LINTAS PERISTIWA

Safrisius Jemeon Terpilih Sebagai Mandataris RUAC PMKRI Mataram, Soroti Ketimpangan Sosial dan Persoalan Kota Mataram

MATARAM – Safrisius Jemeon terpilih sebagai Mandataris Rapat Umum Anggota Cabang (RUAC) XXXVII Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Mataram periode 2026–2027. RUAC XXXVII PMKRI Cabang Mataram berlangsung pada 2–5 September 2026.

Terpilihnya Safrisius menjadi momentum baru bagi PMKRI Cabang Mataram untuk memperkuat kaderisasi sekaligus menegaskan kembali peran organisasi mahasiswa dalam membaca dan merespons berbagai persoalan sosial yang terjadi di tengah masyarakat.

Dalam sambutannya setelah terpilih, Safrisius menegaskan bahwa kepemimpinan PMKRI tidak boleh berhenti pada persoalan internal organisasi. Menurutnya, kepemimpinan kader harus berangkat dari realitas masyarakat dan memiliki keberanian untuk melihat berbagai persoalan secara kritis.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian adalah kemiskinan, pengangguran, dan ketimpangan sosial di Kota Mataram. Data Pemerintah Kota Mataram yang bersumber dari BPS menunjukkan bahwa pada 2025 ekonomi Kota Mataram tumbuh 5,43 persen, sementara Indeks Pembangunan Manusia (IPM) mencapai 82,37 poin dan masuk kategori sangat tinggi. Pada tahun yang sama, persentase penduduk miskin berada pada angka 7,15 persen, atau sekitar 39,82 ribu jiwa.

Angka kemiskinan tersebut memang menunjukkan perkembangan positif karena turun dari 8,00 persen pada 2024. Jumlah penduduk miskin juga turun dari 43,74 ribu jiwa menjadi 39,82 ribu jiwa. Namun, bagi Safrisius, penurunan tersebut tidak berarti persoalan kemiskinan selesai. Ia menilai masih adanya puluhan ribu masyarakat yang berada dalam kategori miskin harus menjadi perhatian bersama, terutama bagi kaum muda dan organisasi mahasiswa.

“Pertumbuhan ekonomi dan peningkatan IPM tentu merupakan capaian yang patut diapresiasi. Tetapi kita juga perlu bertanya, apakah pertumbuhan tersebut sudah dirasakan secara adil oleh seluruh masyarakat? Apakah masih ada kelompok masyarakat yang tertinggal?” demikian pokok perhatian Safrisius dalam sambutannya.

Selain kemiskinan, persoalan ketenagakerjaan juga menjadi tantangan. Data 2025 menunjukkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) Kota Mataram sebesar 4,80 persen, sedangkan Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) berada pada angka 70,87 persen. Pemerintah Kota Mataram menyebut ketidaksesuaian antara kompetensi tenaga kerja dengan kebutuhan dunia usaha sebagai salah satu tantangan utama ketenagakerjaan.

Persoalan tersebut menjadi semakin penting ketika dikaitkan dengan masa depan generasi muda. Menurut Safrisius, kaum muda tidak cukup hanya dipersiapkan untuk menjadi pencari kerja, tetapi juga harus didorong menjadi kelompok yang mampu menciptakan peluang, membangun inovasi, dan menawarkan solusi atas persoalan masyarakat.

Di sisi lain, persoalan pemerataan juga perlu mendapat perhatian. Data PINTAR Kota Mataram menunjukkan Rasio Gini sebesar 0,393 pada 2024, turun 0,019 poin dari tahun sebelumnya. Rasio Gini merupakan salah satu indikator yang digunakan untuk melihat ketimpangan distribusi pengeluaran masyarakat. Bagi PMKRI, berbagai data tersebut bukan sekadar angka statistik. Data harus menjadi pintu masuk untuk memahami realitas sosial secara lebih mendalam.

Ketua terpilih Safrisius Jemeon

Safrisius menegaskan bahwa kader PMKRI harus mampu membangun tradisi intelektual yang kuat: membaca data, memahami persoalan, berdialog dengan masyarakat, mengkritisi kebijakan, sekaligus menawarkan gagasan yang dapat menjadi bagian dari solusi.

“PMKRI tidak boleh hanya menjadi penonton terhadap persoalan sosial. Kita harus hadir, membaca persoalan secara kritis, membangun gagasan, dan ikut mencari jalan keluar. Keberpihakan kepada masyarakat harus diwujudkan dalam kerja nyata,” tegasnya.

Menurutnya, tantangan Kota Mataram tidak hanya berkaitan dengan kemiskinan dan pengangguran. Persoalan akses pendidikan, kesempatan kerja bagi kaum muda, ketimpangan sosial, pemberdayaan masyarakat, perkembangan kota, lingkungan, serta berbagai persoalan sosial perkotaan lainnya juga membutuhkan perhatian dan keterlibatan generasi muda.

Karena itu, PMKRI Cabang Mataram dituntut melahirkan kader yang tidak hanya kuat secara organisatoris, tetapi juga memiliki integritas, kepekaan sosial, kemampuan berpikir kritis, keberanian bersuara, dan kemampuan menghadirkan solusi.

Semangat tersebut sejalan dengan tema RUAC XXXVII, yakni “Melahirkan Kepemimpinan Visioner, Solutif, dan Inovatif Menuju PMKRI Berdaya Saing.” Tema ini, kata Safrisius, harus diterjemahkan dalam kerja nyata. Kepemimpinan visioner berarti mampu melihat tantangan masa depan. Kepemimpinan solutif berarti tidak berhenti pada kritik, tetapi mampu menawarkan jalan keluar. Sementara kepemimpinan inovatif berarti berani mencari cara-cara baru dalam menjawab persoalan.

Dengan demikian, kepemimpinan PMKRI periode 2026–2027 diharapkan tidak hanya menghasilkan program kerja, tetapi juga melahirkan gerakan yang memiliki dampak bagi masyarakat.

Terpilihnya Safrisius Jemeon sebagai Mandataris RUAC XXXVII menjadi awal bagi tanggung jawab baru untuk membawa PMKRI Cabang Mataram semakin dekat dengan realitas masyarakat.

Di tengah capaian pembangunan Kota Mataram yang terus menunjukkan perkembangan positif, masih terdapat pekerjaan rumah yang membutuhkan perhatian bersama. Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,43 persen dan IPM 82,37 merupakan capaian penting, tetapi keberhasilan pembangunan pada akhirnya juga harus diukur dari seberapa jauh masyarakat dapat merasakan manfaat pembangunan tersebut secara adil dan berkelanjutan.

Dari titik itulah PMKRI Mataram hendak menegaskan perannya: menjadi ruang kaderisasi yang melahirkan pemimpin muda berintegritas, kritis terhadap ketimpangan, peka terhadap persoalan masyarakat, serta berani menawarkan solusi bagi masa depan Kota Mataram. *

Penulis: Theo Nurak
Editor: Hiro/KomsosKD

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button