LINTAS PERISTIWA

Malam “Pelangi Misioner” Sekami Bali Barat

Saat Keberagaman Budaya Menyatu dalam Kegembiraan Iman

PALASARI – Malam kedua Kemah Sekami Remaja Dekenat Bali Barat, Sabtu (4/7), mendadak riuh dan emosional. Sebuah panggung ekspresi bertajuk “Pelangi Misioner” sukses memukau ratusan pasang mata hingga membuat penonton enggan beranjak dari Bale Banjar Palasari.

Direktur Diocesan KMKI Keuskupan Denpasar, RD. Herman Yoseph Babey, menjelaskan bahwa istilah “Pelangi Misioner” merupakan ruang pentas seni sekaligus malam ekspresi budaya. Bagi anak-anak Serikat Kepausan Anak dan Remaja Misioner (SEKAMI), istilah ini sudah sangat melekat.

“Pelangi melambangkan keragaman, keindahan, dan perbedaan latar belakang suku, budaya, serta daerah yang menyatu dalam harmoni. Sementara Misioner berarti memiliki semangat membara untuk mewartakan kabar gembira, kasih, dan perdamaian kepada sesama,” ungkap Romo Babey.

Sesuai maknanya, malam itu menjadi panggung unjuk kreativitas bagi Sekami Remaja lima paroki di wilayah Dekenat Bali Barat. Masing-masing paroki menyuguhkan kreasi seni bernilai budaya tinggi yang sarat akan pesan filosofis.

Acara dibuka hangat oleh pembawa acara (MC) yang menyampaikan apresiasi mendalam kepada Yang Mulia Bapak Uskup Denpasar, Ketua KMKI, Pastor Deken Bali Barat, panitia, serta seluruh pihak yang menyukseskan acara. Bagi masyarakat luar yang tidak bisa hadir langsung, Komsos Keuskupan Denpasar juga menyiarkan kemeriahan ini secara live streaming melalui kanal YouTube mereka.

Suasana semakin membakar semangat saat Tim Animasi mengajak seluruh peserta menyanyikan theme song Kemah Sekami Remaja bersama-sama.

Lima Paroki, Lima Pesan Kehidupan

Tuan rumah Sekami Palasari mendapat kehormatan sebagai penampil pertama. Mereka membawakan tarian kreasi Bali yang anggun dan atraktif, berpadu harmonis dengan gamelan Bali. Tarian ini mengisahkan sekelompok anak yang kebingungan saat desa mereka mendadak gelap gulita di malam hari, hingga sebuah berkas cahaya datang membawa kegembiraan. Lewat tarian ini, mereka menyampaikan pesan mendalam: saat manusia dirundung masalah, Tuhan adalah Sang Cahaya Kehidupan. Anak Sekami pun terpanggil untuk menjadi terang bagi dunia.

Penampilan kedua datang dari Sekami Negara yang membawa harmoni angklung lewat lagu Manuk Dadali. Melalui alat musik bambu ini, mereka merefleksikan tema kemah, yaitu menjadi pribadi yang misioner, solid, dan solider. Angklung mengajarkan bahwa satu instrumen hanya menghasilkan satu nada, namun lewat kerja sama, toleransi, dan gotong royong, akan tercipta melodi yang indah.

Tak kalah seru, Sekami Gumbrih menghidupkan kembali permainan tradisional Bali, Meong-meongan. Lewat lakon dinamis antara Meng (kucing) dan Bikul (tikus), mereka menyisipkan pesan moral tentang pentingnya kerja sama, kekompakan, sportivitas, dan tanggung jawab dalam kelompok.

Nuansa Indonesia Timur kemudian memanaskan panggung lewat Sekami Tabanan. Mengenakan busana khas Nusa Tenggara Timur (NTT), mereka tampil kompak dan lincah membawakan tarian nusantara beriringan lagu khas NTT. Nilai kebersamaan, keramahan, keterbukaan, serta rasa syukur terpancar kuat dari senyum para penari.

 

Sebagai penutup rangkaian budaya, Sekami Paroki St. Paulus Singaraja membawa penonton “terbang” ke Pulau Sumatra lewat tarian Marsani Po dan Sada Dua Tolu. Berbalut busana khas Sumatra, penampilan maksimal mereka membawa misi penting: membangun kebersamaan tanpa sekat, memupuk gotong royong, dan selalu bersukacita.

“Pecah” hingga Menari Ja’i Bersama

Kemeriahan malam itu tidak hanya dinikmati oleh internal peserta, tetapi juga memikat masyarakat sekitar hingga mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta yang kebetulan sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Palasari.

Malam Pelangi Misioner benar-benar “pecah”. Jika biasanya penonton mulai bubar sebelum acara selesai, malam itu Bale Banjar tetap padat hingga akhir. Lima penampilan terasa belum cukup memuaskan kerinduan penonton.

Suasana semakin cair dan memuncak saat seluruh hadirin termasuk Romo Babey, Romo Deni, dan Romo Yonce turun ke tengah area untuk menari Ja’i bersama. Tarian massal khas NTT yang dinamis namun mudah diikuti ini menyatukan semua orang dalam satu lingkaran kegembiraan.

Kemeriahan malam refleksi budaya itu akhirnya ditutup dengan doa dan berkat oleh Romo Babey, dilanjutkan dengan sesi foto bersama per paroki. Semua yang hadir malam itu pulang membawa pulang rasa syukur, sukacita, dan semangat misioner yang menyala.

Salam Misioner! (Christin***)

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button