LINTAS PAROKI

Buka Bulan Rosario: Umat YGYB Diajak “Menjadi Kecil” di Hadapan Allah dan Perkuat Perjumpaan KBG

DENPASAR – Pembukaan Bulan Rosario di Paroki Yesus Gembala Yang Baik (YGYB) Denpasar berlangsung khidmat di Gua Lourdes Mawar Peni (Grotto), Kamis (1/10/2026) malam. Dalam tradisi Gereja Katolik, Oktober didedikasikan sebagai bulan Rosario dan Mei sebagai bulan Maria.

Rangkaian pembukaan diawali dengan doa Rosario, kemudian dilanjutkan dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin Pastor Paroki YGYB Denpasar, RP. Yohanes I Nyoman Madia Adnyana, SVD (Romo Yan), bersama Pastor Rekan, RP. Gregorius Loudowick Lengga Wangge, SVD, serta Diakon Ferin.

Dalam homilinya, Romo Yan mengajak umat untuk menjadikan Bulan Rosario sebagai kesempatan memperbarui hidup melalui pertobatan dan kerendahan hati.

Mengacu pada bacaan Injil Matius 18:1-4, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga,” Romo Yan mengajak umat merenungkan sebuah ungkapan bahwa usia manusia berbanding lurus dengan kualitas dosa yang dilakukan.

Pembukaan Bulan Rosario Paroki Yesua Gembala Yang Baik Denpasar berlangsung khidmat di Gua Maria Lourdes Mawat Peni (Grotto), Kamis 1/10/2026), dipimpin Pastor Paroki RP. Yohanes I Nyoman Madia Adnyana,SVD bersama Pastor Rekan RP. Gregorius Loudowik Lengga Wangge,SVD dan Diakon Ferin

Menurutnya, seiring bertambahnya usia, kesalahan manusia dapat menjadi semakin kompleks dan memiliki dampak yang lebih besar. Karena itu, pertobatan tidak cukup hanya menjadi sebuah pengakuan, tetapi perlu diwujudkan melalui perubahan hidup dan kemauan untuk kembali kepada kehendak Allah.

Romo Yan kemudian mengajak umat melihat teladan dua sosok yang memiliki tempat istimewa dalam kehidupan Gereja, yakni Santa Perawan Maria dan Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus. Keduanya, meski sama-sama manusia, menjadi pribadi yang diagungkan Gereja karena kasih Tuhan serta perjuangan untuk menjaga kemurnian hati dan memilih jalan kerendahan hati dalam menanggapi kehendak Allah.

Perayaan Ekaristi pembukaan Bulan Rosario dihadiri umat Paroki

“Menjadi kecil” bukan berarti tidak memiliki kemampuan atau menjadi rendah dalam arti duniawi. Sebaliknya, menjadi kecil di hadapan Allah berarti memiliki hati yang sederhana, terbuka, percaya, dan berserah pada kehendak-Nya. Karena itu, sepanjang Oktober umat diajak tekun berdoa Rosario sambil menghidupi keutamaan-keutamaan Bunda Maria serta meneladani kesucian Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus dalam kehidupan sehari-hari.

Bulan Oktober yang secara khusus didedikasikan sebagai Bulan Rosario, sekaligus dibuka dengan peringatan Santa Theresia dari Kanak-kanak Yesus, menjadi kesempatan bagi umat untuk kembali belajar “menjadi kecil” di hadapan Allah.

Pastor Akan Kunjungi KBG

Tidak hanya mengajak umat memperdalam kehidupan doa, Bulan Maria di Paroki YGYB Denpasar juga akan diisi dengan perjumpaan langsung para pastor bersama umat di masing-masing Komunitas Basis Gerejani (KBG).

Selama bulan ini, Pastor Paroki dan Pastor Rekan akan turun langsung mengunjungi KBG, merayakan Misa bersama umat serta membuka ruang perjumpaan dan percakapan untuk mendengarkan pengalaman, keluh kesah, sekaligus meneguhkan kehidupan iman umat. Kehadiran para pastor di tengah KBG diharapkan tidak sekadar menjadi kunjungan formal, tetapi menjadi perjumpaan yang menghadirkan sukacita, penguatan dan berkat bagi umat.

Semangat tersebut sejalan dengan tema pastoral Keuskupan Denpasar Tahun 2026, yakni “Bangkit dan Bergerak Bersama Mewujudkan Gereja Sinodal melalui Keluarga, Sekami, OMK dan KBG yang Solid dan Solidaritas.” Melalui pelayanan dan perjumpaan langsung di tengah KBG, semangat Gereja sinodal untuk berjalan bersama, saling mendengarkan dan menguatkan diharapkan semakin nyata dalam kehidupan umat sehari-hari.

Pemberkatan Sacrarium

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, juga dilakukan pemberkatan Sacrarium (Sumur Suci) yang berada di lingkungan Gua Lourdes Mawar Peni. Sacrarium merupakan tempat khusus dalam Gereja Katolik untuk membuang atau menyalurkan benda-benda rohani yang telah diberkati atau dikonsekrasi tetapi sudah rusak dan tidak layak digunakan lagi.

Pemberkatan Sacrarium (Sumur Suci) oleh Pastor Paroki.

Benda-benda yang berkaitan dengan kehidupan liturgi dan telah dikonsekrasi, seperti remah-remah Hosti atau air bekas pembasuhan bejana suci, tidak dibuang ke tempat sampah umum. Demikian pula benda-benda sakramentali yang telah diberkati, seperti Rosario, salib, patung Yesus atau Bunda Maria, serta Kitab Suci yang sudah rusak, perlu diperlakukan dengan penuh hormat.

Pemberkatan Sacrarium tersebut menjadi bagian dari upaya umat untuk menjaga penghormatan terhadap benda-benda suci sekaligus menghidupi iman Katolik dalam hal-hal sederhana dalam kehidupan menggereja. *

Penulis: Karolina Ida, Komsos YGYB
Editor: Hiro/KomsosKD

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button