Kemah Remaja Misioner Dekenat Bali Tengah Resmi Berakhir, Bawa Sukacita dan Kerendahan Hati

JIMBARAN – Kemah Remaja Misioner 2026 Dekenat Bali Tengah, telah berakhir pada Kamis (25/06/2026). Kemah pertama yang diselenggarakan di dekenat ini ditujukan untuk mendampingi remaja Katolik dari tujuh paroki dalam membangkitkan semangat misi pada dirinya kepada Allah, Yesus Kristus, dan Gereja Katolik.
Penutupan Kemah Remaja Misioner 2026 diawali dengan misa perutusan dan penutupan yang dipimpin oleh Vikaris Jenderal (Vikjen) Keuskupan Denpasar, RD. Herman Yoseph Babey, serta diikuti oleh para Romo dari tujuh paroki, Diakon, Frater, panitia penyelenggara, dan peserta kemah. Koor dari peserta kemah Paroki Maria Bunda Segala Bangsa (MBSB)mengiringi misa tersebut.

Dalam homilinya, RD. Babey mengatakan bahwa Tuhan tidak memandang tampilan fisik dari seseorang, tetapi kerendahan hati seseorang itu. Hidup orang tersebut harus mengandalkan kekuatan Allah, serta dengan kesadaran penuh ingin membangun relasi dengan Allah melalui doa dan kehidupan gereja.
Kehadiran teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) atau ponsel tidak dapat menggeser fokus umat beriman untuk beribadah kepada Tuhan. Dalam Kemah Remaja Misioner 2026, ketergantungan terhadap peralatan elektronik tersebut adalah salah satu hal yang hendak diubah oleh anak-anak tersebut.
“Iman kita itu tangguh, ibarat mendirikan rumah di atas dasar batu. Guncangan sebesar apa pun, bahkan gangguan kecerdasan mesin sekali pun, tidak akan melumpuhkan iman kita kalau iman kita dibangun dengan ketangguhan, dengan cara serius dalam berdoa,” ucap RD. Babey.
Setelah misa, Ketua Panitia Kemah Remaja Misioner 2026, Romo Gabriel Madja, SVD, mengucapkan terima kasih kepada panitia yang terlibat dalam perkemahan tersebut. Para remaja terlihat mendapatkan kasih sayang dan pendampingan yang memadai dari para pendamping.

“Semuanya boleh menjadi bagian yang luar biasa dalam kegiatan kemah kita,” ujarnya.
Romo Gabriel juga mengungkap Perkemahan Seribu Anak Sekami dan Remaja se-Regio Nusa Tenggara akan dihelat pada akhir Juni 2027 di Palasari. Dalam menyongsong kegiatan tersebut, diperlukan penguatan dan pendampingan dalam iman agar remaja Katolik mampu mengamalkan ajaran-Nya.
Sementara itu, salah satu peserta Kemah Remaja Misioner 2026, Eka dari Paroki Santo Paulus Kulibul, memberi kesan bahwa sejak hari pertama perkemahan, mereka sudah diajak untuk bersenang-senang sambil belajar mengenai materi yang diberikan oleh para Romo. Tidak lupa dengan pentas seni yang menunjukkan kebolehan paroki masing-masing.
“Saya sangat senang karena bisa bertemu teman-teman baru, dapat pengalaman baru juga. Di pentas seni juga keren-keren, semua Paroki itu keren banget,” kata Eka.

Senada dengan Eka, Elis dari Paroki Santa Teresia Tangeb, mengatakan Kemah Remaja Misioner 2026 merupakan kegiatan yang menyenangkan. Dalam pentas seni, Paroki Santa Teresia Tangeb membawakan kisah mengenai penggunaan teknologi di kalangan remaja.
“Saya senang bisa ketemu teman-teman baru. Kita main-main sama teman baru, barangkali ada 40 teman baru yang saya dapatkan di sini,” imbuhnya.
Tidak hanya dampak positif kepada peserta kemah saja, tetapi juga pembina yang turut serta mendampingi. Misalnya Willy dari Paroki Santo Silvester Pecatu yang berperan sebagai pembina. Kesempatan pada Kemah Remaja Misioner 2026 dipakainya untuk mencoba suasana berkemah.
“Saya mahasiswa perantauan dari Manggarai Tengah yang baru pertama kali mengikuti kegiatan camping, jadi perasaan saya sangat bahagia. Saya bisa bertemu dengan teman-teman yang berbeda daerah,” ungkap Willy.
Menurut Willy, peserta Kemah Remaja Misioner 2026 memiliki kekompakan dan antusiasme yang tinggi. Mereka bahkan mampu membuat sekitarnya merasa nyaman untuk memulai pertemanan dengan mereka. Selain itu, terdapat pelajaran mengenai dampak positif dan negatif dari modernisasi.
“Saya berpesan tetap kompak, tetap rendah hati, dan tetap menjadi keluarga yang luar biasa,” tutupnya.*
Penulis:Sandra-Komsos Mbsb Nusa Dua
Editor: Hiro/KomsosKD



