HUT ke 65 Bapak Uskup Denpasar, Usia Penuh Berkat

DENPASAR – Bapak Uskup Denpasar Mgr. DR. Silvester San, memasuki usia 65 tahun. Sebagai ungkapan syukur diadakan perayaan Ekaristi di Kapel Keuskupan Denpasar, dilanjutkan resepsi sederhana di Catholic Center, tepat di hari bahagia sang Gembala, Jumat, 14 Agustus 2026.
‘Usia penuh berkat,’ demikian tag line yang diusung panitia kecil perayaan HUT Bapak Uskup. Perutusan Mgr. San menjadi Uskup Denpasar, sudah menjadi berkat bagi seluruh umat Keuskupan Denpasar, dan mencapai usia sejauh ini adalah berkat berlimpah bagi yubilaris.
Mgr. San, lahir di Mauponggo, Nagekeo, NTT, 14 Agustus 1961. Sudah lebih dari 17 tahun dipercayakan menjadi Uskup Denpasar. Tahbisan Uskup dilaksanakan di Gereja Roh Kudus Katedral Denpasar 19 Februari 2009.
Perayaan Ekaristi syukur dilangsungkan di Kapel Keuskupan Denpasar, berbarengan dengan misa harian, Jumat (14/8) pagi. Usai misa, Sebagian umat yang hadir ikut sarapan bersama di ruangan makan keuskupan yang didahului seremonial kecil pemotong kue ulang tahun. Sedangkan sebagian lainnya langsung pulang, ada yang terus berangkat kerja.

Misa syukur dipimpin sendiri oleh Bapak Uskup, didampingi RD. Yohanes Kadek Ariana. Di sela-sela homilinya, Bapak Uskup mengungkapkan syukur kepada Tuhan atas anugerahNya serta rahmat Kesehatan yang senantiasa dilimpahkan Tuhan kepadanya.
“Syukur kepada Tuhan atas anugerahNya kepada saya, dan semoga Tuhan memberkati hidup saya selanjutnya untuk melayani umat di keuskupan ini,” ungkap Bapak Uskup.
Homili Bapak Uskup, dalam perayaan ini adalah tentang kesetiaan. Terinspirasi oleh bacaan Injil hari itu yang menegaskan tentang kesetiaan suami istri dalam perkawinan mereka (bdk. Mat. 19:3-12).

Bapak Uskup mengatakan, kesetiaan tidak hanya dalam hubungan suami istri, tapi juga untuk kehidupan lainnya, termasuk kehidupan selibat. “Kaum selibat (termasuk Bapak Uskup sendiri-red.), juga dituntut untuk setia pada panggilannya.
Hal penting lain dari homili Bapak Uskup dalam perayaan syukur itu adalah tentang pengorbanan sebagaimana dilakukan Maximilianus Maria Kolbe, seorang imam Fransiskan Konventual dari Polandia, yang oleh Gereja setiap 14 Agustus diperingati sebagai Pesta wajib untuk mengenangnya. Dalam sejarah hidupnya, St. Maximilianus menyerahkan dirinya secara sukarela untuk dieksekusi oleh rezim Nazi, guna menggantikan atau menyelamatkan seorang tahanan yang sudah berumah tangga dan akan dihukum mati.
“Maximilianus Kolbe yang setia hidup selibat, mau mengorbankan dirinya untuk menggantikan orang lain yang sudah berumah tangga. Dia berpikir, orang itu masih punya tanggung jawab untuk istri dan anaknya dibandingkan dirinya yang hidup selibat, sehingga dia rela mengorbankan nyawanya demi membebaskan orang itu,” kata Bapak Uskup.
Wabah Masa Kecil Hampir Merenggut Nyawa
Acara syukuran hari itu berlanjut dengan acara sederhana di Catholik Center, dihadiri sejumlah imam, diakon, biarawan-biarawati, serta undangan terbatas lainnya. Tidak ada acara istimewa, hanya diisi beberapa sapaan kasih, pemotongan kue ulang tahun, menyaksikan video ucapan selamat dari sejumlah Bapak Uskup dan sejumlah imam yang tidak bisa hadir dan jamuan makan siang.

Ketika yubilaris didaulat untuk menyampaikan sapaan kasih, Bapak Uskup mengenang kembali masa kecilnya. Dikisahkan, saat usianya masih kecil, mama Katharina, ibunda Bapak Uskup yang kini sudah meninggal dunia, menceritakan kalau saat kecil nyawa Mgr. San hampir terenggut. Kala itu, ada wabah kolera di daerah asalnya di Maupanggo, dan hampir semua anak seusianya terjangkit wabah itu, tak terkecuali Mgr. San, kecil. Banyak di antara sahabat kecilnya itu yang tidak tertolong dan meninggal dunia.
Parahnya tidak ada obat untuk menyembuhkan penyakit itu di kampungnya, juga tidak ada transportasi yang bisa membawanya ke kota untuk berobat. Sebagai orang tua, Mama Katharina (alm) dan Bapak Roben (alm), hampir putus asa.

Tapi bersyukur saat wabah itu sedang ganasnya, tiba-tiba ada sebuah mobil jeep dari Ende datang di kampung mereka, yang saat itu jarang ada karena kondisi jalan yang sulit. Sebagai seorang ibu, mama Katharina langsung mendekati pemilik mobil dan bertanya apakah masih ada satu tempat di dalam mobil itu agar mama bisa membawa anaknya berobat di Ende, dan ternyata memang masih ada satu tempat kosong.
Singkat cerita, dengan jeep itu mama membawa buahnya hatinya ke Ende, dan setibanya di sana langsung ke sebuah toko China. Dari toko itu diberikan sebuah pil yang sangat kecil, dan setelah menelan satu butir, kolera yang dialami sang anak yang kini jadi Uskup Denpasar itu, langsung berhenti dan selamatlah jiwanya. “Ini adalah mukjizat Tuhan, dan mama sudah berjuang keras untuk menyelamatkan jiwa saya,” cerita Bapak Uskup.
Mengenang peristiwa itu, Bapak Uskup sangat bersyukur kepada Tuhan atas anugerah kehidupan, kekuatan yang diberikanNya. Kepada seluruh hadirin, Bapak Uskup menyampaikan terima kasih atas kehadirannya para Romo, suster, keluarga dan undangan lainnya, juga kepada seluruh umat yang senantiasa mendoakannya sehingga tetap kuat dalam menggembalakan umat di Keuskupan Denpasar ini.

Selaku penyelenggara acara, Ekonom/Sekretaris Keuskupan Denpasar RD. Agustinus Sugiyarto mengungkapkan bersyukur kepada Tuhan atas usia baru bagi Bapak Uskup. “Hari ini kita bersukacita bersama Bapak Uskup. Ulang tahun ke 65 ini adalah berkat bagi kita umat Keuskupan Denpasar,” kata Rm. Agus.

Romo Agus mengajak seluruh hadirin dan umat Kuskupan Denpasar untuk terus mendukung dan mendoakan Bapak Uskup di hari-hari selanjutnya agar tetap sehat dan kuat sehingga tetap melayani umat dengan baik dan menjalankan karya kegembalaan yang tidak mudah.
Sementara Ketua Unio Keuskupan Denpasar, RD. Adianto Paulus Harun, atas nama rekan imam mengucapkan selamat ulang tahun kepada Bapak Uskup dan mengatakan turut bersukacita dan bersyukur kepada Tuhan.
“Hari ini penuh sukacita dan syukur untuk pimpinan sekaligus orang tua kami, Bapak Uskup yang merayakan ulang tahun. Syukur atas tuntunan dan bimbingan Tuhan lewat Bapak Uskup untuk umat di Keuskupan Denpasar khususnya kepada kami para imam. Doa kami semoga Bapak Uskup selalu sehat, umur panjang, selalu dikarunia rahmat kebijaksanaan dan selalu menjadi Bapak yang baik bagi kami para imam dan seluruh umat. Kami telah merasakan bimbingan yang arif dari Bapak Uskup dan kami bersatu dalam doa untuk rahmat ulang tahun yang diterima Bapak Uskup hari ini,” ungkap Rm. Adi.

Usai sambutan dilanjutkan memutar video ucapan selamat dari sejumlah Uskup, serta para imam dan umat dari NTB yang tidak bisa hadir dalam acara ini. Kemudian diputar sebuah video flasback perjalananan panggilan Bapak Uskup dalam 10 detik dan yang disempurnakan dengan ucapan selamat secara digital oleh Ketua KWI Mgr. Antonius Subianto Bunjamin,OSC.
Berlanjut dengan pemotongan kue ulang tahun yang dilakukan oleh yubilaris didampingi sejumlah imam, keluarga dan perwakilan undang.

Di sela-sela acara ulang tahun ini, Bapak Uskup juga menerima sebuah kado spesial berupa lukisan wajah Bapak Uskup hasil lukisan seorang kolega dari Jakarta dan diserahkanya langsung kepada Bapak Uskup di hari bahagia itu.

Acara sukacita hari itu disempurnakan oleh santap siang bersama, dimeriahkan suara-suara indah dari trio wanita Melody Bali Voice (MBV), diiringi keyboard Tino Talokon selaku koordinator MBV.
Hironimus Adil



