Bunda Maria Bunda Peziarah Pengharapan

PALASARI – Komunitas Kerasulan Kerahiman Ilahi Keuskupan Denpasar (KKKI KD) kembali mengadakan Rekoleksi II di tahun 2025 dengan tema Bunda Maria Bunda Peziarah Pengharapan.
Rekoleksi kali ini diadakan di Paroki Hati Kudus Yesus Palasari pada Sabtu, 17 Mei 2025, diikuti oleh 197 orang Devosan yang berasal dari 9 Paroki di Keuskupan Denpasar yaitu Paroki Hati Kudus Yesus Palasari, St. Petrus Negara, St. Maria Immaculata Tabanan, St. Yoseph Denpasar, St. Petrus Denpasar, Katedral Roh Kudus Denpasar, St. Fransiskus Xaverius Kuta, St. Silvester Pecatu dan Maria Bunda Segala Bangsa Nusa Dua.

Dalam sapaan kasihnya, Ketua KKKI KD, Agustinus I Made Totok Suharto mengatakan bahwa “Pewartaan Kerahiman Ilahi menjadi tugas para Devosan dimanapun berada tetapi perlu mengikuti rambu-rambu yang ada. Namun, yang diperlukan pertama kali adalah mewartakan Kerahiman Ilahi pada diri sendiri, keluarga dan masyarakat.”
RD. Yohan Ferrel Castillo, Pastor Rekan Paroki Hati Kudus Yesus Palasari menjadi Narasumber pada sesi pertama. Rm. Yohan mengingatkan para Devosan bahwa Kerahiman selalu identitik pada kasih yang membimbing, mengampuni dan membebaskan.

“Dengan teladan kasih dan pengampunan, Bunda Maria hadir ditengah kehidupan manusia agar menjadi teladan kasih dan pengampun sekalipun memerlukan proses untuk bisa memberikan pengampunan kepada orang-orang yang melukai hati kita,” ungkapnya.
Sementara itu, RP. Laurensius I Ketut Supriyanto, SVD, selaku Moderator KKKI KD sekaligus Deken Dekenat Bali Timur, menjadi Narasumber pada sesi kedua. Rm. Ketut mengajak Devosan untuk mengetahui arah tujuan hidup di dunia ini. “Kalau tujuan sudah tahu, jalan bisa kita pilih, arah bisa ditentukan dan atau kalau ada, siapa yang bisa kita ikuti,” katanya
Di tahun Yubileum ini, Devosan diajak mendalami Pengharapan yang adalah tujuan para Devosan. “Bersama dengan Tuhan, selalu ada harapan. Hal ini yang membuat Kerahiman Ilahi selalu tetap hidup hingga nafas telah usai,” lanjut Rm. Ketut.

Sebuah pertanyaan refleksi diajukannya, “Apakah selama ini jalan yang kita tempuh adalah jalan yang benar? Apakah benar yang diikuti adalah Yesus yang adalah kebenaran dan hidup? Dengan pengertian pemahaman yang jelas, Devosan dapat menentukan tujuannya dan untuk sampai kepada tujuan pada Kekudusan.”
“Devosan diajak belajar dari Sang Bunda, khususnya mengarahkan hati pada Bunda Maria Bintang Laut atau Stella Maris, Penuntun para Peziarah. Dalam setiap penampakannya, Bunda Maria selalu memberikan pesan yang hampir sama yang perlu dimengerti umat yaitu pertobatan dunia dan mengajak manusia tekun berdoa,” lanjufnya.

Menurut Rm. Ketut, Santa Faustina, salah satu rasul Kerahiman Ilahi mengikuti teladan kekudusan dari Bunda Maria yang selalu mengikuti kehendak Allah dengan taat dan setia membagikan belaskasih Kerahiman Ilahi bagi semua orang yang membutuhkan melalui doa.
Para Devosan pun diharapkan akrab dengan Bunda Maria Stella Maris yang menuntun umat manusia pada Sang Putra, Tuhan Yesus Kristus. Bunda Maria tidak pernah menuntun manusia pada dirinya sendiri.
Romo Ketut, mengingatkan “Kalau sudah mengalami yang namanya persoalan, lewati dan selesaikan. Nanti jika sudah insaf, sudah bisa berdiri kuat sebagai orang Katolik, sadarkan saudara-saudaramu, seperti Sabda Tuhan pada Petrus.”
“Bagaimana menjalani hidup ketika sudah melewati persoalan sendiri, itulah yang dinamakan Kerahiman Ilahi. Jika sudah melewatinya, orang akan cenderung diam. Karena pada waktunya, kita tidak akan lagi mengajari orang, namun memperlihatkan cara hidup,” sambungnya.
Kemudia Rm. Ketut mengajak, “Jaga baik-baik benih-benih yang ditanam, olah baik-baik, karena itu adalah kekuatan yang diminta oleh Tuhan untuk sesudahnya jika kamu tetap diam, artinya pertama, kamu belum sukses menyelesaikan tugasmu secara pribadi, kedua, tanggungjawab yang nanti harus dikerjakan kepada orang lain, engkau tidak sanggup melaksakannya karena tidak selesai mengurus diri sendiri. Selesaikan dulu lewat tuntunan bintang itu. Mereka yang sudah melewati Jalan kebenaran dan hidup, mereka tahu siapa yang ada di depannya.”

Menurut Rm. Ketut lagi, Doa tidak menyelesaikan masalah tetapi membantu kita untuk melewati masalah. Orang Katolik, Rasul Kerahiman Ilahi, diharapkan tidak mengeluh ketika doanya tidak terkabul.
“Doakan terus, karena ketika doamu belum terjawab itu berarti anda sedang menyumbang untuk indulgensi, itulah namanya pintu kerahiman. Itulah saatnya kita menyumbang untuk berkat bagi siapapun yang melewati pintu kerahiman,” katanya.

Pesan Rm Ketut, “Ketika doamu belum terjawab, doamu dipakai, dan biasanya dikumpulkan semua kekuatan itu dan baru dibuka 25 tahun sekali. Sumbang karena kita adalah rasul kerahiman yang membawakan belaskasih untuk orang lain, lewat ini, walau mungkin orang lain tidak pernah tahu bahwa kita mendoakan dia.”
“Doakan terus, biasanya Tuhan dengan sengaja membawa kita sampai pada titik terendah supaya doa kita menjadi doa yang sangat khusuk dan dari situ sumbangan kita menjadi sumbangan yang sangat berharga untuk hidup ini,” imbuhnya

Sebagai Moderator KKKI KD, Rm. Ketut berharap, “Kalau memang masih bersedia menjadi rasul – rasul Kerahiman Ilahi, mintalah bantuan Stella Maris, bintang penuntun. Santa Faustina memakai ini, bintang yang menuntunya mencapai kekudusan. Bintang inilah yang juga membuat kita mengikuti Santa Faustina karena kita tahu Santa Faustina berhasil melewatinya. Kita mau mengikutinya dengan jalan yang baik dan benar.
Jadikan ini bekal untuk perjalanan lanjut, untuk perjalanan bathin, perjalanan rohani, bintang penuntun.bulan Mei mudah-mudahan menuntun kita pada kesempurnaan melalui pengalaman Santa Faustina dibimbing oleh bintang timur, bintang laut, Bunda kita Bunda Maria.”

Setelah Ibadat Jam Kerahiman, Rekoleksi ditutup dengan Perayaan Ekaristi yang dipimpin oleh Rm Ketut dan Rm Yohan di Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Palasari. Satu dalam dalam doa, dalam kasih abadi Kerahiman Ilahi.
Penulis: Virly
Editor: Hiro/KomsosKD



