SEBERKAS KISAH LALU: Memori Erupsi Merapi 2010
*MALIOBORO-27 Agustus 2026-*Ada kenangan yang tidak pernah benar-benar selesai. Ia mungkin tersimpan jauh di sudut ingatan, tertutup oleh kesibukan dan pergantian tahun, tetapi sesekali muncul kembali ketika kita mencium bau tanah basah, melihat kabut menggantung di lereng, atau mendengar suara gemuruh dari kejauhan. Bagi banyak orang di sekitar Yogyakarta, erupsi Merapi 2010 adalah salah satu kenangan itu.
Merapi kala itu bukan sekadar gunung. Ia seperti sebuah kisah besar yang tiba-tiba membuka halaman paling menegangkan dalam kehidupan banyak orang.

Hari-hari menjelang erupsi terasa berbeda. Aktivitas gunung meningkat, suara gemuruh terdengar, dan berita tentang status Merapi semakin sering hadir di televisi dan radio. Warga yang tinggal di lereng mulai bersiap meninggalkan rumah. Ada yang membawa pakaian seadanya, dokumen penting, sedikit makanan, bahkan hanya membawa apa yang sempat diraih sebelum berangkat.
Kemudian datanglah letusan itu.
Langit berubah. Abu vulkanik menyelimuti jalan, halaman rumah, pepohonan, dan atap bangunan. Siang seakan kehilangan cahaya. Udara terasa berat. Di tengah kepanikan, manusia belajar satu hal yang sangat sederhana: keselamatan jauh lebih berharga daripada harta benda.
Banyak keluarga harus meninggalkan rumah dengan perasaan yang sulit digambarkan. Mereka tidak tahu kapan dapat kembali. Rumah yang selama bertahun-tahun menjadi tempat berteduh harus ditinggalkan. Sawah, ternak, kebun, toko, dan segala sesuatu yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari terpaksa ditinggalkan demi menyelamatkan nyawa.
Namun, di tengah bencana, selalu ada kisah tentang manusia yang memilih untuk tidak menyerah.
Pengungsian menjadi ruang perjumpaan yang unik. Orang-orang dari berbagai latar belakang duduk bersama, berbagi makanan, selimut, cerita, bahkan air mata. Mereka yang sebelumnya mungkin tidak saling mengenal tiba-tiba menjadi saudara dalam pengalaman penderitaan yang sama.
Relawan datang dari berbagai tempat. Para tenaga kesehatan bekerja tanpa mengenal lelah. Para pemuda mengangkut bantuan. Para ibu memasak untuk banyak orang. Anak-anak mencoba bermain di tengah suasana yang serba tidak pasti. Di sana, kemanusiaan menemukan wajahnya yang paling sederhana sekaligus paling indah: saling menolong karena sama-sama manusia.

Kini, enam belas tahun telah berlalu. Banyak rumah telah dibangun kembali. Jalan-jalan kembali ramai. Pepohonan menghijau. Kehidupan berjalan seperti biasa. Merapi pun kembali berdiri dengan wajah yang tampak tenang.
Tetapi ingatan tentang 2010 tidak sepenuhnya hilang.
Ia tinggal dalam cerita orang tua kepada anak-anaknya. Ia hidup dalam foto-foto lama yang mulai menguning. Ia tersimpan dalam nama-nama mereka yang pergi dan tidak pernah kembali. Ia juga menetap dalam kesadaran bahwa manusia, betapapun maju dan kuatnya, tetaplah kecil di hadapan alam.
Namun Merapi juga meninggalkan pelajaran lain: setelah abu turun, kehidupan dapat tumbuh kembali.

Dari tanah yang pernah tertutup abu, rumput kembali menghijau. Dari rumah-rumah yang pernah kosong, terdengar lagi suara kehidupan. Dari luka yang pernah dalam, manusia perlahan belajar tersenyum kembali.
Mungkin itulah makna terdalam sebuah bencana: bukan hanya tentang kehancuran, tetapi tentang bagaimana manusia menemukan kekuatan untuk bangkit.
Merapi 2010 kini menjadi seberkas kisah lalu. Tetapi ia bukan sekadar nostalgia. Ia adalah memori tentang kehilangan, keberanian, solidaritas, dan harapan.
Dan setiap kali Merapi berdiri dalam diam di bawah langit Yogyakarta, barangkali ia sedang mengingatkan kita: hidup boleh diguncang, tetapi harapan selalu punya jalan untuk tumbuh kembali.




