LINTAS PERISTIWA

15 Risiko Rawan Bencana di Bali

KUTA – Bali adalah dapur bencana atau termasuk daerah rawan bencana. Hal ini dikatakan Analis Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Bali I Gede Indra Iriawan, ketika menjadi narasumber pada Pelatihan Paroki Tangguh Bencana (tahap kedua), di Kuta, Kamis (24/7/2025).

Pelatihan tersebut dilaksanakan oleh Caritas Indonesia dalam kerja sama dengan Caritas – PSE Keuskupan Denpasar.

Gede Indra, dalam kesempatan ini memaparkan materi tentang ‘Manajemen Penanggulang Bencana dan Karateristik Kebencanaan.’ Gede Indra, didampingi Staf Ahli Bidang Kebencanaan Kota Denpasar Ardy Ganggas, sekaligus menjadi moderator.

Gede Indra Iriawan (duduk) dan Ardy Ganggas (berdiri)

Menurut Gede Indra, Bali sebagai dapur bencana, karena Bali salah satu daerah di Indonesia dengan risiko (potensi) bencana cukup tinggi. “Bali termasuk wilayah dengan multi potensi bencana: geologi, hidrometeorologi, dan antropogenik,” urainya.

Berdasarkan kajian risiko bencana Provinsi Bali tahun 2025-2029, papar Gede Indra, ada 15 jenis risiko bencana di Bali dengan kelas risiko ada yang tinggi, sedang dan rendah.

Dari 15 jenis bahaya bencana, ada 10 jenis yang termasuk dalam kelas risiko tinggi yaitu banjir, banjir bandang, cuaca ekstrim, gempa bumi, kebakaran hutan dan lahan, letusan gunung api Agung, letusan gunung api Batur, kekeringan, tanah longsor, dan tsunami.

Salah seorang peserta aktif bertanya

Sedangkan yang termasuk bahaya bencana dengan kelas risiko sedang ada dua yaitu gelombang ekstrim-abrasi, dan likuefaksi. Sementara jenis bahaya dengan kelas risiko rendah ada tiga yaitu epidemi dan wabah penyakit, kegagalan teknologi, dan covid 19.

Dikatakan Gede Indra, dengan adanya potensi bahaya bencana di atas, maka keterlibatan komunitas berbasis agama seperti komunitas paroki Tangguh bencana dalam Gereja Katolik ini, sangat strategis dalam membangun budaya siaga bersama.

“BPBD mendukung penguatan kapasitas Paroki Tangguh Bencana, melalui pendekatan partisipasi dan karakteristik,” imbuhnya.

Siklus Manajemen Bencana

Gede Indra juga menjelaskan tentang siklus manajemen bencana yang terdiri dari: Pra Bencana, Saat Bencana dan Pasca Bencana.

Aktivasi dalam siklus pra bencana, antara lain dokumen kebencanaan, sosialisasi dan edukasi kebencanaan, mitigas struktural dan non-struktural, gladi/simulasi evakuasi dan penguatan sistem peringatan dini bencana.

Pada saat bencana yang mesti dilakukan adalah respons darurat evakuasi, pertolongan, pencarian dan penyelamatan; komando tanggap darurat (posko, logistik, komunikasi); dan pemantauan situasi dan distribusi bantuan.

Sedangkan dalam siklus pasca bencana aktivasinya adalah rehabilitasi dan rekronstruksi; pendampingan psikososial; reorganisasi kelembagaan; dan pengembangan dan dokumentasi kejadian.

Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey (kiri) menyerahkan kenang-kenangan

Gede Indra, menilai paroki tangguh bencana sebagai mitra strategis kolaboratif. Sebagai komunitas relawan, paroki merupakan pilar strategis dalam pengurangan risiko bencana komunitas. Kolaborasi dilakukan melalui pelatihan, asistensi teknis dan integrasi dalam sistem kebencaaan daerah.

Materi pelatihan selanjutnya langsung difasilitasi Adi Rusprianto dan Toufin dari Carita Indonesia. Kedua Fasilitator Caritas Indonesia secara bergantian mengisi materi pelatihan, seperti panorama kebencanaan di Indonesia, pengurangan risiko bencana berbasis masyarakat, keluarga tangguh bencana, aksi merespons peringatan dini (AMPD), mekanisme aktivasi paroki tangguh dan sebagainya.

Toufin, dalam penjelasan alur proses pelatihan (orientasi) mengingatkan bahwa peserta hadir bukan hanya untuk mempelajari materi, tapi bagaimana bisa berlanjut dengan melakukan tindakan secara kongkret setelah belajar bersama dalam pelatihan ini.

Peserta bersama narasumber dan fasilitator, Vikjen, dan panitia

“Setelah selesai kegiatan, kita harus ada rencana aksi yang dibuat, misalnya mulai dengan sosialisasi, edukasi dan semua itu perlu didokumentasi,” katanya.*

Hironimus Adil

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button