernas sudah mulai dengan pertemuan khusus 14-15 Juli 2025 di tempat yang sama.

Pernas Bersejarah

Selepas makan malam, acara dilanjutkan dengan orientasi Pernas oleh Ketua LBI RP. Albertus Purnomo. Menurut Ketua LBI, Pernas 2025 mencatatkan sejarah tersendiri karena ini adalah Pernas pertama setelah 54 tahun usia LBI, dilaksanakan di luar pulau Jawa, yaitu di Keuskupan Denpasar.

Rm. Purnomo, demikian akrab disapa, kemjudian menjelaskan, LBI memiliki dua kategori anggota yaitu, pertama, Anggota Ex-Officio (Ketua Komisi/Delegatus Kitab Suci Keuskupan), dan kedua, Anggota dari pakar Kitab Suci.

Ketua LBI RP. Albertus Purnomo,OFM

Rm. Purnomo, juga mengulas tentang tujuan dari Pernas 2025, yakni untuk menentukan Arah Dasar Lembaga Biblika Indonesia tahun 2026-2030 berkaitan dengan kerasulan Kitab Suci di Indonesia, khususnya Bulan Kitab Suci Nasional (BKSN).

Pernas juga bertujuan saling mengenal, sharing pengalaman, belajar dan berdiskusi berkenaan ide atau gagasan terbaru seputar kerasulan Kitab Suci antar keuskupan dan berkaitan dengan aktivitas studi Kitab Suci di antara para pakar.

Peserta mengikuti acara pertama di Catholic Center, Selasa (15/7) malam

Lebih lanjut, Rm. Purnomo, menerangkan tema yang mengisahkan Yesus dalam konteks Asia/Indonesia, antara lain bahwa tema tersebut terinspirasi dari sebuah gagasan yang muncul dalam pertemuan FABC (Federation Asian Bhisop Conference) di Thailand tahun 2020, yang menegaskan kembali unsur penting dalam Gereja yaitu Sinodalitas yang merupakan gaya khas kehidupan dan misi Gereja.

Lalu, secara istimewa, Yesus berasal dari Asia, tetapi Dia milik semua orang. Dan salah satu cara efektif untuk menampilkan dan mewartakan Yesus adalah menceritakan Yesus dalam konteks Asia.*

Hironimus Adil

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button