Imam Diosesan Kevikepan Bajawa KAE, Akhiri Retret di Denpasar dengan Sukacita

DENPASAR – Denpasar dipilih oleh para imam projo dari Kevikepan Bajawa, Keuskupan Agung Ende (KAE) untuk retret tahunan tahun 2026. Lebih dari 30 imam diosesan itu, mengikuti retret selama di Catholic Center Keuskupan Denpasar, 7 – 10 Juli 2026, dengan pembimbing retret Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey.
Rangkaian reteret ditutup dengan perayaan Ekaristi, dilanjutkan acara sukacita bersama di ballroom Catholic Center. Perayaan Ekaristi berlangsung di Kapel Catholic Center, Kamis (9/7/2026) petang. Misa dipimpin Vikaris Episkopal (Vikep) Bajawa RD. Gabriel Idrus, didampingi Ketua UNIO Kevikepan Bajawa RD. Tomy Lele dan RD. Herman Yoseph Babey, selaku pembimbing rekoleksi.
Retret para imam dari Kevikepan Bajawa kali ini mengusung tema “Ketaatan yang Membebaskan dan Menghidupkan.” Dalam buku kecil sebagai panduan yang dibuat secara khusus oleh Rm. Babey, demikian pembimbing retret biasa disapa, tema di atas dipenggal dalam beberapa subtema sebagai renungan bersama maupun renungan pribadi selama retret.

Ketua Unio Kevikepan Bajawa, KAE, RD. Tomy Lele, mengungkapkan bahwa ketaatan sebagai imam projo, bukan karena selama ini tidak taat, tetapi ketaatan ini menjadi salah satu fondasi penting panggilan seorang imam, di samping kemurnian dan hidup sederhana (kemiskinan).
“Masalah ketidaktaatan itu bisa menjadi tantangan dalam karya imamat, dan kami berjuang untuk menjadi imam yang taat pada panggilan imamat, taat pada Tuhan dan taat pada Uskup,” ungkap Rm. Tomy, saat memberikan sambutan singkat sebelum berkat perutusan pada perayaan Ekaristi sore itu.
Rm. Tomy juga memberikan apresiasi kepada Rm. Babey, yang selama tiga hari penuh telah membimbing mereka dalam retret tahunan ini.

“Puji Tuhan, hari ini kita diutus kembali setelah menjalani retret. Romo Babey telah berjalan bersama kita sebagai pembimbing rekoleksi. Romo Babey dipilih sebagai imam projo yang tahu seluk beluk imam UNIO dan sebagai senior yang memasuki usia 30 tahun imamatnya,” kata Rm. Tomy.
Ungkapan hampir serupa disampaikan Vikep Bajawa RD. Gabriel Idrus. Menurut Rm. Idrus, demikian biasa disapa, Denpasar menjadi tempat yang dipilih karena ada kedekatan secara emosional, di mana banyak imam di Keuskupan Denpasar, termasuk Rm. Babey lahir dari ‘Rahim’ yang sama yaitu Seminari Tinggi St. Petrus.
Rm. Idrus juga merasa Catholic Center, sebagai tempat yang tepat untuk retret, kendatipun ada di tengah pemukiman penduduk namun tempat itu sangat tenang dan nyaman.
Kepada para rekan imamnya, Rm. Idrus berpesan bahwa kehidupan imamat bergantung pada kasih Allah dan kemampuan mengelola diri, sehingga menjadikan seorang imam taat dan setia.

Sebelumnya, RD. Herman Yoseph Babey, yang dipercayakan membawa homili mengungkapkan bahwa tujuan utama setiap retret itu adalah membawa sukacita dan hati yang lebih dekat dengan Tuhan. Rm. Babey, juga merefleksikan, seorang imam bertahan bukan karena kekuatannya tetapi ada Tuhan yang selalu menopang.
“Bukan kita (imam) yang kuat sebagai imam, tetapi justru Tuhan yang setia menopang kita dalam situasi apapun termasuk situasi sulit sekalipun,” ungkap Rm. Babey, seraya mengingatkan “Ketaatan bukan sekedar kewajiban, tetapi jawaban atas kesetiaan Tuhan yang selalu menopang kita. Semoga pulang dari retret ini, kita membawa pulang hati yang telah diperbarui.”
Acara berlanjut setelah misa di ballroom Catholic Center, berupa ramah tamah dan sukacita bersama. Bapak Uskup Denpasar Mgr. Silvester San didampingi Sekretaris dan Ekonom Keuskupan Denpasar RD. Agustinus Sugiyarto, ikut bergabung bersama para imam dari Kevikepan Bajawa dalam acara kebersamaan dan persaudaraan itu. Hadir pula para staf Puspas Keuskupan Denpasar.

Sebagian dari imam itu merasa sedang bernostalgia, sebab Mgr. San sebelum menjadi Uskup Denpasar, adalah Pembina dan Praeses Seminari Tinggi Ritapiret, itu artinya ada di antara para imam yang pernah menjadi mahasiswa dari Bapak Uskup San.
Bapak Uskup diberi kehormatan untuk menyapa para imam projo dari Kevikepan Bajawa yang baru selesai retret. Mgr. San menyampaikan proficiat serta berterima kasih sudah memilih Denpasar sebagai tempat retret. Bapak Uskup juga menerangkan sekilas gambaran umum Keuskupan Denpasar yang meliputi wilayah pelayanan di dua provinsi: Bali dan NTB serta karya-karya pastoralnya.
Acara kebersamaan ini diisi dengan makan malam dan dilanjutkan menari bersama. Bapak Uskup bahkan sempat diminta menyumbangkan sebuah lagu dalam kebersamaan penuh sukacita itu.
Sukacita para imam dari Kevikepan Bajawa, berlanjut keesokan harinya Jumat (10/7) dengan melakukan rekreasi bersama. Beberapa tempat dikunjungi antara lain di Biara Karmel Batu Riti, Bedudul yang diterima sangat ramah dengan menyajikan makanan dan minuman ringan oleh Rm. Yoseph Gerungan,O.Carm dan Rm. Dinong, O.Carm. Kemudian rombongan bergerak melintas sejenak di destinasi wisata Ulun Danu Bedugul.
Dari Bedugul, rombongan menuju Gereja St. Maria Immaculata Tabanan. Di paroki itu Pastor Paroki RD. Damianus Hayong bersama umat setempat menjamu para imam ini dengan makan siang. Dari Paroki Tabanan, rombongan melanjutkan perjalanan ke destinasi wisata Tanah Lot. Di sana, waktunya cukup longgar untuk menikmati segala keindahaan yang tersaji.

Dari Tanah Lot, rombongan ini menuju Paroki Babakan. Setiba di paroki ini, para imam tersebut sempat ke gua Maria serta memasuki gereja yang kental dengan nuansa arsitektur Balinya. Kemudian Pastor Paroki RD. Rony Alfridus Bere Lelo bersama DPP dan umat setempat menjamu para imam ini dengan santapan malam, sambil menikmati hiburan. Tak ketinggalan beberapa imam ini menyumbangkan suara-suara emas mereka, disertai menari bersama sebagai kesempurnaan sukacita.
Setelah menikmati hidangan malam serta sukacita bersama di Babakan, rombongan kembali ke Catholic Center dan tiba sekitar pukul 21.30.*
Hironimus Adil



