Seperti Mentari Siap Terbit di Pagi Hari dan Siap Terbenam di Kala Senja
(Refleksi 75 Tahun Usiaku)

Hidup yang tidak diperiksa atau tidak dipertanyakan adalah hidup yang tidak layak dihayati (Sokrates)
Pendasaran Kitab Suci (bacaan harian 25 Agustus 2024)
Demi pemurnian iman kepada Yahwe, Allah mereka, maka menjelang wafatnya, Yosua mengumpulkan semua suku orang Israel di Sikhem. Dipanggilnya para tua-tua, para kepala, para hakimnya dan para pengatur pasukan Israel. Mereka berdiri di hadapan Allah. Maka berkatalah Yosua kepada seluruh bangsa itu, “Jika kamu menganggap tidak baik untuk beribadah kepada Tuhan, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah: Kepada dewa-dewa yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang Sungai Efrat, atau kepada dewa orang Amori yang negerinya kamu diami ini? Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan!” Maka bangsa itu menjawab, “Jauhlah dari pada kami meninggalkan Tuhan untuk beribadah kepada allah lain! Sebab Tuhan, Allah kita, Dialah yang telah menuntun kita dan nenek moyang kita dari tanah Mesir, dari rumah perbudakan; Dialah yang telah melakukan tanda-tanda mukjizat yang besar ini di depan mata kita sendiri, dan yang telah melindungi kita sepanjang jalan yang kita tempuh, dan di antara semua bangsa yang kita lalui. Kami pun akan beribadah kepada Tuhan, sebab Dialah Allah kita.” (Bdk. Kitab Yosua 24: 12a. 15-17.18b; bacaan pertama Minggu ke XXI B, 25 Agustus 2024).
Hal kedua: Ketika Yesus menyelesaikan ajaran-Nya tentang roti hidup darah dan dagingNya, banyak dari murid-murid-Nya berkata, “Perkataan ini keras.” Para murid tidak memahami ajaran Yesus, lalu mereka pergi meninggalkan Yesus. Maka bertanyalah Yesus kepada ke-12 muridNya, maukah kamu pergi juga? Jawab Simon Petrus: “Tuhan kepada siapa kami akan pergi? Engkau mempunyai sabda hidup yang kekal. Sekarang kami tahu dan percaya, Engkau yang kudus dari Allah (bdk. Yoh 6: 67-69; bacaan Injil Minggu ke XXI B, 25 Agustus 2024).
Dari Injil di atas, Simon Petrus atas nama ke sebelas murid yang lain menyatakan kesetiaan mengikuti Yesus Sang Guru dan tetap percaya kepadaNya. Suatu pemurnian iman kepada Yesus tekah diperikasa/telah dipertanyakan.
Usia 75 Tahun Perlu Dipertanyakan
Merayakan usia 75 tahun juga diperiksa/dipertanyakan: mengapa usia 75 tahun patut dirayakan? Bagi saya, usia 75 tahun adalah usia berlian yang asli. Usia 75 tahun adalah usia kehidupan seseorang yang penuh dengan pengalaman dan kenangan berkarya, dikelilingi oleh cinta dari orang-orang yang hidupnya telah disentuh.

Setiap orang mengalami tahap-tahap kehidupan lahiriah: bertumbuh, tua, sakit dan … Kebanyakan orang tidak mau mengingat-ingat tahapan kehidupan itu, tidak pantas memikirkannnya, biarkan dia berjalan menurut ritme dan waktunya. Namun bagi orang Kristen, hidup ini ada karena cinta. Maka tahapan kehidupan ini perlu diingat, di dalamnya ada kepahitan, juga ada kegembiraan.
Semuanya dihadapi dengan cinta, karena cinta mengalahkan semuanya. Adapun kehidupan ini adalah anugerah besar dari Tuhan. Bagi manusia sungguh sangat tak ternilai. Setuasi saat kehidupan ini kita jalani dalam dan bersama Tuhan.
Cicero, orator Republik Romawi, tentang hari tua, ia berkata, adalah musim gugur kehidupan.
Paus Yohanes Paulus II (sekarang Santo) berkata: “Kita perlu mengamati perubahan-perubahan yang sedang terjadi dialami, di gunung-gunung dan di daratan, di padang rumput, di hutan dan di lembah-lembah, pada pepohonan dan tanaman-tanaman, daun-daun menguning dan berjatuhan memenuhi muka bumi, dan rumput-rumput hijau menguning perlahan jadi kering.”
Ada persamaan dengan ritme tubuh kita, manusiawi dengan sikulus alam dan kita bagian dan persitiwa alam. Kehidupan manusiawi kita mengalami kemerosotan seperti yang dialami oleh semesta (kesaksian pengharapan).
Usia Tua dalam Kitab Suci
Kitab Suci berkata tentang usia tua. Umur panjang adalah tanda hidup ini dicintai Tuhan. Kitab Kejadian 11: 10-30 mengatakan Abraham, Isak dan Yakub, Musa, Elisabet dan Zakarias, Simeon dan Anna, mengalami usia yang panjang, membuat mereka memberikan keskasian yang meyakinkan, Tuhan mencintai hidup ini.

Rasul Petrus dalam usia tuanya menyerahkan hidupnya demi cinta akan Kristus, Tuhan dan Gurunya. Setelah kebangkitanNya, ada pertemuan dan makan bersama-sama para murid di Danau Tiberia. Sesudah itu, Yesus bertanya kapada Petrus: “Simon anak Yohanes, apakah Engkau mencintai Aku lebih dari mereka ini?” Simon Petrus menjawab: “Tuhan, Engkau tahu, Aku mencintau Engkau.” Jawab Yesus: “Gembalakan domba-dombaKu.” Sebanyak tiga kali Yesus bertanya kepada Petrus demikian. Jawaban Petrus tetap sama: “Aku mencintai Engkau Tuhan.”
Santo Paulus, ia sudah tua, terkurung dalam penjara, menulis: “Darahku sudah kuserahkan sebagai persembahan dan kematianku sudah dekat. Aku telah mengakiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (2 Tim 4: 6-7).
Yohanes Rasul, ketika sudah tua, mengunjungin komunitas-komunitas Kristen, umat bertanya, apa pesan Yesus? Ia menjawab: “Kasihilah satu sama lain.”
Pesan ini juga menjadi pesan bagi umat Praya-Selong, “Kasihilah satu sama lain.” Dengan cinta membesarkan umat kecil Praya-Selong (pesan Rm. Eman, Deken NTB).
Karena itu, jauhilah segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah. Tetapi hendaklah kamu ramah tamah dan saling mengampuni, sebagaimana Allah dalam Kristus telah mengampuni (Ef. 4: 31-32).
Saling mengasihi satu sama lain membuat hidup ini jadi bahagia dan gembira. Maka Sokrates (Filsuf Yunani) berkata, “Letak kebahagiaan hidup manusia bukan pada materi yang dimiliki, melainkan pada kebaikan yang dilakukan dengan hati yang tulus dan benar.”
Setitik Terang di Kegelapan
Dikisahkan seorang bapak dari China. Ia sudah tua, mau menyerahkan seluruh kekayaannya kepada ke-3 orang putranya dengan persyaratan ini. mereka berada di sebuah ruangan, lalu sang ayah berkata: “Penuhilah ruangan ini, sampai penuh pada waktunya. Dialah yang mendapatkan seluruh kekayaanku, kepada mereka diberikan sejumlah uang.”
Putra sulung bersama orang-orang sewaannya mulai memotong daun-daun pohon dan mengisi ruangan itu, namun pada waktunya cuma setengah ruangan yang terisi. Demikian juga anak kedua, bersama teman-temanya mulai memotong rumput kering, lalu mengisi ruangan itu, namun cuma setengah ruangan yang terisi.
Terakhir anak bungsu, pergi ke toko dan membeli sebatang lilin seharga 500 rupiah. Memanggil ayahnya, lalu lilin itu dinyalakan. Sang bapak menyaksikan seluruh ruangan terisi penuh oleh cahaya lilin itu. Putra bungsu memperoleh seluruh kekayaan bapaknya. Sang bapak yakin dia akan menggunakannya dengan baik karena dia punya hati dan otak.
Kebaikan seperti nyala lilin yang memenuhi hati yang sederhana dan tulus, membuat diri seseorang berharga dan terhormat dan suka kebaikan punya nilai abadi. Kata Yesus; “Apa yang kamu lakukan bagi saudaraku yang susah, kamu melakukannya untuk Aku.”

Jelang perayaan HUT 75, saya jalan-jalan dan bertemu dengan seorang ibu di rumahnya, kopi pagi sambil bincang-bincang saya bertanya: “Dalam usia yang sudah tua ini, apa yang dibuat ibu guna mengisi sisa kehidupan ini?”
Jawabnya: “Dulu saya Ketua PSE Paroki, semangat kumpul bansos berupa beras, minyak goreng, telur dan lain-lain untuk dibagikan kepada keluarga-keluarga yang berkekurangan, terlibat dalam kegiatan KBG, mengunjungi sesama yang sakit. Juga tak ketinggalan periksa kesehatan saya pada dokter. Karena semakin tua, sekarang saya lebih banyak berdoa, baca Kitab Suci, buat renungan sedikit, meski tidak sebanyak seorang imam seperti anda. Tetapi berbuat baik, selama masih ada kesempatan. Ya, hidup ini pendek dan pasti berakhir dengan sebuah kematian.” Lama berdua berdiam diri…
Jangan Takut Tua
Ada seorang penyanyi menyanyikan lagunya dengan kata-kata ini: Kita semua nanti akan menjadi tua. Itu adalah pasti. Jangan kita takut karenanya. Tidak mengapa untuk menjadi tua, asal tetap berjiwa muda dalam semangat hidup kita. Selalu bersyukur.
Ya, selalu bersyukur dengan apa yang kita alami. Orang yang selalu bersyukur adalah orang yang tahu cara menikmati hidup ini. Rasa syukur adalah jendela hati ini untuk melihat keindahan-keindahan cipataan Tuhan di sekitar kita.

Lihatlah sinar mentari pagi, ia tidak protes dan mengeluh. Namun sinarnya melingkupi ke segala penjuru dan sangat begitu berarti bagi semua kehidupan. Jadilah kita seperti sinar mentari pagi yang siap terbit dan siap terbenam di kala senja. Jadilah kita sinar mentari pagi bagi orang lain, di saat langit menjadi abu-abu.
Kita semua pasti akan menjadi tua, janganlah kita takut seperti setiap mentari siap terbenam di ufuk barat. Adalah bukti, setiap yang ada di muka bumi memiliki akhirnya.
Mazmur 90:10 berkata: “Masa hidup kami 70 tahun dan jika kami kuat 80 tahun dan kebangaannya adalah kesukaran dan derita..”
Maka, ajarlah kami menghitung-hitung haru hidup kami, supaya kami beroleh budi yang arif. Berilah kami kegembiraan seimbang dengan hari-hari penderitaan kami. Seimbang dengan tahun kemalangan kami.***
(Sebuah permenungan ketika memasuki usia 75 tahun tanggal 25 Agustus 2024;
Penulis :

Bartholomeus Bere
Pastor Paroki St. Yohanes Pemandi Praya-Selong



