Imam Unio Keuskupan Denpasar Hidupi Spirit KBG Lewat Program Live In di Tengah Umat

AMPENAN – Kegiatan Study & Live In para imam Unio Keuskupan Denpasar berlangsung selama tiga hari, 14–16 April 2026, menghadirkan pengalaman pastoral yang menyentuh langsung kehidupan umat.
Mengusung tema “Mendengarkan Umat, Memperbaharui Perutusan: KBG sebagai Wajah Gereja yang Hidup dan Partisipatif,” program ini menegaskan kembali pentingnya kehadiran Gereja di tengah keluarga-keluarga umat.
Program live in sendiri merupakan bentuk pelayanan di mana para imam tinggal sementara bersama keluarga umat. Dalam kebersamaan itu, para pastor tidak hanya hadir sebagai pemimpin liturgi, tetapi juga sebagai sahabat yang mendengarkan, berbagi, dan meneguhkan iman. Doa bersama, percakapan hangat, serta keterlibatan dalam keseharian menjadi bagian dari dinamika yang membangun relasi yang lebih dekat antara imam dan umat.
Seluruh imam projo Keuskupan Denpasar ambil bagian dalam kegiatan ini dan tersebar di wilayah tiga paroki, yakni Mataram, Ampenan, dan Praya. Secara khusus di Paroki Ampenan, sebanyak 14 imam dan 4 frater diutus untuk menjalani live in di sembilan lingkungan umat.

Salah satu yang menarik terjadi di Lingkungan Santo Agustinus, Paroki Ampenan. Lingkungan ini mendapat kunjungan satu imam, yakni RD Antonius Gede Ekadana Putra—yang akrab disapa Romo Toni—yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi Panggilan dan Seminari Keuskupan Denpasar. Kehadiran Romo Toni disambut penuh sukacita oleh umat.
Selasa sore, sekitar pukul 17.00 WITA, Ketua Lingkungan Santo Agustinus, Jhon Ngaba, menjemput Romo Toni di Paroki Mataram. Setibanya di rumah, suasana hangat langsung terasa ketika beberapa umat, khususnya para bapak, telah berkumpul untuk menyambutnya.
Kebersamaan semakin terasa saat seluruh umat berkumpul kembali pukul 19.30 WITA di kediaman Ketua Lingkungan. Acara diawali dengan santap malam sederhana, namun penuh kegembiraan dan keakraban. Dari meja makan, suasana berlanjut ke sesi utama: sharing iman yang berlangsung hangat dan interaktif.

Dalam sesi tersebut, Romo Toni mengajak umat merenungkan Kisah Para Rasul 2:42–47 tentang cara hidup jemaat perdana. Umat kemudian dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan Komunitas Basis Gerejawi (KBG), yakni KBG Santa Agatha dan KBG Santa Clara. Diskusi berlangsung hidup, diselingi candaan khas Romo Toni yang mencairkan suasana.
Dalam refleksinya, Romo Toni menegaskan pentingnya kehidupan beriman dalam lingkup KBG. Menurutnya, di dalam KBG umat dapat saling mengenal secara pribadi—mengetahui pergumulan, kebutuhan, dan mampu saling membantu.
Gereja pun menjadi nyata sebagai persekutuan hidup, bukan sekadar organisasi. Semangat ini sejalan dengan arah pembaruan Gereja sejak Konsili Vatikan II yang mendorong partisipasi aktif umat.

Salah satu pertanyaan yang mengundang refleksi mendalam adalah: “Mengapa Bapak/Ibu bersyukur tinggal di Lingkungan Santo Agustinus?”
Seorang umat yang akrab disapa Om Mike menjawab dengan sederhana namun menyentuh, bahwa mereka bersyukur karena lingkungan yang kecil ini telah menjadi komunitas yang solid dan solider. Saat ada anggota yang sakit, umat dengan sigap datang menjenguk, memberi penghiburan, bahkan bantuan sesuai kemampuan.
Tak terasa hampir dua jam kebersamaan berlalu. Acara ditutup dengan doa bersama yang dipimpin secara bergiliran oleh umat, dilanjutkan dengan berkat penutup dari Romo Toni, serta sesi foto bersama yang mengabadikan momen penuh makna tersebut.
Dalam kesannya, Romo Toni mengungkapkan kekagumannya, “Lingkungan ini luar biasa. Umatnya solid, saling mendukung, saling mendoakan, dan hidup dalam persekutuan yang baik, terutama dalam kepedulian kepada mereka yang sakit.”
Ia juga menyampaikan harapan agar ke depan, khususnya KBG Santa Agatha dan Santa Clara, semakin bertumbuh dalam iman, kerukunan, dan persaudaraan, serta mampu menjadi berkat bagi sesama. Ia turut menaruh perhatian pada keterlibatan generasi muda, agar anak-anak dan kaum muda semakin aktif dalam kehidupan menggereja.
Sementara itu, Ketua Lingkungan Santo Agustinus yang merupakan purnawirawan polisi sekaligus dikenal piawai berpantun, turut menyampaikan kesannya dengan penuh kehangatan.

Ia menutup dengan pantun yang menggambarkan sukacita kebersamaan:
Pergi ke taman memetik melati,
Singgah sejenak di tepi kali,
Bersama Romo Toni kita jalani live in penuh arti,
KBG menjadi tempat bertumbuh iman setiap hari.
Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa Gereja sungguh hidup ketika hadir di tengah umat—mendengarkan, berjalan bersama, dan saling menguatkan dalam iman.
Penulis: Anthony Laziale _ Komsos Ampenan
Editor: Hiro/KomsosKD



