JOMK Dekenat NTB Berakhir

SUMBAWA – Jumpa Orang Muda Katolik (JOMK) Dekenat NTB, akhirnya tuntas. Saatnya orang muda membawa semangat baru ke parokinya masing-masing, semakin teguh dalam iman dan kepribadian.
Misa penutupan JOMK yang berlangsung di Gereja Sang Penebus Sumbawa Besar, Jumat (27/6) menandakan berakhirnya kegiatan empat hari, 24 – 27 Juni 2025 itu.
Sebelum ditutup, ada beberapa kegiatan menarik yang masih harus dilewati OMK yang datang dari 7 paroki di dekenat ini. Jika pada hari kedua JOMK, Rabu (25/6), mereka seharian penuh berada dalam ruangan aula untuk mendengarkan materi-materi pembinaan, tidak demikian pada hari berikutnya.

Pada Kamis (26/6), kegiatan lebih banyak bersifat rekreatif yang diisi dengan berbagai games menarik di dalam ruangan, dilanjutkan dengan outbond yang kreatif di lapangan sepak bola milik Gereja yang terletak di belakang gereja Sumbawa Besar, di bawah bimbingan Atanasius Rato, Tim Komkep Keuskupan Denpasar dibantu sejumlah panitia.

Malam harinya, OMK dari masing-masing paroki menunjukkan kreativitas di bidang seni dan budaya dalam acara ‘Pentas Seni OMK.’
Hari terakhir, mereka kembali duduk bersila dalam kelompok paroki di aula, untuk berdiskusi Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang dapat mereka lakukan setelah kegiatan ini, terutama menjawabi tema JOMK yaitu membentuk iman yang militant, termasuk karakter pribadi yang tangguh sebagai orang muda kebanggaan Gereja Katolik sekaligus kebanggaan tanah air Indonesia.

Usai menyusun RTL, peserta kemudian memanfaatkan waktu penuh rahmat ini untuk berziarah ke Pintu Suci (Porta Sancta) di Gereja Sang Penebus Sumbawa Besar, yang seminggu lalu baru diberkati oleh Bapak Uskup Denpasar Mgr. Silvester San. Sebelum ziarah, mereka mengikuti Ibadat Tobat yang dipimpin Fr. Edo (Frater TOP Paroki Mataram) dan pengakuan dosa secara privat yang dilayani 6 orang imam.
Ketika semua peserta sudah melewati Pintu Suci dan berada dalam gereja, langsung diakhiri dengan Misa, sekaligus Misa Penutupan JOMK.

Misa dipimpin oleh Deken NTB, RD. Martinus Emanuel Ano, didampingi sejumlah imam lainnya yaitu RD. Eligius Wahyu Pawarta (Pastor Paroki Dompu), RD. Agustinus Wayan Yulianto (Pastor Paroki Bima), RD. Danan Pamungkas (Ketua Umum Panitia/Pastor Rekan Paroki Donggo), serta RD. Laurensius Maryono dan RD. Hyoga (Pastor Paroki dan Pastor Rekan Paroki Sumbawa Besar).
Deken NTB, sebelum berkat perutusan di penghujung misa berpesan supaya rencana tindak lanjut (RTL) yang telah dibuat, pulang dari JOMK ini segerap melapor kepada Seksi Kepemudaan dan dengan dukungan Pastor Paroki dan DPP melaksanakannya di paroki masing-masing.

Ada dua sapaan kasih sebelum berkat, antara lain Ketua Panitia Lokal Winda Pati dan Pastor Paroki Sumbawa selaku tuan rumah. Winda dalam laporannya, menyebutkan secara keseluruhan peserta JOMK yang terdiri dari OMK dan Pendamping berjumlah 183 orang, belum termasuk panitia.
“Semoga dengan kegiatan ini kita mampu menjadi OMK yang beriman tangguh di tengah tantangan zaman. Dengan perpisahan hari ini, jangan menjadi putus persaudaraan dalam iman di antara kita, hanya karena jarak yang memisahkan,” katanya dengan penuh haru dan menahan air mata.
Winda juga tidak lupa menyampaikan terima kasih atas berbagai dukungan para pihak, serta memohon maaf atas segala kekurangan yang terjadi.
Sementara itu, Pastor Paroki Sang Penebus Sumbawa Besar RD. Laurensius Maryono, mengaku plong ketika JOMK berakhir.
“Sejak akhir Minggu lalu sampai hari ini kegiatan di paroki kami sangat padat. Ada Komuni Pertama, pelantikan DPP-DKP dan Prodiakon serta pemberkatan Pintu Suci pada hari Minggu, hari Seni ada visitasi Kanonik lalu langut Selasa sampai Jumat kegiatan JOMK. Tapi bersykur kepada Tuhan semuanya berjalan dengan baik,” katanya sambil mengungkapkan terima kasih kepada berbagai pihak.
Kesan Menyenangkan
Baik panitia maupun peserta memiliki kesan yang sama bahwa kegiatan ini menyenangkan dan banyak pengalaman selama empat hari JOMK yang bermaanfaat dalam meneguhkan iman dan keperibadian mereka.
Lega! Satu kata ini diungkapkan Winda Pati, Ketua Panitia Lokal sekaligus OMK Paroki Sumbawa Besar. Ini menggambarkan perasaannya yang campur aduk mulai dari persiapan hingga JOMK tuntas.

Ketika ditanyakan suka-dukanya mengoordinir kepanitiaan, Winda memulai cerita tentang kesulitan yang dialaminya.
“Paling sulit itu ngumpulin panitia, rapat tidak pernah lengkap, lalu banyak juga perkerjaan yang diambil alih,” kata Winda sebelum misa penutupan.
Namun pengalaman tersebut menjadi menyenangkan bagi Winda, sebab secara tidak langsung dia menjadi tahu karakter teman-temannya, saling belajar dan berbagi antara teman, serta belajar banyak hal dari pengalaman kegiatan ini.
“Ini surprise bagi saya pribadi, ternyata kegiatan ini bisa sukses, kegiatannya lancar, meskipun banyak perubahan di tengah jalan. Puji Tuhan semua bisa dilewati dengan baik,” imbuhnya.
Winda menaruh harapan besar, agar pasca JOMK ini lebih banyak lagi orang muda yang aktif dalam OMK, aktif dalam kegiatan apapun dalam Gereja. Lalu mereka yang selama ini tidak aktif, kiranya memiliki semangat untuk bergabung di OMK. Dia juga berpesan, agar OMK di paroki sering kumpul, berdoa bersama serta aktif dalam berbagai kegiatan.
Seorang peserta berasal dari Paroki St. Antonius Ampenan, Valentino, memiliki kesan sangat positif mengikuti kegiatan ini. “Kesan saya senang bisa berbaur dengan teman-teman dari paroki lain dan dapat teman baru.
Lewat JOMK ini juga Valentino mengaku mendapat pangalaman yang menarik, bisa belajar banyak hal-hal baru yang bisa menjadi inspirasi untuk acara-acara OMK di paroki, seperti games dan outbod.
Materi-materi pembinaan dalam JOMK ini pun baginya sangat bermanfaat. “Walau saat mengikuti sesi materi ada rasa capek, ngantuk juga, tetapi tetap berusaha mendengarkan materi, karena bagi saya materinya sangat bermanfaat,” katanya.

Harapan Valentino adalah OMK bisa lebih aktif lagi dalam komunitas Gereja, baik di OMK maupun di Lingkungannya.
Kesan serupa dialami peserta lainnya Maria Ayu Kurnia dari Paroki St. Yusuf Bima. “Senang bisa mengenal teman dari paroki lain. Kegiatannya menyenangkan,” katanya.
Terkait materi pembinaan, menurut Maria Ayu, dirinya bisa belajar dan memahami banyak hal tentang Gereja Katolik, tentang situasi orang muda, kehidupan keluarga maupun kehidupan dalam biara.
“Dari cerita para suster dan dari keluarga pak Ukky dan sharing dari anak-anaknya lewat video pada sesi terkahir hari kedua, ternyata setiap panggilan punya jalannya masing-masing,” kata Ayu.
Bagi Ayu, saat mendengarkan materi pembinaan seharian penuh tidak membosankan, walau dilanda rasa lelah, tapi peserta tidak hanya duduk mendengarkan, juga disuruh berdiri, bergerak, diselingi games, diskusi bahkan joget-joget.
Harapannya untuk orang muda, agar iman selalu kuat dan tangguh serta jangan mudah tergoda oleh apapun untuk meninggalkan Katolik. *
Hironimus Adil



