LINTAS PERISTIWA

Mlampah Ziarah Negara-Palasari, Mengenang Keberanian Keluarga Katolik Awal di Pulau Bali

PALASARI – Sabtu, 25 Juli 2026, hari masih gelap menjelang pukul 05.00 pagi, tetapi halaman gereja St. Petrus Negara sudah ramai dengan umat peserta Mlampah Ziarah yang datang dari berbagai daerah.

Mlampah Ziarah yang baru pertama kali diadakan d Bali ini diikuti 74 umat, termasuk 14 yang datang dari luar Bali. Tujuan mereka satu, berjalan kaki dari Gereja St. Petrus Negara ke Gua Maria Palasari sejauh 22km.

Mlampah Ziarah yang pertama ini juga terasa Istimewa karena diadakan sekaligus untuk memperingati satu tahun berdirinya Komunitas Mlampah Ziarah di Indonesia.

Sebelum kegiatan dimulai, RD. Benediktus Deni Mary, Pastor Paroki St. Petrus Negara, menjelaskan sejarah gereja Katolik di Negara dan di Palasari yang memiliki pertautan yang sangat erat, sudah ada bahkan sebelum Indonesia merdeka. Tidak hanya melepas peserta dengan doa, Romo Deni juga ikut berjalan sampai ke Palasari.

Perjalanan dari Negara ke Palasari sangat menantang. Pagi, ketika memulai perjalanan udara masih nyaman, cukup dingin. Sekitar pukul 10.00, sudah mulai terasa sengatan matahari di ubun-ubun. Panas yang menyengat serta jalan yang menanjak dan berbatu sempat membuat perjalanan melambat, tetapi tidak menghilangkan semangat untuk mencapai Gua Maria Palasari.

Perjalanan sepanjang 22km itu melewati Desa Tukadaya, Banjar Peh, Manistutu, Desa Warnasari, kemudian melewati Monumen Salib Suci di Palasari Lama, lalu belok ke Bendungan Palasari, dan akhirnya tiba di Gereja Hati Kudus Yesus Palasari.

Peserta Mlampah Ziarah sangat terbantu oleh OMK Don Bosco St. Petrus Negara yang sudah aktif sejak pendataan peserta hingga membantu memberi arah perjalanan dengan berjaga di setiap persimpangan. Tim motoris juga sangat sigap membantu peserta yang mengalami masalah di perjalanan.

 

Sekitar pukul 12.00 siang seluruh peserta sudah tiba di Gereja Hati Kudus Yesus Palasari. Acara ditutup dengan misa kudus di Gua Maria Palasari yang dipimpin oleh Romo Deni dan Romo Yonce, Pastor Rekan Paroki Hati Kudus Yesus Palasari.

Dalam homilinya, Romo Benediktus Deni Mary mengingatkan “Ziarah bukan sekedar berpindah tempat, melainkan perjalanan yang secara perlahan memindahkan sesuatu dalam hati kita.”

Hari Sabtu, 25 Juli itu juga bertepatan dengan hari Santo Yakobus atau San Diego atau Santiago yang identik dengan jalan kaki. Selama berabad-abad jutaan orang berjalan kaki ratusan kilometer menuju Gereja Santiago de Compostela di Spanyol untuk berziarah ke makam Santo Yakobus.

“Jangan kagumi perjalananmu tapi lihatlah jalan yang mengubahmu,” kata Santo Yakobus seperti dikutip Rm. Deni.

Sebelum menjadi Santo, Yakobus adalah orang yang tersesat oleh ambisinya. Yesus berbicara tentang memberikan nyawa, Yakobus memimpikan mendapat jabatan.

 

“Hal ini sering terjadi pada kita. Kita mengikuti Tuhan tetapi diam-diam kita berharap Tuhan mengikuti rencana kita. Kita berdoa tapi sebenarnya kita sedang menyusun proposal agar Tuhan mengikuti rencana kita,” sambungnya.

Pertanyaan Yesus kepada Yohanes dan Yakobus, “Dapatkah engkau meminum piala yang harus kuminum”.
Mereka mengira itu kerajaan, padahal salib. Mereka mengira itu mahkota emas, padahal mahkota duri.
Mereka mengira anggur pesta, padahal anggur penderitaan.

 

“Kita meminta berkat dan Tuhan memberi kita salib. Kita meminta kemudahan dan Tuhan meminta kedewasaan kita. Kita meminta jalan pintas tetapi Tuhan mengajak kita berjalan jauh. Di sini ada makna yang sangat indah dalam ziarah kita hari ini mengapa Tuhan tidak menciptakan kota Negara tepat disebelah Palasari. Kenapa harus ada 22km jaraknya dan ini menarik,” ungkap Rm. Deni.

Romo Deni juga mengulas sejarah gereja di Palasari yang dimulai pada 1940 oleh Pastor Simon Bois,SVD, yang membawa 18 keluarga dari Desa Tuka dan 6 keluarga dari Desa Gumbrih. Mereka baru saja dibaptis pada tahun1935 dan diajak pindah ke Desa Palasari. Pada saat itu Palasari masih berbentuk hutan yang dihuni banyak binatang buas. Para keluarga ini harus membangun rumah mereka di atas pohon.

Lalu, pada tahun 1941 ada 6 keluarga yang melarikan diri hendak kembali ke Tuka. Mereka berhasil ditemukan oleh Pastor Simon Bois, namun hanya dua keluarga yang mau kembali ke Palasari. “Dalam konteks ziarah ini, kita mengingat keberanian mereka yang mau kembali ke Palasari walaupun tidak ada kejelasan mengenai masa depan,” imbuhnya.

Romo Deni menutup homilinya dengan harapan agar kegiatan Mlampah Ziarah dari Negara ke Palasari dapat menjadi kegiatan rutin untuk mengajak orang kembali mengingat keberanian keluarga-keluarga Katolik awal di Pulau Bali.

 

Terkait Mlampah Ziarah ini, Fransiskus Wangge dari Paroki St. Petrus Negara menceritakan pengalamannya bersama OMK Don Bosco St. Petrus Negara dalam merintis jalur untuk Mlampah Ziarah. Menurut dia, kegiatan ini menjadi wadah bagi OMK untuk berkumpul melakukan kegiatan yang positif.

Octavianus Willy Wuriyanto sebagai Inisiator Mlampah Ziarah Bali Chapter, menyampaikan apresiasi sebesar-besarnya terhadap dukungan dari RD. Benediktus Deni Mary dan RD Yonce, beserta OMK Negara yang sangat proaktif dan memiliki komitmen tinggi sehingga kegiatan Mlampah Ziarah yang pertama di Pulau Bali bisa berjalan lancar. Harapannya untuk event Nasional 16 Agustus 2026 yang akan datang, di mana 115 peserta dari luar Bali sudah terdaftar akan berjalan lancar. *

Penulis: A Dwi Nugroho-Umat Paroki Katedral
Editor: Hiro/KomsosKD

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button