Sidang Pleno DPK Hari Ketiga Melangkah ke Proses Perncanaan Pastoral 2026

DENPASAR – Para fungsionaris pastoral Keuskupan Denpasar berhasil menyusun perencanaan pastoral 2026 dalam sidang pleno Dewan Pastoral Keuskupan (DPK) hari ketiga, Rabu (26/11/2025).
Selama sehari penuh para peserta sidang berkutat pada penyusunan program dalam kelompok masing-masing baik dekenat maupun bidang Puspas. Diskusi program pastoral 2026 berlangsung dari pagi hingga siang hari. Berlanjut pada presentase program dari sore sampai malam oleh masing-masing Sekretaris Dekenat dan Ketua-ketua Bidang Puspas.
Namun, pada pagi hari sebelum masuk dalam kelompok diskusi program pastoral, diawali pengantar sekaligus arahan dari Direktur Puspas/Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey.

Rm. Babey, demikian biasa disapa, mengungkapkan agar dalam menyusun dan memperdalam program pastoral 2026 harus berlandaskan pada tema: “Bangkit dan Bergerak Bersama mewujudkan Gereja Sinodal melalui Keluarga, SEKAMI, OMK, dan KBG yang solid dan solider.”
“Tema ini bukan sekadar slogan atau seruan moral, tetapi menjadi bingkai spiritual dan pastoral yang mengajak seluruh umat untuk bangkit, berjalan, dan bertumbuh dalam kesadaran bahwa Gereja hanya dapat disebut sinodal bila ia mampu merangkul setiap anggota sebagai bagian dari perjalanan yang sama,” kata Rm. Babey.
Rm. Babey, menggarisbawahi bahwa pastoral 2026 harus bertumpu pada empat pilar utama yang menjadi jantung dinamika Gereja Lokal yatu SEKAMI dengan fokus pada pembentukan iman sejak dini. Kedua, OMK sebagai regenerasi Gereja yang visioner dan kritis. Ketiga Keluarga sebagai Gereja rumah tangga yang memancarkan kasih dan pendampingan, dan keempat KBG sebagai komunitas basis yang menghidupkan persaudaraan dan pemberdayaan.
Romo Babey mengajak setiap peserta sidang untuk tidak sekadar menyusun program, tetapi menyusun arah gerak Gereja, dengan terlebih dahulu melakukan evaluasi jujur atas pengalaman tahun sebelumnya, kemudian penting menganalisis kebutuhan umat, terutama terkait tantangan era digital, kemiskinan struktural, kemandirian ekonomi, serta dinamika budaya Bali–NTB yang khas.
Melalui analisis ini, Romo Babey menegaskan dua fokus fundamental pastoral 2026 yaitu regenerasi SEKAMI dan OMK, agar pewarisan iman tidak terhenti dan Gereja selalu memiliki wajah muda yang kreatif. Kemudian penguatan fondasi Keluarga dan KBG, karena dari keluargalah Gereja tumbuh, dan dari KBG-lah Gereja menjadi dekat dengan rasa dan realitas umat.

Di sisi lain, Rm. Babey juga menekankan empat perhatian mendasar dalam proses penyusunan program, yaitu Inklusivitas, demi merangkul keberagaman umat di dalam keuskupan yang majemuk. Lalu, kesehatan mental, sebagai isu yang kini merasuki banyak keluarga dan kaum muda.
Berikutnya Dialog Kehidupan, karena Gereja dipanggil membangun relasi damai di tengah masyarakat multikultural, dan juga Ekologi agar Gereja ikut menjaga bumi sebagai rumah bersama.
Romo Babey kemudian memaparkan matriks perencanaan sebagai acuan kerja dan memetakan linimasa pastoral 2026 dalam empat kuartal: konsolidasi–sosialisasi, pelaksanaan inti, monitoring, dan evaluasi akhir.
Rm. Babey menutup arahannya dengan mengutip kata-kata Paus Fransiskus yang meneguhkan arah sidang: “Gereja Sinodal adalah Gereja yang mendengarkan; yang menyadari bahwa perjalanan bersama adalah cara terbaik menjadi Gereja di milenium ketiga.”
Setelah pengantar dan arahan Direktur Puspas, peserta memasuki diskusi kelompok pada level dekenat, bidang Puspas bersama komisi-komisi, untuk merumuskan rancangan program pastoral secara lebih terarah dan kontekstual.
Program Pastoral 2026
Setelah berdiskusi secara mendalam tentang program 2026, pada akhirnya 4 Dekenat dan 3 Bidang bersama Komisi-komisi Puspas berhasil menyusun programnya. Masing-masing dekenat maupun bidang Puspas mempresentasi di depan forum pleno Rancangan Program Pastoral 2026.
Dalam tulisan ini, hanya diinformasikan rancangan Program Unggulan dari masing-masing Dekenat, Bidang dan Komisi di Puspas. Sedangkan program rutin, nanti dapat dilihat pada saatnya ketika buku Program Pastoral 2026 diterbitkan.
Adapun program unggulan dari empat dekenat antara lain, Dekenat Bali Timur memrogramkan penguatan katekese dasar dan keluarga muda yaitu Pengembangan Modul Perjalanan Katekumenat menuju Perkawinan, Kemah SEKAMI Remaja dan Pembinaan keluarga usia kurang dari 10 tahun.
Dekenat Bali Barat, menawarkan perpaduan kegiatan anak, kaum muda, dan keluarga, dengan program unggulan: Kemah SEKAMI, Dialog internal moderasi beragama bagi OMK, Pembinaan keluarga usia kurang dari 10 tahun dan Pembinaan calon pengantin.
Dekenat Bali Tengah, berfokus pada pembinaan keluarga dan revitalisasi komunitas, dengan program unggulan: Kemah SEKAMI, Hari Keluarga Sedunia tingkat dekenat, Penyegaran dan penguatan KBG.
Dekenat Nusa Tenggara Barat, menampilkan dinamika komunitas dan tantangan geografis, dengan program unggulan: Kemah SEKAMI Dekenat NTB, Konsolidasi pengurus KBG, Weekend OMK lintas agama dan Family Gathering.
Setelah presentasi program dari dekenat, berikutnya presantasi program unggulan Bidang Pembinaan Iman (BPI) dan Komisi-komisi BPI oleh Koordinator BPI RD. Agustinus Sugiyarto. BPI menyampaikan rangkaian program yang menegaskan kembali peran formasi iman sebagai jantung pelayanan Gereja, dengan menawarkan program unggulan Workshop penggerak KBG.
Sementara program unggulan Komisi Kateketik adalah Penyusunan modul katekese dan modul ibadat, Komisi Panggilan dan Seminar memrogramkan Live in panggilan untuk mendekatkan kaum muda dengan dunia panggilan; Komisi Kitab Suci menawarkan pembuatan Modul fasilitator Kitab Suci; dan KMKI memiliki program unggulan SOMA bagi pendamping SEKAMI remaja.
Presentasi berikutnya program dari Bidang Aksi Kemasyarakatan (BAK) Puspas yang disampaikan oleh Koordinator BAK RD. Evensius Dewantoro. BAK menegaskan komitmennya membangun keluarga, meningkatkan kesejahteraan umat, dan mendampingi dinamika sosial Gereja.
Program Unggulan BAK adalah Workshop membangun keluarga yang solid–solider. Dari Komisi PSE memrogramkan Pengembangan Lembaga Keuangan Mikro (LKM); Komisi HAK dengan program unggulan Penguatan fungsionaris HAK, Komisi Keluarga memiliki program unggulan Pembentukan dan pembekalan Tim Keluarga Keuskupan Denpasar; dan Komisi Komsos menawarkan Pelatihan AI untuk imam dan frater.
Berikutnya adalah presentase rancangan proram Bidang Pendidikan Umat (BPU) oleh Koordinator BPU RD. Flavianus Endi. BPU memperlihatkan keluasan misi Gereja di tengah masyarakat dengan program unggulan BPU adalah Jumpa Orang Muda Katolik V dengan tema membangun OMK Militan, Solid dan Solider.
Lalu Komisi Kepemudaan menawarkan program unggulan Retret kepemimpinan OMK; Komisi Kerasulan Awam dengan program unggulan Konsolidasi Rasul Awam se-Bali, Komisi Pendidikan memrogramkan Pembekalan Seksi Pendidikan Paroki.
Komisi Keadilan Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKP-PMP) memiliki dua program unggulan yaitu Konsolidasi komunitas migran-perantau, dan Literasi adaptasi perubahan iklim di Dekenat NTB. Sedangkan komisi yang baru dibentuk yaitu Komisi Gender dan Pemberdayaan Perempuan (KGPP), juga memilki dua program unggulan Pembentukan pengurus KGPP dan Sosialisasi KGPP (bekerjasama dengan KGPP KWI).
Rancangan program pastoral baik dari dekenat maupun Puspas, mendapatkan banyak masukan ataupun catatan kritis dari peserta sidang, seperti himbauan kepada Komisi Kerawam supaya mendorong tokoh umat untuk membangun jejaring dengan tokoh politik dan pemerintah, pentingnya pembaruan data migran–perantau demi pelayanan yang tepat; serta kreativitas dalam menggerakkan partisipasi umat diaspora.

Catatan kritis lainnya adalah perlunya indikator kegiatan yang lebih komprehensif; serta penegasan bahwa pembinaan SEKAMI harus memasukkan pendidikan nilai untuk mengatasi persoalan bullying yang kian mengemuka.
Peserta sdang juga menyoroti perlunya modul pembinaan umat disampaikan lebih awal ke paroki; pentingnya pengemasan Live in panggilan secara menarik; gagasan pembentukan GOTAUS sebagai gerakan dukungan bagi calon imam; serta kebutuhan untuk memperkaya modul KBG dengan unsur diakonia, merujuk pedoman lama dan hasil pra-Sinode V dan perhatian khusus juga diberikan pada inklusivitas workshop, terutama bagi umat difabel.
Peserta juga mengusulkan pentingnya ahli Humas Gereja yang paham budaya Bali untuk menanggapi isu-isu publik yang menyudutkan Gereja; lalu kebutuhan pendampingan PSE dalam penyusunan proposal umat; dan pentingnya memasukkan dimensi ekonomi keluarga ke dalam workshop KBG.
Di akhir sesi, Direktur Puspas selaku pimpinan sidang memberi kesempatan Bapak Uskup untuk memberikan catatan atas program yang sudah dirancang. Bapak Uskup memberi catatan bahwa program unggulan harus menyatu dengan tema.
Menurut Bapak Uskup, penekanan kuat muncul pada pentingnya memperkuat SEKAMI, OMK, Keluarga, dan KBG. Bapak Uskup kembali mengingatkan untuk memaksimalkan mengakses dana APP–HPS sebagai sumber daya pemberdayaa ekonomi umat.
Bapak Uskup, menegaskan kembali bahwa KBG harus menjadi komunitas pemberdayaan dan perjuangan, bukan berhenti sebagai kelompok doa saja. Bapak Uskup juga mengapresiasi kesinambungan JOMK, namun menekankan bahwa pelaksanaannya harus disesuaikan dengan kemampuan anggaran.

Catatan untuk komisi baru KGPP dipandang sebagai kesempatan besar untuk menyeimbangkan peran laki-laki dan perempuan dalam kehidupan Gereja. Sidang hari ketiga, seperti biasa ditutup dengan doa dan selanjutnya peserta istirahat. *
Hironimus Adil



