PUSAT PASTORAL

Turba Gabungan Bidang Koordinasi Puspas Zona Pulau Lombok

MATARAM – Tiga Bidang Koordinasi Pusat Pastoral (Puspas) Keuskupan Denpasar, melakukan turba gabungan ke pulau Lombok dalam rangka merealisasikan program unggulan tahun 2025.

Bidang Pembinaan Iman (BPI), Bidang Aksi Kemasyarakat (BAK), dan Komisi Kepemudaan yang merupakan bagian dari Bidang Pendidikan Umat (BPU) secara serentak merealisasikan program unggulannya.

Turba (turun ke bawah) kali ini adalah yang kedua. Turba pertama sudah dilakukan di Singaraja untuk zona Bali Barat I (Paroki Singaraja dan Tabanan), awal Mei 2025.

Baik BPI, BAK dan Komisi Kepemudaan, dalam programnya ditetapkan bahwa pelaksanaan kegiatan dibagi ke beberapa zona (menggabungkan dua atau lebih paroki terdekat). Untuk efisiensi dan efektivitas, Puspas membijaksanai untuk turun berbarengan. Hal ini juga memudahkan paroki mengundang umatnya satu kali untuk tiga kegiatan dalam satu rangkaian waktu.

Acara pembukaan Seminar Bahaya Judol dan Pinjol

Turba untuk zona Pulau Lombok dilaksanakan Jumat-Sabtu, 16-17 Mei 2015. Seperti Turba pertama, dari kantor Puspas hadir secara lengkap mulai dari Dirketur Puspas yang juga Ketua Komisi Komsos RD. Herman Yoseph Babey dan semua staf Puspas (Sekretaris Komisi-komisi), Koordinator BPI RD. Agustinus Sugiyarto, Ketua BAK RD. Evensius Dewantoro, Ketua Komisi Keluarga RD. Adianto Paulus Harun, Ketua Komisi Kepemudaan RD. Rony Alfridus Bere Lelo bersama 4 orang Tim Kerja Komkep.

Kegitan zona Lombok diikuti oleh para imam dan umat utusan dari tiga paroki, yaitu Sta. Maria Immaculata Mataram, St. Antonius Ampenan dan St. Yohanes Pemandi Praya-Selong. Total peserta dari tiga paroki itu lebih dari 200 orang, termasuk OMK.

Kegiatan dilaksanakan dua hari. Hari pertama, Jumat (16/6) merupakan kegiatan BAK ‘Seminar tentang bahaya Judi Online dan Pinjaman Online.’ Judol dan Pinjol saat ini sedang marak dan sudah menimpa banyak korban, karena itu Gereja perlu menyikapinya dengan memberikan literasi dan edukasi yang benar kepada umat sebagai bagian dari katekese kontekstual. Kegiatan hari pertama ini dikuti semua utusan paroki, termasuk OMK.

Hari kedua, Sabtu (17/5), Komisi Kepemudaan menyelenggarakan kegiatan ‘Katekese Penguatan Iman dan Kepribadian OMK’ dengan sasaran khusus Orang Muda Katolik. Kegiatan Komkep bersama OMK dilaksanakan di aula SMPK St. Antonius Ampenan.

Sementara peserta lainnya termasuk para fasilitator dari tiga paroki itu, hari yang sama bekegiatan dengan BPI yaitu ‘Workshop Katekese Kontekstual’ bertempat di aula SDK St. Antonius Ampenan.

Perjalanan Sinodal

Acara pembukaan untuk ketiga kegiatan tersebut dilakukan secara bersamaan dengan pembukaan kegiatan Seminar Bahaya Judol dan Pinjol yang berlangsung di aula Paroki Sta. Maria Immaculata Mataram.

 

Sebelum memulai acara pembukaan, didahului ice breaking yang dipandu oleh tim dari Komisi Kepemudaan. Protokoler pembukaan diisi dengan dua sambutan yaitu Deken NTB yang juga Pastor Paroki Maria Immaculata Mataram RD. Martinus Emanuel Ano dan Vikjen Keuskupan Denpasar sekaligus Direktur Puspas RD. Herman Yoseph Babey.

Sius dan Mery dari Tim Komkep paragakan ice breaking sebagai pemanasan

Deken NTB RD. Emanuel Ano, mengapresiasi Pusat Pastoral (Puspas) karena dalam turba kali ini hadir dengan paket lengkap Puspas.

“Ini adalah wujud perjalanan sinodal (berjalan bersama) dalam rangka katekese kontekstual kepada umat. Perjalanan Sinodal ini juga memberi contoh kepada kita di paroki untuk memiliki semangat sinodal dalam karya pastoral paroki,” kata Rm. Eman, panggilan akrabnya.

Deken menambahkan, hakekat sinodal adalah berpartisipasi aktif sesuai peran masing-masing dalam membangun gereja.

Deken NTB RD. Martinus Emanuel Ano

Sementara Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey, yang membuka kegiatan itu, dalam sambutannya mengucapakan syukur kepada Tuhan yang menyelenggaraan seluruh kehidupan manusia.

Terkait seminar yang diselenggarakan gabungan komisi dalam BAK, Vikjen, mengharapkan agar kejahatan melalui judol dan pinjol illegal dapat diberantas. Sebab hal-hal negatif seperti judol dan pinjol ilegal bisasanya berdampak buruk bagi korban dan bisa berubah menjadi kejahatan.

Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey

“Orang jangan terjebak menggunakan media digital termasuk medsos untuk hal-hal negatif, tapi medsos dipakai untuk mewartakan kebenaran maupun untuk kabaikan-kebaikan lainnya dengan berbagai kemudahan yang ada. Kita semua dipanggil menjadi duta cinta untuk menghancurkan segala kejahatan, termasuk kejahatan judol dan pinjol,” kata Vikjen.

Demikian juga kegiatan yang diselenggarakan oleh BPI dan Komisi Kepemudaan, bertujuan untuk penguatan iman umat agar tidak mudah goyah dan kuat dalam menghadapi berbagai godaan dan tawaran duniawi seperti terlibat dalam judol dan pinjol ini.

Usai acara pembukaan dilanjutkan dengan seminar bahaya judol dan pinjol. Seminar ini terbagi dalam dua sesi. Sesi pertama menghadirkan narasumber dari Reskrimsus Subdit Siber Polda NTB, Briptu Dandy dan Ipda Andre.

Vikjen Keuskupan Denpasar menyerahkan tanda kasih kepada narasumber dari Reskrim Polda NTB

Dilanjutkan sesi kedua berupa panel diskusi dengan tiga narasumber yaitu Ketua Komisi Komsos RD. Herman Yoseph Babey, Ketua Komisi PSE RD. Evensius Dewantor Boli Daton dan Ketua Komisi Keluarga RD. Paulus Adianto Harun.

Peserta sangat aktif bertanya

Seminar bahaya Judol dan Pinjol yang merupakan program unggulan dari Bidang Aksi Kemasyarakatan berlangsung sampai pukul 22.00 Wita. Keesokan harinya dilanjutkan kegiatan unggulan BPI dan Komisi Kepemudaan di dua tempat yang berbeda dalam waktu yang hampir bersamaan.*

Hironimus Adil

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button