Vikjen: Merusak Alam Berarti Merusak Karya Allah, Perlu Pertobatan Ekologis

SUMBAWA BESAR – Ketika tampil pada sesi pertama dalam giat ‘Literasi Adaptasi Perubahan Iklim’ di Sumbawa Besar, Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey, menyadarkan peserta bahwa lingkungan merupakan “rumah kita bersama” yang wajib untuk dirawat secara bersama pula.
“Rumah kita sedang mengalami perubahan iklim. Tiba-tiba panas, tiba-tiba hujan lebat dan pola serta waktunya tidak bisa dipredikisi. Juga terjadi pecemaran udara, air dan tanah. Kerusakan lingkungan karena ulah manusia, seperti penebangan pohon secara serampangan, sampah plastik di mana-mana, polusi, dan sebagainya,” kata Rm. Babey dengan judul materi: Panggilan Gereja dalam Mewujudkan Keutuhan Ciptaan.
Literasi Adaptasi Perubahan Iklim diselenggarakan oleh Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKP-PMP) Keuskupan Denpasar selama dua hari 12 – 13 Septermber di Paroki Sang Penebus Sumbawa Besar.
Vikjen menegaskan bahwa merusak alam berarti merusak karya Allah atau merusak keutuhan ciptaan. Karena itu Gereja hari ini mengajak tidak hanya bicara hal teknis, tetapi harus ada upaya nyata dengan melakukan ‘pertobatan ekologis.’
Pertobatan ekologis itu dengan mengubah pola pikir dan prilaku, dari kebiasaan mengambil sebanyak-banyak dari alam tanpa upaya pemulihan, menjadi ke prilaku mengambil sesuai kebutuhan disertai upaya merawat bumi misalnya dari hal-hal sederhana seperti penanaman pohon di paroki atau sekitar pekarangan rumah, penghematan air dan listrik , edukasi ekologis, dan sebagainya.

“Kita ini hanya penjaga, bukan pemilik penciptaan Allah. Maka tidak boleh merusak apalagi menghancurkan alam. Allah menitipkan alam ini kepada manusia untuk merawat dan menjaganya. Dan Gereja Katolik harus jadi contoh, mulai dari lingkungan gereja yang bersih dan tidak merusak lingkungan,” tegas Rm. Babey.
Narasumber berikutnya adalah Ketua Komisi PSE Keuskupan Denpasar, RD. Evensius Dewantoro. Menurut Rm. Venus, demikian biasa disapa, ancaman kerusakan lingkungan yang nyata terjadi saat ini di NTB antara lain alih fungsi lahan dan hutan, seperti meluasnya ladang jagung dan galian pertambangan, penggunaan pupuk dan pestisida kimia juga masalah sampah terutama sampah plastik, dan sebagainya.
Ditegaskan kembali oleh Rm. Venus, dalam ensilik Laudato Si dan Laudato Deum, Paus Fransiskus mengingatkan bahwa bumi tempat tinggal kita, selain merupakan rumah kita bersama, juga bumi sebagai ibu dan saudari kerena itu wajib dirawat dan diperlakukan dengan baik. Oleh sebab itu, ajakan pertobatan ekologis sungguh digaungkan dalam ensiklik tersebut, tidak hanya ditujukan kepada umat Katolik tetapi seluruh umat manusia di muka bumi.

Romo Venus menyarankan agar Pendidikan ekologis harus dimulai dari diri sendiri, keluarga, KBG, Lingkungan dan masyarat umum. “Dalam gerakan menyelamatkan lingkungan tidak hanya bergerak sendiri tetapi menjadi gerakan bersama yang lain, sehingga menjadi kesadaran bersama,” imbuhnya.
Sementara itu, Ketua KKP-PMP Keuskupan Denpasar, Yusdi Diaz, dalam kesempatan berikutnya menegaskan bahwa salah satu fungsi dan peran KKP-PMP adalah menjadi promotor sekaligus aktor pastoral ekologis untuk menyebar luaskan edukasi terhadap adaptasi dan mitigas perubahan iklim.
“Kita diajak untuk mengenali, memahami dan menyadari dampak perubahan iklim sehingga mampu beradaptasi dan memitigasinya,” kata Yusdi.

Di samping itu, Yusdi juga berharap agar Seksi KP-PMP dalam memainkan peran dan fungsinya, selain bekarja mandiri juga berkoordinasi dan berkolaborasi dengan tingkat dekenat dan keuskupan serta berjejaring di luar lingkup gereja.
Yusdi menerangkan bahwa ruang gerak KKP-PMP antara lain melakukan animasi-edukasi, advokasi, gerakan aktif tanpa kekerasan dan merawat keutuhan ciptaan. Komisi ini juga melayani pastoral migran perantau dengan fokus advokasi TPPO dan persoalan migran perantau lainnya.
Untuk pendalaman materi peserta diberi kesempatan untuk diskusi kelompok. Dari rangkuman hasil diskusi, peserta sungguh menyadari bahwa dampak perubahan iklim saat ini sangat nyata, antara lain cuaca panas, kekeringan, curah hujan ekstrim, bencana banjir, kekuarangan air bersih serta masalah lingkungan lainnya seperti kerusakan tanah akibat pupuk dan pestisida kimia, persoalan sampah, dan sebagainya.

Sebelum penutupan para peserta juga membuat Rencana Tindak Lanjut (RTL) berdasarkan paroki masing-masing pada hari kedua. Secara umum mereka merencanakan untuk melakukan edukasi dan sosialiasi perubahan iklim dan dampak-dampaknya mulai dari keluarga, KBG, Lingkungan, Paroki dan dengan masyarakat umum dengan membangun jejaring.
Tindakan nyata lainnya yang akan dilakukan sebagai adaptasi dan mitigasi di antaranya melakukan reboisasi, penanaman pohon mulai dari lingkungan gereja, penanaman mangrove, pengurangan sampah plastik, pemilahan sampah organik dan non organik dengan membuat/menyediakan tong sampah di keluarga dan lingkungan gereja, membuat tempat penampungan air, dan sebagainnya.

Pastor Paroki Sang Penebus Sumbawa Besar RD. Laurensius Maryono, menutup seluruh rangkaian kegiatan ini pada Minggu (13/9) siang. Rm. Maryono berpesan kepada peserta supaya RTL yang sudah dibuat, sungguh-sungguh ditindaklanjuti. Dan untuk penghijaun, misalnya, Rm. Maryono menyarankan agar memanfaatkan tanah-tanah milik gereja yang masih ‘tidur’ termasuk di Paroki Sumbawa Besar di mana cukup banyak tanah milik gereja yang perlu dihijaukan *
Hironimus Adil



