Usung Semangat Kearifal Lokal Bali ‘Tri Hita Karana
Peserta Rakornas WKRI Bangun Relasi Harmonis dengan Pencipta, Alam dan Sesama

KUTA, BALI – Tidak sebatas teori atau hanya wacana, Wanita Katolik RI (WKRI) benar-benar mewujudkan relasi yang harmonis dengan pencipta, alam dan sesama manusia, sebagai perwujudan semangat Tri Hita Karana.
Tri Hita Karana merupakan konsep kearifan lokal Bali, yang mengusung semangat membangun hubungan harmonis manusia dengan Tuhan (Pencipta), manusia dengan alam (lingkungan) dan manusia dengan manusia.
Semangat tersebut diimpelementasikan oleh Wanita Katolik RI dengan mengajak seluruh peserta Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) WKRI melakukan penanaman mangrove di sekitar daerah Benoa sebagai wujud relasi dengan alam.

Dari Benoa mereka menuju Gereja Roh Kudus Katedral Denpasar untuk menimba spiritualitas dari sang Pencipta dengan melakukan Perayaan Ekaristi bersama sebagai wujud relasi dengan pencipta. Selanjutnya, bergerak lagi ke selatan mengunjungi Puja Mandala Nusa Dua untuk melihat dari dekat lima rumah ibadah yang berdiri berdampingan di tempat itu, serta membangun dialog dengan paguyuban lintas agama di sana (relasi antara sesama manusia).

Tiga kegiatan outing itu dilaksanakan pada Sabtu (5/9) pekan lalu, mulai pagi hingga petang. Sebagai informasi, DPP Wanita Katolik Republik Indonesia, menggelar Rakornas yang berpusat di Hotel Kuta Beach Club, Kuta, Badung selama 4 hari, 3 – 6 September 2026, dihadiri oleh 117 peserta, terdiri dari DPP, 36 DPD, dan Panitia.
Saat berkunjung ke Puja Mandala yang merupakan tempat berdirinya lima rumah ibadah dari lima agama di Indonesia (Islam, Katolik, Budha, Protestan dan Hindu), para peserta diterima di aula Paroki Maria Bunda Segala Bangsa Nusa Dua. Mereka disambut oleh WKRI Cabang Nusa Dua selaku tuan rumah. Sebagai catatan, rumah ibadah agama konghucu tidak ada karena saat berdirinya tempat itu, agama konghucu belum diakui sebagai agama resmi di Indonesia.
Saat tiba di aula gereja Nusa Dua, sudah menunggu para pengurus Paguyuban antara Agama yang terdiri dari tokoh lintas agama. Di antaranya Pastor Paroki Nusa Dua, RD. Adianto Paulus Harun dan Ketua Paguyuban antar Umat Beragama Puja Mandala, Wayan Solo.
Di tempat itu, para peserta mendengarkan paparan tentang sejarah pendirian rumah ibadah dan keharmonisan hubungan antara umat beragama yang tercipta di Kawasan itu dari Ketua Paguyuban Antar Agama Puja Mandala, Wayan Solo, dimoderatori Elizabeth Natalia Prawitasari, salah seorang pengurus DPP WKRI.

Dalam pengantar dialog, Elizabeth Natalia Prawitasari, mengungkapkan kunjungan itu merupakan bagian dari rangkaian Rakornas WKRI yang berlangsung di Bali dan kegiatan outing ini diilhami oleh semangat kearifan lokal Bali ‘Tri Hita Karana’. Dia menjelaskan di hadapan pengurus Paguyuban, bahwa WKRI adalah salah satu Ormas dengan spirit perjuangan Ajaran Sosial Gereja (ASG) yang mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan, keadilan dan perdamaian.
Dialog bersama Bapak Wayan Solo, mewakili Paguyuban, berlangsung dalam suasana rileks dan penuh persaudaraan, apalagi diselingi dengan goyunan-goyunan menarik, membuat situasi sangat cair dan penuh tawa tapi tetap berisi.
Namun sebelum dialog berlangsung, didahului sapaan kasih dari Pastor Paroki Nusa Dua RD. Adianto Paulus Harun, selaku tuan rumah. Secara sekilas Romo Adi menceritakan tentang keadaan parokinya secara garis besar dan bagaimana kerukunan antara umat beragama sangat terjaga di tempat itu.
Sementara itu, Wayan Solo, mengawali ceritanya dengan mengucapkan salam harmonis dan mengajak peserta untuk menjawab ‘damai bersama’. Wayan Solo mengawali ceritanya bahwa tanah kawasan Puja Mandala disiapkan oleh BTDC (Bali Tourism Development Corpration) (sekarang ITDC).

“Terbangunnya kompleks ini lahir dari pemikiran cemerlang pengelola BTDC, sebagai symbol kerukunan dan keharmonisan antara umat beragama di Bali. Keharmonisan ini penting bagi Bali sebagai pusat pariwisata, apalagi Nusa Dua merupakan salah satu destinasi pariwisata internasional andalan,” kata Wayan Solo.
Terbangunnya lima rumah ibadah dari lima agama di Puja Mandala, lanjutnya, sebagai symbol kerukunan dan perdamaian lintas agama, dan terbukti relasi antar umat beragama berlangsung harmonis.
Salah salah contoh konkret keharmonisan di Puja Mandala, kisah Wayan Solo, jika Natal atau hari raya lain di Gereja Katolik, maka baseman Masjid Agung yang langsung bersebelahan dengan gereja, diijinkan untuk tempat parkir kendaraan umat Katolik.
Ketika ada peserta yang bertanya, apakah ada pengalaman isu intoleransi terjadi di Kawasan itu, dengan tegas Wayan Solo, mengatakan “Di sini tidak pernah ada isu intoleransi.”

Dalam kesempatan yang sama beberapa DPD juga membagi cerita tentang kerukunan di daerahnya, antara lain dari DPD NTT yang kebetulan pengurus WKRI yang hadir dari daerah itu adalah Ketua FKUB Provinsi NTT dan satu-satunya perempuan yang menjadi Ketua FKUB Provinsi. Juga berbagi cerita tentang kerukunan oleh Penasehat Rohani DPD WKRI Kepulauan Riau di Batam.
Dialog berlangsung kurang lebih satu jam dan diakhiri dengan foto-foto bersama. Selepas itu, para peserta Rakornas melanjutkan aktivitasnya dan kembali ke tempat kegiatan. Rakornas ditutup pada Minggu (6/9/2026). *
Hironimus Adil



