LINTAS PERISTIWA

PERTEMUAN PARA DOSEN KITAB SUCI

“Membahas Tantangan Pengajaran Kitab Suci Dewasa Ini, Dan Menemukan Solusi Inovatif untuk Perencanaan Program 2025-2030”

Denpasar,   Pertemuan para Dosen Kitab Suci (14-15/7/2025) sehari sebelum Pertemuan Nasional (Pernas) Lembaga Biblika Indonesia (LBI) Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) di Denpasar, berhasil menguraikan tantangan pengajaran Kitab Suci dan menemukan solusi inovatif untuk perencanaan program bersama periode 2026 – 2030.

Sebagaimana tradisi dalam Pernas LBI, sehari sebelum Pernas dimulai, selalu diadakan pertemuan nasional untuk para dosen Kitab Suci, mengingat sebagian besar Delegatus Kitab Suci dari masing-masing Keuskupan se-Indonesia adalah dosen Kitab Suci.

Karena itu sesuai tema Pernas LBI 2025, ”Mengisahkan Yesus Kristus Dalam Konteks  Asia dan Indonesia”, para Dosen Kitab Suci yang dikoordinir oleh Ketua LBI-KWI, RP.Albertus Purnomo,OFM; memanfaatkan waktu yang ada untuk berdiskusi atau sharing bersama.

Ketua LBI, RP. Albertus Purnomo,OFM tengah memandu Diskusi bersama para Dosen Kitab Suci.

RP. Albertus Purnomo,OFM  memberikan 3 buah pertanyaan diskusi untuk dibahas dalam diskusi kelompok. Ketiga Pertanyaan itu sebagai berikut, pertama : Apa yang menjadi tantangan pengajaran Kitab Suci dewasai ini? Kedua : Apa solusi yang inovatif untuk menjawab tantangan tersebut?  Ketiga : Apa program atau proyek para pakar Kitab Suci Katolik Indonesia yang dapat dilaksanakan selama periode 2026 – 2030.

Membahas Tantangan

Hasil diskusi dari tiga kelompok menyoroti beberapa tantangan pengajaran Kitab Suci dewasa ini. Menurut Kelompok Satu,  tantangan yang dihadapi dalam pengajaran Kitab Suci dewasa ini dibagi dalam 2 kategori.

Pertama, berhadapan dengan pengajaran formal kepada mahasiswa Sekolah Tinggi Seminari, STIPAS, ditemukan tantangan sebagai berikut: Pengenalan dan pemahaman Kitab Suci, tokoh-tokoh Kitab Suci dari para mahasiswa masih terbatas.

Minat dan motivasi belajar masih rendah. Pembuatan skripsi mahasiswa dewasa ini kebanyakan copy paste karena rendahnya budaya membaca dan kebanyakan mereka kurang fokus.

Beberapa pertanyaan yang menjadi bahan diskusi kelompok

Kedua, berhadapan dengan umat ditemukan beberapa tantangan: Kepemilikan Kitab Suci sangat terbatas. Kebanyakan umat zaman ini memiliki penhetahuan yang cukup baik tetapi dalam praktek pewartaan seringkali mengacaukan dengan pemikiran-pemikiran yang kurang tepat.

Banyak metode pendalaman Kitab Suci membuat umat tidak dapat mendalami sebuah metode dengan baik. Pemahaman Kitab Suci umat juga masih terbatas.

Menurut Kelompok Dua. Di tempat pembinaan calon imam, katekis dan guru agama, generasi Z kurang menonjol dalam literasi dasar berbahasa, pengetahuan Kitab Suci tidak memadai. Orang yang lebih dewasa menganggap pengetahuan akan iman bukan sebagai sesuatu yang utama.

Yang dinantikan bukan pengetahuan, melainkan sesuatu yang berkaitan dengan kehidupan (Signifikansi dan relevan Kitab Suci). Tidak semua umat memiliki Kitab Suci.

Menurut Kelompok Tiga. Perkembangan media komunikasi yang  sangat massif dan canggih menyediakan akses pengetahuan begitu luas sehingga para pengajar harus mempersiapkan diri dan meng-upgrade diri.  Keinginan mahasiswa untuk membaca buku-buku referensi sangat minim karena terbiasa mendengar platform media komunikasi yang isinya singkat dan sensasional sehingga daya kritis mereka berkurang.

Minat mahasiswa untuk membaca dan mempelajari Kitab Suci sangat berkurang dibandingkan dengan ilmu-ilmu filsafat dan ilmu-ilmu sosial lainnya karena dianggap sudah sering didengar. Akibatnya kemampuan untuk mendalami teks Kitab Suci secara serius menjadi sulit.

Menemukan Solusi Inovatif

Hasil diskusi dari tiga kelompok menemukan beberapa solusi inovatif  dalam menjawab tantangan-tantangan tersebut di atas sebagai berikut:

Menurut Kelompok Satu : Menciptakan metode pembelajaran Kitab Suci yang tepat, kreatif sesuai budaya setempat. Pembiasaan membaca Kitab Suci sejak anak-anak. Selain membaca, perlu juga menulis kembali dengan tangan ayat-ayat Kitab Suci yang dianggap penting dan membuat test-test kecil sebelum memulai kegiatan mengajar atau saat sebelum memulai kuliah.

Menurut Kelompok Dua : Perlunya kepemilikan Alkitab bagi semua peserta didik. Para pengajar mengatur jadwal untuk para siswa membaca Alkitab dan belajar langsung dari Alkitab. Pengembangan metode mengajar: metode proyek jangka pendek/presentasi. Membiasakan siswa untuk membaca dan menantang mereka  menunjukkan sesuatu yang tidak diketahui pengajar.

Para Dosen Kitab Suci terlihat serius dalam mendengarkan hasil diskusi kelompok.

Menurut Kelompok Tiga: Memanfaatkan media komunikasi sambil mengkritisinya dengan membaca buku-buku referensi yang berkualitas. Mendorong dan mewajibkan mahasiswa untuk membaca buku-buku referensi dengan memberi tugas membaca, meringkas, dan mengkritisi isi buku.

Mendorong dan mewajibkan mahasiswa menulis ulang teks Kitab Suci sambil menggarisbawahi yang tidak dimengerti untuk dicari maknanya secara lebih jauh dan menarik untuk memotivasi diri dan orang lain.

Merencanakan Program Bersama

Berdasarkan tantangan yang ada dan solusi inovatif yang ditemukan, Ketua LBI Romo Albertus Purnomo OFM  bersama para dosen berdiskusi merencanakan program bersama tahun 2025 – 2030 untuk menjawab tantangan pengajaran Kitab Suci dewasa ini

Tanggapan Ketua Delegatus Kitab Suci KWI

Ketua Delegatus Kitab Suci KWI, Mgr. Dr. Silvester San dalam tanggapannya mengatakan, pertemuan para dosen Kitab Suci sejauh ini dan bersepakat membuat tulisan-tulisan atau buku, itu sangat baik dan melanggengkan karya pewartaan Injil.

“Dalam diskusi kelompok dan hasil diskusi yang kita dengarkan, yang disoroti para dosen perlunya penulisan dengan bahasa secara ilmiah. Namun para Delkit, melihatnya dari praksis pastoral agar umat dapat dengan mudah mengerti atau memahaminya. Jika keduanya bisa berjalan dengan baik, maka akan berdampak baik pula bagi umat”, ungkap Mgr.San. ***

Penulis: Blasius Naya Manuk

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button