EMPAT MATERI EDUKATIF TEMPA REMAJA MISIONER

Jimbaran-Bali, Hari kedua Kemah Remaja Misioner SEKAMI Dekenat Bali Timur yang berlangsung di SDK Soverdi Jimbaran, Sabtu (11/7), diisi dengan rangkaian materi edukatif yang dirancang untuk membentuk para peserta menjadi remaja yang mengenal dirinya, menjaga kesehatan dan kesucian tubuh, memiliki semangat misioner, hidup solid dan solider, serta peduli terhadap kelestarian ciptaan Tuhan.
Seluruh materi disusun selaras dengan tema kemah, “Mengenal Diri, Bertumbuh dalam Iman, dan Berani Bermisi.”
Para narasumber yang terlibat merupakan para imam, tenaga profesional, dan pemerhati lingkungan yang berkarya di wilayah Dekenat Bali Timur. Mereka adalah RD. Yustinus Kurniawan Karwayu (Pastor Rekan Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar), RD. Yulius Kehi (Pastor Rekan Paroki Santa Maria Ratu Rosari Gianyar), RD. Firgianus Botu (Pastor Rekan Paroki St. Petrus Denpasar), RP. Gregorius Wangge, SVD (Pastor Rekan Paroki St. Paulus Ubung), RP. Laurensius Ketut Supriyanto, SVD (Pastor Paroki St. Yoseph Denpasar).

Dari kaum awam Psikolog Prammu Hartadi, S.Psi., dr. Nathaniel B. Hasian, MD., BMedSc., dr. Victorinus Alfred Septiono Mulana, S.Ked., M.P.H., serta Tim Eco Enzyme Nusantara.

Agar proses pembelajaran berlangsung efektif, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok yang menempati ruang kelas berbeda. Para narasumber bergantian berpindah dari satu kelompok ke kelompok lainnya sehingga seluruh peserta memperoleh kesempatan mengikuti setiap materi.

Dengan metode yang komunikatif, interaktif, dan diselingi berbagai permainan edukatif bersama para pendamping, suasana belajar berlangsung hidup, menyenangkan, dan mendorong peserta aktif berdialog serta berbagi pengalaman.
Menjadi Remaja Misioner yang Solid dan Solider
Materi pertama bertajuk “Menjadi Remaja Misioner yang Solid dan Solider” dibawakan oleh RD. Yustinus Kurniawan Karwayu, RD. Firgianus Botu, RP. Gregorius Wangge, SVD, dan RP. Laurensius Ketut Supriyanto, SVD, di kelas berbeda.
Materi ini sejalan dengan Tema Pastoral Keuskupan Denpasar Tahun 2026, yakni “Bangkit dan Bergerak Bersama Mewujudkan Gereja Sinodal melalui Keluarga, OMK, SEKAMI, dan KBG yang Solid dan Solider.”

Para narasumber mengajak peserta menyadari identitas mereka sebagai murid sekaligus misionaris Kristus. Menjadi misioner bukan hanya panggilan para imam, biarawan, maupun biarawati, melainkan tugas setiap orang yang telah dibaptis. Misi dimulai dari lingkungan terdekat: keluarga, sekolah, komunitas, hingga paroki.
Remaja yang solid, jelas para narasumber, adalah pribadi yang memiliki komitmen dalam kehidupan menggereja, jujur, disiplin, bertanggung jawab, serta setia dalam pelayanan.
Sementara remaja yang solider ditandai dengan kepedulian kepada sesama tanpa membeda-bedakan, rela membantu teman yang mengalami kesulitan, memiliki empati, semangat berbagi, serta menjadi pembawa damai.

Mereka juga mengajak peserta menyadari berbagai tantangan yang dihadapi kaum muda saat ini, seperti pengaruh negatif media sosial, budaya perundungan, ujaran kebencian, sikap individualistis, hingga tekanan pergaulan.
Karena itu, para remaja Katolik diajak menjadi “influencer kebaikan” yang menghadirkan nilai-nilai Injil di ruang digital, berani memberi kesaksian iman, terbuka terhadap perbedaan, serta membangun semangat persaudaraan.

Nilai solid dan solider diwujudkan secara konkret melalui penghormatan kepada orang tua, membantu pekerjaan rumah, bersikap jujur di sekolah, menolak segala bentuk perundungan, aktif dalam kegiatan SEKAMI dan pelayanan paroki, serta menggunakan media sosial untuk menyebarkan pesan-pesan positif.
Para imam juga menegaskan bahwa kehidupan doa, Perayaan Ekaristi, pembacaan Kitab Suci, dan Sakramen Tobat merupakan sumber kekuatan utama bagi remaja dalam menjalankan panggilan misionernya.
“Remaja misioner yang solid adalah remaja yang kuat dalam iman, sedangkan remaja misioner yang solider adalah remaja yang peduli dan hadir bagi sesama.”
Remaja Tetap Manusia di Era AI
Materi berikutnya dibawakan oleh RD. Yulius Kehi dengan tema “Remaja Tetap Manusia di Era Artificial Intelligence (AI).”
Dalam penyampaiannya, Romo Yulius mengingatkan bahwa dunia digital kini menjadi ruang misi baru bagi Gereja. Media sosial bukan sekadar sarana hiburan, melainkan tempat membangun relasi, menyebarkan nilai-nilai Kristiani, dan mewartakan Injil.

“Remaja dipanggil menjadi garam dan terang dunia, termasuk di ruang digital,” ungkapnya.
Mengenai perkembangan kecerdasan buatan (AI), ia menjelaskan bahwa AI merupakan alat yang membantu manusia, bukan pengganti manusia.
“AI harus membuat kita semakin cerdas, bukan justru menjadikan kita malas dan kehilangan kemampuan berpikir.”
Teknologi, lanjutnya, memang dapat membantu proses belajar, mencari informasi, hingga mengembangkan kreativitas. Namun AI tidak memiliki hati nurani, kasih, empati, maupun kebijaksanaan moral.
Karena manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, martabat manusia tetap jauh lebih tinggi daripada teknologi apa pun.
Mengacu pada dokumen Gereja mengenai perkembangan AI, Romo Yulius mengajak peserta agar tetap menjadi pribadi yang utuh, bijaksana, berkarakter, dan mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Sebagai pedoman bermedia sosial, ia memperkenalkan prinsip THINK sebelum membagikan informasi: True – Benarkah informasinya? Helpful – Apakah bermanfaat? Inspiring – Apakah menginspirasi? Necessary — Perlukah dibagikan? Kind – Apakah disampaikan dengan kasih?

Di akhir sesi, Romo Yulius mengajak peserta berkomitmen menggunakan AI secara jujur, memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya, menghindari cyberbullying, membatasi penggunaan media sosial secara sehat, serta menjadi saksi kasih Kristus di dunia digital.
Mengenal Diri: Aku Diciptakan Unik, Berharga, dan Dicintai Tuhan
Berbeda dengan dekenat lainnya, Dekenat Bali Timur, menghadirkan nara sumber awam. Psikolog Prammu Hartadi, S.Psi., membawakan materi “Mengenal Diri: Aku Diciptakan Unik, Berharga, dan Dicintai Tuhan.”
Materi ini mengajak peserta menyadari bahwa setiap manusia diciptakan Allah secara unik dan tidak ada seorang pun yang merupakan “fotokopi” dari orang lain.
Mengutip Kejadian 1:27, Prammu menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama diciptakan menurut gambar Allah, sama-sama berharga, dicintai, dan memiliki martabat yang luhur.
Setiap orang memiliki bakat, kepribadian, cara berpikir, hobi, dan impian yang berbeda. Karena itu, perbedaan harus dihargai, bukan dijadikan alasan untuk mengejek atau merendahkan orang lain.

Ia juga mengajak peserta mengenali berbagai emosi yang dimiliki manusia. Menurutnya, tidak ada emosi yang buruk; yang terpenting adalah bagaimana mengelolanya secara benar.
Di tengah derasnya arus media sosial, para remaja diingatkan agar tidak menjadikan jumlah pengikut, penampilan, komentar orang lain, maupun popularitas sebagai ukuran nilai diri.
“Identitas kita bukan ditentukan oleh media sosial, tetapi oleh kasih Allah. Kita adalah anak-anak yang dikasihi Tuhan.”
Pada akhir sesi, peserta diajak bersyukur atas tubuh yang dianugerahkan Tuhan, menghormati diri sendiri dan sesama, serta bertumbuh dalam kasih sebagaimana diajarkan Kristus.
Seksualitas: Sehat dan Suci
Materi berikutnya disampaikan oleh dr. Nathaniel B. Hasian dan dr. Victorinus Alfred Septiono Mulana mengenai “Seksualitas sebagai Pria dan Wanita: Sehat dan Suci.”
Materi ini bertujuan membantu peserta memahami bahwa seksualitas merupakan anugerah Allah yang harus dijalani secara bertanggung jawab sesuai ajaran Gereja.

Kedua dokter menjelaskan perubahan fisik, emosional, sosial, dan spiritual yang terjadi selama masa remaja, baik pada laki-laki maupun perempuan. Seluruh perubahan tersebut merupakan proses alami yang patut diterima dengan rasa syukur.
Para peserta juga memperoleh edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan reproduksi melalui pola hidup sehat, makanan bergizi, olahraga teratur, menjaga kebersihan diri, menghindari rokok, alkohol, narkoba, serta berani menolak tekanan negatif dari lingkungan.
Dalam perspektif iman Katolik, menjaga kesucian berarti menghormati tubuh sebagai bait Roh Kudus, menjaga pikiran, perkataan, dan tindakan, menghindari pornografi serta perilaku seksual di luar perkawinan, membangun persahabatan yang sehat, serta menghormati batas diri sendiri maupun orang lain.
Mengutip 1 Korintus 6:19-20, kedua narasumber mengingatkan peserta bahwa tubuh manusia adalah bait Roh Kudus yang harus dihormati dan dijaga.
Menjadi Agent of Change: Remaja Bermisi untuk Bumi
Kepedulian terhadap lingkungan hidup juga menjadi perhatian dalam Kemah Remaja Misioner Dekenat Bali Timur.
Melalui materi “Menjadi Agent of Change: Remaja Bermisi untuk Bumi”, Tim Eco Enzyme Nusantara mengajak peserta menjawab seruan Gereja dalam Ensiklik Laudato Si’ dengan merawat bumi sebagai rumah bersama.

Para peserta diajak menyadari bahwa berbagai persoalan lingkungan, termasuk persoalan sampah di Bali, merupakan tantangan nyata yang membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk remaja Sekami.
Dalam sesi praktik, peserta diperkenalkan pada pembuatan Eco Enzyme, cairan ramah lingkungan hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sisa sayuran.
Selain memahami manfaat Eco Enzyme dalam mengurangi sampah organik dan menjaga kebersihan lingkungan, para peserta juga secara langsung mempraktikkan proses pembuatannya sehingga dapat diterapkan di rumah, sekolah, maupun paroki.

Melalui pengalaman tersebut, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga keterampilan sederhana yang dapat menjadi langkah nyata merawat ciptaan Tuhan.
Bertumbuh Menjadi Murid Kristus
Rangkaian materi pada hari kedua Kemah Remaja Misioner SEKAMI Dekenat Bali Timur menjadi bekal berharga bagi para peserta untuk bertumbuh menjadi pribadi yang semakin mengenal dirinya, kuat dalam iman, bijaksana menghadapi perkembangan zaman, menjaga martabat tubuh sebagai anugerah Allah, peduli terhadap sesama, sekaligus memiliki tanggung jawab merawat bumi sebagai rumah bersama.

Berakar dalam Kristus, bertumbuh dalam persaudaraan, dan berani bermisi di tengah dunia menjadi semangat yang terus ditanamkan kepada seluruh peserta. Diharapkan, mereka mampu menjadi murid-murid Kristus yang tangguh, penuh kasih, serta siap menghadirkan kabar kembira dalam kehidupan sehari-hari, baik di keluarga, sekolah, paroki, dunia digital, maupun di tengah masyarakat.
Salam Misioner. Christin***



