LINTAS PERISTIWA

TIM KOMISI KELUARGA KEUSKUPAN DENPASAR PERKUAT KOMPETENSI PENDAMPINGAN KELUARGA

Denpasar, 25 Agustus 2026 – Momen libur dimanfaatkan secara positif oleh Tim Komisi Keluarga Keuskupan Denpasar dengan berkumpul di Aula Keuskupan Denpasar, Selasa (25/8).

Pertemuan tersebut menjadi kesempatan bagi tim untuk membekali dan memperlengkapi diri agar semakin mampu memberikan pelayanan dan pendampingan bagi keluarga-keluarga Katolik, khususnya mereka yang sedang menghadapi berbagai persoalan dalam kehidupan keluarga.

Ketua Komisi Keluarga Pusat Pastoral Keuskupan Denpasar, Romo Adianto Paulus Harun, dalam sambutannya mengungkapkan kegembiraannya atas komitmen dan semangat Tim Komisi Keluarga dalam menjalankan tugas pelayanan bagi keluarga-keluarga Katolik di wilayah Keuskupan Denpasar.

Menurut Romo Adi, semangat pelayanan tersebut tampak dalam kerinduan anggota tim untuk terus berkumpul, belajar, dan membekali diri. Hal ini penting agar setiap anggota semakin memiliki keterampilan dan kemampuan dalam mendampingi keluarga dengan berbagai dinamika dan persoalan yang mereka hadapi.

“Kerinduan untuk selalu berkumpul dan membekali diri merupakan sesuatu yang sangat baik. Dengan terus belajar dan berbagi pengalaman, kita akan semakin terampil dalam mendampingi keluarga,” ungkap Romo Adi.

Ia berharap, pertemuan-pertemuan seperti ini dapat menjadi ruang bagi Tim Komisi Keluarga untuk saling berbagi pengalaman, melakukan sharing, mendalami studi kasus, serta menyusun langkah-langkah pelayanan bersama.

Semua itu diarahkan pada satu tujuan utama, yakni membantu keluarga-keluarga Katolik agar mampu menghadapi berbagai tantangan dan menemukan jalan keluar dari persoalan yang sedang mereka alami, tegas Romo Adi.

Masih kata Romo Adi, pendampingan, tidak cukup hanya dengan semangat untuk membantu. Para pendamping juga perlu memiliki pengetahuan, keterampilan, kepekaan, serta kemampuan untuk memahami persoalan keluarga secara lebih utuh.

Dalam pertemuan tersebut, Tim Komisi Keluarga mendapatkan pembekalan mengenai pendampingan psikologis bagi keluarga yang sedang mengalami masalah. Materi ini dibawakan oleh Ibu Paulin, seorang psikolog yang membantu tim memahami berbagai aspek psikologis yang perlu diperhatikan ketika mendampingi keluarga.

Agar pendampingan maksimal dan berhasil, kata Paulin, kita sebagai konselor berharap klien itu  Jujur, terbuka sekalipun itu aib; Percaya pada konselor;  Bisa membuat keputusan sendiri, konselor hanya mengarahkan; Menjalankan tugas-tugas dari konselor; Tetap berkomunikasi  dengan konselor untuk melihat perkembangan
masalahnya.

Lebih lanjut, Paulin menegaskan tentang hal-hal yang tidak boleh dilakukan oleh seorang Konselor adalah: Subjektif (berpihak pada orang yang dikenal dekat, baik, yang punya wewenang dll sekalipun dia salah); Berprasangka negatif karena mendengar perkataan orang lain  yang belum tentu benar.

Ia melanjutkan seorang konselor  dilarang menghakimi atau menyalahkan (tugas kita mendengar); Memaksakan pendapat atau solusi pribadi; Membocorkan rahasia (kecuali ada bahaya kekerasan, bunuh diri, wajib lapor).

Seorang konselor juga tidak boleh punya hubungan ganda, harus ada batas profesional; Tidak boleh memberi janji palsu; Tidak membawa masalah pribadi selama sesi; Tidak memaksa klien dengan nilai Agama atau kepercayaan kita, pungkas Paulin.

Melalui pembekalan tersebut, para anggota tim diajak untuk semakin memahami bagaimana mendengarkan keluarga dengan empati, mengenali persoalan yang dihadapi, serta memberikan pendampingan secara tepat tanpa menghakimi.

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya Komisi Keluarga Keuskupan Denpasar untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan pastoral keluarga. Dengan semangat belajar dan berjalan bersama, Komisi Keluarga berharap semakin hadir sebagai sahabat bagi keluarga-keluarga Katolik, terutama bagi mereka yang sedang berada dalam situasi sulit.

Keluarga yang kuat tidak selalu berarti keluarga tanpa masalah. Keluarga yang kuat adalah keluarga yang berani menghadapi masalah, saling mendukung, dan bersedia berjalan bersama untuk menemukan jalan keluar. Di sinilah kehadiran para pendamping keluarga menjadi sangat berarti. Christin***

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button