DENPASAR – Mantan Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE) Keuskupan Denpasar Bone Bali Hada, pagi ini, Sabtu (27/1/2024), tutup usia.
Berita duka atas meninggalnya Bapak/Opa Bone, demikian biasa disapa, mencul di beberapa grup WhatsApp (WA). Grup WA keluarga besar Keuskupan Denpasar maupun Pusat Pastoral juga menyampaikan berita duka yang sama. Masih banyak grup WA yang lain, juga menyampaikan informasi kedukaan itu.

“Pagi teman-teman, ada berita duka BP Bone Bali Hada sudah pergi tadi pagi sekitar jam 09.00. Jenazah belum tahu akan disemayamkan dimana menunggu info selanjutnya,” demikian salah satu pesan masuk dalam grup WA Keuskupan Denpasar, sekitar pukul 09.10. Tidak lama kemudian, ucapan turut berduka dan mendoakan kebahagian Bapak Bone mengalir dari anggota grup lainnya. Pantauan di beberapa grup WA lainnya juga kurang lebih menyampaikan turut dukacita yang sama.
Dibalik sikapnya yang tegas dan disiplin, Bapak Bone Bali Hada merupakan seorang pribadi yang memiliki jiwa sosial yang tinggi dan sangat peduli dengan kesusahan orang lain. Dalam sebuah wawancara penulis menyongsong 50 tahun perkawinan Pasutri Bone Bali Hada dan Atiek Bone di Majalah Agape (edisi Mei 2018), sebuah judul menarik tercatat dengan baik: Kiprah Hidup Menggereja dan Tergerak Hati untuk Menolong Sesama.
Dalam tubuh berita dari judul tersebut, penulis mengutip kata-kata Pak Bone. “Hati saya selalu bergerak untuk menolong sesama. Kalau melihat penderitaan orang lain gampang sekali tergerak untuk menolong, baik orang sakit, maupun orang mati. Untuk orang sakit yang Katolik, saya sering menolong mencari pastor untuk beri minyak suci atau berusaha meringankan beban mereka lainnya. Demikian pula untuk orang meninggal, berusaha hadir dan dulu itu kita sampai mencari papan sekaligus cari orang untuk buat peti mati. Itu saya lakukan tidak mengenal waktu, siang, malam.” Demikian ungkapan langsung Pak Bone yang tercatat dengan baik pada media komunikasi dan informasi Keuskupan Denpasar itu.
Apa yang disampaikan Pak Bone itu, merupakan sebuah cerita yang memang nyata terjadi. Hal ini juga diakui oleh banyak orang, bagaimana Pak Bone begitu cepat menolong orang lain yang membutuhkan uluran tangannya. Beberapa kesaksian tentang kebaikan Pak Bone dan sang istri Ibu Atiek Bone yang lebih dulu dipanggil Tuhan, juga tercata secara rapi dalam sajian utama Perkawinan Emas Pak Bone-Ibu Atiek dalam majalah itu.
Penulis sendiri menyaksikan sendiri bagaimana perhatian dan kepedulian luar biasa pak Bone kepada keluarga-keluaga kurang mampu di beberapa paroki di Keuskupan Denpasar. Ketika dipercaya beberapa tahun menjadi Ketua Komisi PSE Keuskupan Denpasar sejak Mgr. Benyamin Yosef Bria (alm) menjadi Uskup Denpasar, dan masih dipercaya kembali untuk posisi yang sama selama beberapa tahun di zaman Uskup Silvester San, penulis kerapkali ikut dalam rombongan PSE untuk meliput maupun tugas lainnya dalam kegiatan komisi ini.
Tidak sebatas pelayanan di Komisi PSE, Pak Bone bersama isteri Ibu Atiek juga dikenal luas sebagai aktivis Gereja dengan berbagai pelayanan dan aksi sosial yang sungguh membantu banyak orang. Kendati usia semakin menua, tetapi saat masih sehat Pak Bone selalu gesit jika itu menyangkut pelayanan atau menolong orang lain.

Pak Bone lahir di Adonara, Flores Timur, 17 Oktober 1941. Menginjakan kaki pertama kali di pulau Bali tahun 1961 dan sejak itu sudah menjadi aktivis gereja hingga Tuhan memanggilnya kembali. Ketika bertugas sebagai anggota TNI di Singaraja tahun 1963, Pak Bone berjumpa dan jatuh cinta dengan Ibu Maria Yovita Christina Atiek Riptatining, yang saat itu menjadi perawat kesehatan. Perjalanan cinta mereka terawat dengan baik hingga akhirnya menikah pada pada 15 April 1968.
Berita meninggalnya Bapak Bone, tentu menyisakan rasa duka yang mendalam bagi siapapun yang mengenalnya dengan baik. Pensiunan TNI dengan pangkat terakhir Kapten ini, sejak istri tercinta lebih dahulu dipanggil Tuhan pada 20 September 2023 lalu, kondisinya terus menurun, sampai tiba berita pagi ini kalau Pak Bone sudah tutup usia dalam usia 82 tahun dan 3 bulan.
Selamat jalan Bapak Bone Bali Hada, Istirahatlah dalam Damai di Rumah Bapa di Surga! ***




