Peringatan 40 Hari Berpulangnya Julius Pramadigta

ABIANSBASE – Waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa, sahabat kami, Julius I Wayan Pramadigta, sudah 40 hari meninggalkan keluarga, para sahabat dan kami rekan kerjanya.
Kendati perasaan kehilangan masih melekat, namun seperti kata pepatah ‘hidup harus jalan terus.’ Dan doa-doa pun terus melangit, tak terputus diujudkan untuk kedamaian dan kebahagiaan Julius di alam sana.
Peringatan 40 hari rekan kerja kami ini dipanggil Tuhan, berlangsung dalam perayaan Ekaristi pada Jumat (6/3/2026), di Gereja Stasi Kristus Raja Abianbase, Paroki Theresia Tangeb tempat asal Yulius.

Misa ini dipimpin oleh Vikjen sekaligus Direktur Keuskupan Denpasar, RD. Herman Yoseph Babey, didampingi tiga imam lainnya yaitu, RP. Alex Dato, SVD (Pastor Paroki Tangeb), RD. Agustinus Sugiyarto (Sekretaris Keuskupan Denpasar) dan RD. Yohanes Kadek Arianan (teman sekolahnya Julius yang kini menjadi Ketua BPK Yayasan Insan Mandiri).
Sebagai selebrant utama, dalam homilinya Rm. Babey, kembali mengingatkan sosok Julius sebagai seorang yang sederhana dan penuh ketulusan serta kerap kerja dalam sunyi.

“Kesederhanaan dan ketulusan serta kerja dalam kesunyian adalah pribadi Julius. Dia tidak pernah mengharapkan pujian atau tepuk tangan orang, tetapi Tuhan tahu apa yang dilakukannya dan itu paling berharga di mata Tuhan,” kata Rm. Babey.
Romo Babey juga mengungkapkan soal perasaan yang berbeda antara 40 hari lalu dengan yang terlihat pada hari peringatan itu.
“Hari ini perasaan kita sudah berbeda, kita sudah lebih menerima kepergian Julius ke pangkuan Tuhan, dibanding 40 hari lalu yang sesak dengan air mata, bahkan ada perasaan marah karena kita belum siap dengan kepergiannya yang begitu cepat meninggalkan kita,” kata Rm. Babey.

Lewat homili Vikjen, sebagai manusia kita semakin sadar bahwa rancangan Tuhan berbeda dengan rancangan manusia. Apa yang dipikirkan manusia berbeda dengan kehendak Allah sendiri. Tuhan punya otoritas mutlak, kapan saja dan dengan cara apa saja Dia bisa memanggil kembali ciptaan-Nya tanpa kompromi dengan perasaan manusia. Dan sebagai orang beriman, kita hanya bisa berpasrah dan menerima kehendak Tuhan itu dengan penuh iman.
Peringatan 40 hari meninggalnya Julius, dihadiri oleh keluarga antara lain istri, anak-anaknya, ayahanda serta saudara-saudari kandung serta keluarga besar lainnya, rekan kerja dari Keuskupan Denpasar, umat Stasi Abianbase dan para sahabat Julius lainnya.

Di penghujung misa, ada ucapan terima kasih dari Katua Stasi Abianbase, kepada para imam yang telah memimpin misa peringatan itu, keluarga besar Julius, warga Stasi Abianbase, keluarga besar Keuskupan Denpasar dan para sahabat yang hadir sambil terus mengajak untuk terus mendoakan kebahagiaan salah satu umat stasinya itu.

Julius lahir pada 12 Juli 1976 di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, dan meninggal dunia di RSUD Mangusada, Kapal-Bali, 26 Januari 2026.
Julius diterima kerja di Puspas Keuskupan Denpasar sejak awal tahun 2000-an hingga meninggal dunia karena sakit.

Jul, sudah 40 hari kita berpisah kawan. Nikmati hidup barumu disana, seperti moto hidupmu “di sini senang, di sana senang.” Doa kami, semoga di Surga sana engkau sudah senang dalam damai dan kebahagiaan kekal bersama para kudus. *
Hironimus Adil



