Visitasi Kanonik Uskup Denpasar di Paroki Santo Petrus Denpasar
Dialog dari Hati ke Hati

DENPASAR – Uskup Denpasar Mgr. Silvester San, terus berkeliling dari paroki ke paroki untuk berdialog dari hati ke hati dengan para fungsionaris paroki setempat dalam Visitasi Kanonik.
Pada Minggu, 26 Oktober 2025, giliran Paroki St. Petrus Denpasar yang mendapat kunjungan Kanonik Bapak Uskup.
Menjadi sukacita dan rahmat bagi umat paroki St. Petrus Denpasar, sebab sebelum melakukan pertemuan dengan imam dan para fungsionaris pastoral di paroki ini, Bapak Uskup berkenan memimpin misa pada Minggu Biasa ke-30 itu.

Sebelum menutup Perayaan Ekaristi dengan berkat penutup, Bapak Uskup menyampaikan bahwa “Kita mempunyai kewajiban setiap tahun mengirimkan laporan-laporan administrasi ke Vatikan melalui Propaganda Vide. Untuk mendapatkan informasi seperti itu, biasanya didapat dari KBG, Lingkungan, Paroki. Kegiatan itu yang akan kita laksanakan hari ini setelah Perayaan Ekaristi yaitu Visitasi Kanonik.”
Visitasi Kanonik Bapak Uskup Denpasar yang didampingi RD. Agustinus Sugiyarto selaku Sekretaris Keuskupan Denpasar dilaksanakan di Aula Santo Petrus Denpasar. Salah satu tujuan visitasi ini ingin mengenal lebih dekat dengan umat dan menyerap informasi mengenai kegiatan Pastoral.
Dalam sapaan kasihnya, RD. Yohanes Martanto selaku Pastor Paroki menyampaikan, setelah mendapatkan surat terkait kunjungan Kanonik Bapak Uskup pada bulan Maret 2025, dalam persiapannya, Pastor Paroki, Pastor Rekan, DPP dan DKP Paroki Santo Petrus juga mengadakan kunjungan Pastoral ke Lingkungan-lingkungan setelah proses pemekaran di awal tahun, dari 8 menjadi 15 Lingkungan, 38 KBG, dengan total umat 3.285 jiwa umat untuk lebih mengenal umat dan menyerap informasi-informasi penting terkait pastoral umat.”

Laporan Visitasi Kanonik secara lengkap disampaikan oleh Pastor Rekan, RD. Yustinus Kurniawan Karwayu. Kemudian dilanjutkan tanya jawab antara umat bersama Mgr San dengan Moderator RD. Agustinus Sugiyarto.
Antusias umat perwakilan dari DPP, DKP, Ketua Lingkungan, Ketua KBG serta kelompok Kategorial bertanya pada Bapak Uskup terkait kegiatan pastoral dalam Paroki Santo Petrus Denpasar dan Keuskupan ditanggapi dengan penuh keakraban, sukacita dan beberapa kali candaan dari Mgr. Dr Silvester San.
Mgr San juga menyampaikan rasa terima kasih atas kehadiran perwakilan umat dalam visitasi ini. “Memang selama ini Uskup datang ke Paroki biasanya dalam rangka perayaan tertentu, namun hari ini Visitasi Kanonik dalam bentuk dialog sehingga bisa lebih mengenal umat Santo Petrus Denpasar untuk tujuan pastoral kepentingan bersama, sehingga Uskup mendengar langsung dari umat,” katanya.

Lebih lanjut Bapak Uskup mengungkapkan bahwa hal-hal yang dibicarakan (laporan paroki) sudah bagus, dapat dipertahankan dan ditingkatkan, namun hal-hal yang perlu ditangani bersama, perlu diusahakan seperti keterbatasan lahan parkir, serta masalah Migran dan Perantau dimana mereka perlu diberikan pengertian, diajak berdialog akan pentingnya masuk ke Lingkungan dan mendaftar di Rukun Kematian sehingga tidak mengalami kesulitan saat ada kematian.

Pendidikan juga menjadi perhatian terutama pendidikan agama Katolik serta mengenai Dasopen yang tidak akan pernah cukup untuk meng-cover seluruh umat yang membutuhkan sehingga menghimbau Paroki Santo Petrus juga membuatnya, dengan menetapkan kriteria dengan persetujuan Pastor Paroki.

Dialog dari hati ke hati dalam Visitasi Kanonik Uskup Denpasar kali ini ditutup dengan doa serta berkat dari Romo Tanto, Pastor Paroki serta berfoto bersama.
Perayaan Ekaristi
Dalam parayaan Ekaristi sebelum visitasi berlangsung, Bapak Ukup dalam homilinya mengajak umat mengingat nama tokoh legendaris, Mahatma Gandhi seorang tokoh yang berhasil memerdekakan India dari penjajahan Inggris.
Diceritakan bahwa sebelum menjadi berhasil memerdekakan negerinya India, Mahatma Gandhi pernah menjadi seorang Lawyer – ahli hukum di Afrika Selatan. Disana ia menjadi sungguh sadar akan ketidakadilan akibat politik penjajah yang dikenal dengan nama Politik Apartheid yang sangat merendahkan golongan kulit hitam.

Menurut Bapak Uskup, sebuah peristiwa yang sangat berkesan dan menggangu pikirannya, ketika ia masuk ke dalam parit atau selokan yang kotor supaya sekelompok orang Turki yang lewat tidak terkontaminasi atau najis olehnya. Merefleksikan pengalaman itu, ia sadar termasuk orang kulit hitam yang direndahkan orang kulit putih.
“Selalu merupakan misteri bagi saya bahwa orang merasa dihormati, ditinggikan dengan merendahkan orang lain. Itulah keangkuhan dan kesombongan manusia,” kata Bapak Uskup.
Dalam kehidupan sehari-hari, lanjut Mgr San, sering kali orang menyombongkan diri, menyombongkan karya-karyannya.
“Dalam percakapan, tidak jarang kita berbicara tentang saya. Saya yang buat ini, saya yang buat itu, seolah-olah tanpa saya hal itu tak bisa dibuat, hal itu tidak akan terjadi. Dan lebih jelek lagi supaya kehebatan saya lebih menonjol, saya menganggap remeh orang lain, bahkan menghina dan memfitnah orang lain supaya saya lebih hebat dan menonjol,” ungkap Bapak Uskup.

Bapak Uskup lebih lanjut mengatakan, dalam Injil, Yesus menantang orang-orang yang menyombongkan diri karena kebajikan, karena perbuatan baik yang mereka lakukan sambil meremehkan orang lain. Orang-orang itu meninggikan dirinya untuk merendahkan sesama.”
Mendasarkan pada Injil hari itu, kata Bapak Uskup, Yesus memberikan komentar terhadap perumpamaanNya, bahwa pemungut cukai kembali sebagai seorang yang dibenarkan, sedang orang Farisi itu tidak dibenarkan. Pemungut cukai mendapat lebih dari yang dimintanya, dia memohon belas kasih Allah tapi yang didapatkan bahwa ia dibenarkan oleh Allah.
“Doa pemungut cukai, seorang dari pinggiran menembusi awan, didengarkan oleh Allah.
Sebaliknya doa orang Farisi tidak menembus awan, tidak sampai kepada Allah, doanya mencapai tujuan yang adalah dirinya sendiri.” sambung Bapak Uskup.
Dalam Injil, Yesus juga dilukiskan sebagai sahabat Pemungut cukai orang berdosa karena Ia memberi perhatian pada mereka. Kalau orang Farisi merendahkan mereka, Yesus justru meninggikan mereka. Dia memanggil mereka keluar dari kedosaan untuk menikmati pembebasan karena belaskasih Allah.
“Lama sekali sebelum Mahatma Gandi menyadari bagaimana orang merasa ditinggikan dengan merendahkan sesamanya, Yesus sudah lebih dulu menyadarinya. Bagi Dia, pemungut cukai orang berdosa, kaum pinggiran bukan hanya orang sekedar pendosa melainkan pendosa yang patut dikasihi.”
Mgr San juga mengatakan bahwa Perumpamaan Yesus pada Minggu itu hendaknya menyadarkan sekurang-kurangnya tentang dua hal berkaitan dengan doa, yaitu pertama tidak ada orang yang sombong dapat berdoa dengan pantas.
“Pintu surga begitu rendah sehingga tak seorangpun yang berjalan dengan kepala tegak dan tinggi hati, dapat masuk ke dalamnya. Sebaliknya ia harus berjalan dengan lutut supaya bisa masuk. Itulah kerendahan hati di hadapan Allah. Kiranya kita semua menyadari hal itu, memiliki semangat kerendahan hati dalam doa-doa kita. Sebab doa yang demikianlah menembus awan berkenan kepada Allah, didengarkan Allah,” ungkap Bapak Uskup.
Kedua, tidak Ada orang yang memandang rendah sesamanya dapat berdoa dengan pantas. “Kalau kita datang ke gereja untuk berdoa dan menyadari lebih sering kita memandang rendah orang lain, meremehkan sesama, mengabaikan sesama yang rendah dan miskin, maka doa kita kurang bermanfaat bahkan tidak berguna,” tegas Bapak Uskup.
Bapak Uskup mengingatkan, dalam berdoa, hendaknya tidak meninggikan diri, atau menyombongkan diri terhadap sesama. Entah sesama itu teman atau tetangga.
“Sebab kita ingat bahwa kita masuk dalam kelompok manusia berdosa yang membutuhkan kemurahaan dan belaskasih Allah. Semua orang berdosa. Karena kedosaan kita, setiap kita, perlu berseru seperti pemungut cukai itu, Allah kasihanilah aku orang berdosa ini,” imbuhnya.
Sebagai penutup homilinya, Mgr San berpesan, “Semoga doa-doa kita selalu pantas dan berkenan kepada Allah, karena kita menghayati sikap kerendahan hati di hadapan Allah dan sikap menghargai dan menghormati sesama dalam hidup kita sehari-hari.”
Penulis: Virly
Editor: Hiro/KomsosKD



