SOMA Hari Kedua, Melatih Kreativitas Misioner

DENPASAR – SOMA bagi para Pendamping Sekami se-Pulau Lombok dan Bali di Catholic Centre memasuki hari kedua. Melatih kreativitas misioner merupakan salah satu materi penting bagi para pendamping Sekami.
SOMA (School Of Missionary Animators) yang dilaksanakan 9-11 Mei 2005 ini, selain membekali para peserta dengan pengetahuan (teori) penting terkait gerakan Sekami, juga dibekali dengan keterampilan berkreativitas; lagu dan gerak (animasi misioner) serta simulasi bina iman anak.
Selepas pengarahan Bapak Uskup sekaligus membukan SOMA secara resmi, Jumat (9/5) petang, secara marathon Direkrur KKI Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey, memaparkan materi-materi penting terkait dengan gerakan Sekami, dan melanjutkan beberapa materi penting lainnya di hari kedua. Sesekali diselingi dengan animasi berupa lagu dan gerak, serta tepuk-tepuk khas Sekami.
Adapun materi utama yang dijelaskan Rm. Babey, dalam pelatihan ini antara lain tentang Makna Misi, Misa Allah Tritunggal, Misi Gereja, dan Keterlibatan Warga Gereja. Semua materi ini dipadatkan pada hari pertama.

Memasuki hari kedua, peserta mengawali dengan ucapan syukur dan menimba kekuatan Tuhan dengan mengikuti perayaan Ekaristi harian. Selapas sarapan, Rm. Babey, kembali tampil memberikan pencerahan seputar Karya Kepausan, di mana salah satunya tentang mengenal Karya Kepausan Indonesia.
Materi utama lainnya adalah Spiritualitas Animator-Animatris dan Tangggung Jawab Animator-Animatris. Di samping materi yang memuat tentang pengetahuan tersebut, dalam SOMA ini, peserta juga dibekali dengan materi tentang Kitab Suci, kreativitas Temu Sekami, Kreativitas Alat Peraga, Teknik Bercerita dan Permainan. Khusus kreativitas alat praga, kata Rm. Babey, alat peraga utama itu adalah tubuh sendiri.
Romo Babey menerangkan mengenai ‘Temu Sekami’ yang rutin dilaksanakan di paroki-paroki. Dalam Temu Sekami, menurut Rm. Babey, bisa dimulai dengan animasi misioner. Lalu, pembukaan (sapaan), Sabda dan Perayaan Iman Penutup.
Setelah mendapat pencerahan Rm. Babey, sesi berikutnya peserta masuk dalam sesi melatih kreativitas yang dipandu Kak Bowo dan Kak Ina dari Tim KKI Keuskupan Denpasar. Diawali dengan kreativitas melipat kertas, lalu diberi gambar.

Selanjutnya peserta masuk dalam kelompok untuk melatih kreativitas. Peserta dibagi dalam 7 kelompok. Setiap kelompok selain wajib membuat kreativitas sesuai arahan fasilitator (pemandu), mereka juga wajib menyiapkan yel-yel kelompoknya.
Dalam latihan membuat kreativitas, masing-masing kelompok diberikan satu perikop Kitab Suci, lalu dari perikop Kitab Suci itu setiap kelompok membuat kreativitas dengan alat peraga yang ada.
Hasil kreativitas yang bersumber dari bacaan Kitab Suci itulah yang dijadikan bahan simulasi bina iman oleh masing-masing kelompok. Kerja kelompok menghabiskan waktu sekitar dua jam.

Selesai mengerjakan tugas dilanjutkan dengan presantasi hasil kerja kelompok, sekaligus dijadikan simulasi bina iman.
Hasil kreativitas dan presentase kerja kelompok kemudian mendapat evaluasi dari Tim KKI Keuskupan Denpasar.

Secara keseluruhan hasil kerja mereka mendapat apresiasi dari Romo Babey maupun Tim KKI lainnya dengan beberapa catatan (masukan) yang perlu untuk terus ditingkatkan dengan terus mengasah diri dan selalu aktif dalam pendampingan anak-anak Sekami di paroki masing-masing. *
Hironimus Adil



