RD. Agustinus Sugiyarto Memasuki Usia 30 Tahun Imamat

DENPASAR – Sudah tiga dekade ziarah imamat dijalankan RD. Agustinus Sugiyarto, tepatnya 2 Oktober 2026. Rm. Agus ditahbiskan menjadi imam oleh Mgr. Vitalis Djebarus,SVD (alm.), di Paroki St. Theresia Tangeb, 2 Oktober 1996 bersama rekan imam lainnya.
Salah satu imam senior tersebut, saat ini dipercaya Bapak Uskup Denpasar Mgr. Silvester San, sebagai Sekretaris Uskup merangkap Ekonom Keuskupan Denpasar.
Perayaan Ekaristi bersama keluarga besar Keuskupan Denpasar dan sejumlah kecil umat yang biasa ikut misa harian sebagai ungkapan syukur, dilangsungkan di Kapel Keuskupan Denpasar, Jumat (2/10/2026).

Jika ada yang istimewa dari perayaan syukur ini, itu adalah kehadiran Ibu kandung Martina Sutinah, bersama adik sang Yubilaris Yohanes Hariyadi, yang jauh-jauh datang dari Boyolali, Jawa Tengah.
Usai misa, dilanjutkan pemotongan tumpeng ulang tahun di ruang makan keuskupan. Selepas itu, semua kembali ke rutinitas seperti biasa, termasuk Yubilaris yang hari itu memiliki agenda hadir pemberkatan SD St. Yoseph 1 Denpasar bersama Bapak Uskup dan Vikjen.

Acara resepsi sederhana yang dihadiri sejumlah imam, suster, keluarga besar keuskupan, keluarga, serta sejumlah undangan terbatas berlangsung keesokan harinya, Sabtu (3/10/2026) di Aula Keuskupan Denpasar. Acara sederhana ini diisi dengan pemotongan kue ulang tahun, sambutan tuan rumah oleh Vikjen, sambutan Yubilaris dan Bapak Uskup, serta makan siang bersama.
Vikjen RD. Herman Yoseph Babey, selaku tuan rumah penyelenggara acara, selain menyampaikan proficiat kepada Rm. Agus, juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Uskup yang mendukung acara ini. Ungkapan yang sama juga disampaikan kepada keluarga Romo Agus dan semua undangan yang hadir.
Sambutan Rm. Babey hanya singkat saja. Selanjutnya Rm. Babey, mengajak keluarga besar Keuskupan mempersembahkan lagu ‘Ave Maria’ karya Pance Pondaag untuk Yubilaris.

Bapak Uskup Denpasar Mgr. Silvester San, dalam kesempatan itu juga menyampaikan selamat berbahagia dan proficiat kepada Rm. Agus atas perjalanan imamat yang sudah mencapai 30 tahun.
Bapak Uskup juga memberikan apresiasi atas kehadiran keluarga (Ibu dan Adik Rm. Agus).
“Kehadiran keluarga memberi semangat kepada Rm. Agus dalam melanjutkan karya pelayanannya,” kata Bapak Uskup.
Bapak Uskup juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Yubilaris yang sudah 30 tahun menjadi imam dan melayani umat Keuskupan Denpasar. “Apresiasi dan terima kasih atas pelayanan Romo di sini,” ungkap Bapak Uskup.

Menurut Bapak Uskup, moto tahbisan yang diambil Romo Agus yaitu “Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang berlimpah-limpah itu berasal dari Allah.”( 2 Kor 4:7), telah menjadi spirit Rm. Agus dalam karya pelayanannya. Mewartakan Injil itu adalah harta yang sangat berharga yang dijalani Romo Agus, sebagai manusia yang rapuh (seperti tanah liat) yang dipercayakan Tuhan kepadanya.
“Moto ini telah mewarnai kehidupan imamat Rm. Agus. Sebagai manusia yang rapuh dipercayakan untuk menjaga dan melaksanakan harta yang paling berharga dari Tuhan, melayani sakramen-sakramen maupun pelayanan pastoral lainnya,” kata Bapak Uskup.

Di akhir sambutannya Bapak Uskup meminta dukung seluruh umat dan rekan imam agar Romo Agus tetap menjalahkan tugas pelayanan yang dipercayakan kepadanya dengan setia. “Kehadiran kita semua sungguh meneguhkan Rm. Agus. Seraya bersyukur dan bersukacira dalam kegembiraan bersama Rm. Agus, mari kita saling dukung dan saling meneguhkan.,” ajak Mgr. San.
Betapa Besar Kasih dan Kesetian Tuhan
Sebelumnya, Sang Yubilaris, RD. Agustinus Sugiyarto, dalam sapaan kasihnya, mengucapkan syukur kepada Tuhan atas bimbingan dan penyelenggaraan-Nya sehingga sampai pada perayaan 30 tahun imamatnya.
.
“Hari ini adalah sebuah kesempatan yang sangat istimewa bagi saya: 30 tahun perjalanan imamat saya. Tiga puluh tahun bukan sekadar angka. Di dalamnya ada begitu banyak cerita: ada sukacita dan air mata, keberhasilan dan kegagalan, saat-saat penuh semangat, tetapi juga saat-saat ketika saya harus belajar kembali percaya dan berserah kepada Tuhan.”

Romo Agus, melanjutkan, “Pada perayaan ini saya tidak berkata, lihatlah apa yang sudah saya lakukan selama 30 tahun. Sebaliknya, saya berkata: Lihatlah betapa besar kasih dan kesetiaan Tuhan dalam hidup saya.”
Tentang Motto tahbisannya: “Harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata bahwa kekuatan yang berlimpah-limpah itu berasal dari Allah.”( 2 Kor 4:7), dalam refleksinya, setelah 30 tahun menjadi imam, kalimat berikut ini semakin nyata.
“Saya adalah bejana tanah liat. Tanah liat itu rapuh. bisa jatuh, bisa retak, bisa pecah. Demikian pula seorang imam khususnya saya. Saya mempunyai keterbatasan, kelemahan, kekurangan, dan juga pernah mengecewakan orang lain. Tetapi Tuhan tidak menunggu saya menjadi sempurna untuk berkarya melalui saya,” katanya.

Romo Agus menambahkan, “Justru melalui bejana yang sederhana dan rapuh itulah, Tuhan menitipkan harta yang luar biasa: rahmat, kasih, pengampunan, Sabda, Sakramen dan keselamatan-Nya.”
Dikatakan Romo Agus, selama 30 tahun ini dirinya belajar bahwa imamat bukan terutama tentang menjadi kuat, tetapi tentang membiarkan kekuatan Allah bekerja melalui kelemahannya.
“Ada banyak orang yang Tuhan hadirkan dalam perjalanan imamat saya. Ada yang mengajarkan saya tentang kesabaran. Ada yang mengajarkan tentang pengampunan. Ada yang membuat saya kembali menemukan sukacita dalam pelayanan. Bahkan ada pengalaman-pengalaman sulit, yang setelah saya renungkan, ternyata menjadi cara Tuhan membentuk dan memurnikan panggilan saya agar menjadi bejana tanah yang berguna bagi orang lain,” imbuhnya.
Dari refleksi itu, kemudian Rm Agus menyampaikan terima kasih, pertama-tama kepada Tuhan yang telah memanggil, memilih, dan tetap mempercayakan pelayanan imamat ini kepada saya selama 30 tahun. Berikutnya kepada kepada YM. Bapa Uskup Vitalis Djebarus,SVD (alm.) yang menunjukkan jalan baginya untuk menjadi imam di Keuskupan Denpasar dengan melamar dirinya menjadi imam.
Terima kasih selanjutanya kepada YM. Bp. Uskup Benyamin Yosef Bria (alm.) dan secara khusus YM. Bp. Uskup Silvester San yang telah mempercayakan tugas-tugas serta membimbing dan mengarahkannya dalam melaksanakan tugas-tugas pelayanan di paroki maupun di keuskupan.

Tak lupa pula ucapan terima kasih kepada keluarga, yang telah merelakannya menjadi imam di Keuskupan Denpasar. Terima kasih para pembina, para imam, religius, sahabat, dan seluruh umat yang telah menjadi bagian dari perjalanan panggilannya. Juga terima kasih juga kepada mereka yang pernah menegur, mengkritik, bahkan mungkin kecewa kepada dirinya. “Semua itu menjadi bagian dari proses Tuhan membentuk saya menjadi pelayan yang lebih rendah hati,” ungkapnya.
Terima kasih juga kepada para donatur, yang dengan caranya masing-masing ambil bagian dalam menyukseskan acara ini, serta kepada panitia yang dikomandani oleh Rm. Vikjen Rm. Babey yang merupakan teman kelasnya.
Terima kasih yang sama juga kepada seluru umat dan semua pihak yang telah mendukungt panggilannya. “Jangan pernah berhenti percaya, bahwa Tuhan dapat bekerja melalui manusia yang sederhana. Jangan menunggu diri kita sempurna untuk melayani. Kita semua adalah bejana tanah liat. Tetapi di dalam diri kita, Tuhan menaruh harta yang sangat berharga,” katanya.
Romo Agus lalu mengungkapkan, memasuki tahun-tahun mendatang, “doa saya sederhana: Tuhan, jangan biarkan saya sibuk menjaga bejana sampai lupa pada harta yang ada di dalamnya. Jadikanlah hidup dan imamat saya semakin menjadi sarana agar orang lain dapat melihat Tuhan yang bekerja melalui saya.”

“Jika selama 30 tahun ada sesuatu yang baik dalam pelayanan saya, itu bukan karena saya hebat. Itu karena rahmat Tuhan, karena Tuhan yang mengisi bejana itu.Dan jika masih ada kekurangan dalam diri saya, saya percaya Tuhan belum selesai membentuk saya. Akhirnya, saya ingin mengajak kita semua untuk mengingat satu hal: kita mungkin hanya bejana tanah liat, tetapi di tangan Tuhan, bejana yang sederhana pun dapat menjadi tempat bagi kasih-Nya untuk hadir dan menguatkan banyak orang. Terima kasih atas cinta, doa, dukungan, dan kebersamaan selama perjalanan ini. Mohon terus doakan saya, agar saya tetap setia sampai akhir. Trima kasih, Tuhan memberkati kita semua.” *
Hironimus Adil



