30 Tahun Imamat Romo Babey; Bukan Sekedar Perjalanan Waktu

Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey, tepat pada Kamis, 30 Juli 2026, memasuki usia tahbisan imamat ke-30. Misa syukur dan ramah tamah sederhana dipersembahkah tepat pada hari bahagia ini, bertempat di Catholic Center Denpasar.
Perayaan syukur itu dihadiri sejumlah imam, diakon, frater, keluarga besar Keuskupan Denpasar, keluarga Romo Babey, kolega dan sejumlah undangan lainnya. Misa syukur dipimpin langsung sang Yubilaris, didampingi 12 rekan imam dan 4 diakon.

Homili Romo Babey dalam misa syukur ini merupakan sebuah refleksi perjalanan imamatnya selama 30 tahun. Namun, homili indah itu tidak hanya sebuah ungkapan hati seorang imam senior yang sudah mengalami begitu banyak suka duka dalam menghayati imamatnya, tetapi kiranya menjadi refleksi bagi siapa saja,baik para imam maupun bagi umat yang selalu membutuhkan pelayanan yang prima dari seorang imam.
Dalam homili tersebut, Romo Babey juga hendak mengatakan bahwa menghidupi panggilan itu tidak mudah dan tidak ada yang sempurna. Romo Babey berefleksi, bahwa dirinya bertahan hingga 30 tahun, itu bukan karena kekuatannya, bukan pula karena dia setia, tetapi semata-mata karena Tuhan selalu menopangnya sehingga bisa berjalan sejauh ini, yang setiap hari diselamatkan oleh rahmat-Nya.

Homili sang Yubilaris, yang juga Ketua Komisi Komsos Keuskupan Denpasar sekaligus pemimpin redaksi media online keuskupandenpasar.net ini, kami sajikan secara utuh, sebagai sebuah permenungan dan pesan untuk para imam maupun seluruh umat. Berikut kutipan homili Rm. Babey secara utuh (sumber bacaan pertama: Yeremia 11:18-23; Injil: Yohanes 15:1-8).
“Tiga puluh tahun. Kalau angka itu hanya dibaca sebagai hitungan kalender, mungkin tidak terlalu berarti. Tetapi bagi seorang imam, tiga puluh tahun bukan sekadar perjalanan waktu. Di dalam tiga puluh tahun itu tersimpan ribuan misa yang dipersembahkan, ribuan absolusi dosa yang diberikan, ribuan baptisan, perkawinan, pemakaman, kunjungan kepada orang sakit, air mata yang dihapus, doa-doa yang dipanjatkan, dan juga malam-malam ketika hanya Tuhan yang mengetahui pergumulan hati seorang imam.
Hari ini saya tidak berdiri di altar ini sebagai orang yang merasa berhasil menjalani imamat dengan sempurna. Saya berdiri sebagai yang setiap hari diselamatkan oleh rahmat Tuhan. Kalau ada yang bertanya kepada saya, ‘Apa rahasia bertahan selama tiga puluh tahun menjadi imam?’ Jawabannya bukan karena saya kuat. Bukan pula karena saya selalu setia. Tetapi karena Tuhan yang tidak pernah berhenti menjaga dan menyayangiku.
Bacaan pertama dari Yeremia terasa sangat dekat dengan kehidupan seorang imam. Yeremia dipukul. Dihina. Dicemooh. Bahkan orang-orang yang dahulu dekat dengannya mulai menunggu saat ia jatuh (Moto tahbisan Rm. Babey dikutip dari Yeremia 11:20: Kepada-Mu kuserahkan Perkaraku-red).
Bukankah pengalaman seperti itu juga kadang hadir dalam pelayanan hidup kita, entah sebagai imam, biarawan-biarawati dan sebagai kaum awam? Ada saat-saat ketika niat baik disalah mengerti. Pengorbanan dianggap biasa. Pelayanan dibalas dengan kritik. Kasih dibalas dengan kekecewaan.
Ada saat di mana seorang imam bertanya dalam hati, ‘Tuhan, mengapa pelayanan yang kujalani justru menghadirkan begitu banyak luka?’ Yeremia bahkan berkata, ‘Aku tidak mau lagi menyebut nama Tuhan.’ Kalimat itu bukan tanda kehilangan iman. Itu adalah doa orang yang sangat lelah. Dan saya percaya, hampir setiap imam pernah mengalami saat-saat seperti itu. Ada hari ketika tubuh lelah. Ada hari ketika hati lelah. Ada hari ketika senyum di depan umat tidak sama dengan pergulatan yang sedang terjadi di dalam hati.
Namun Yeremia melanjutkan kalimatnya dengan sesuatu yang luar biasa. ‘Tetapi Firman itu menjadi seperti api yang menyala-nyala di dalam hatiku.’ Inilah mukjizat panggilan. Bukan kita yang mempertahankan panggilan. Panggilan itulah yang mempertahankan kita. Ketika kita ingin menyerah, Tuhan diam-diam masih bekerja di dalam hati kita.
Lalu, Injil hari ini membawa kita kepada Yesus yang berkata, ‘Akulah pokok anggur yang benar… tinggallah di dalam Aku.’ Sesudah tiga puluh tahun menjadi imam, saya semakin menyadari bahwa keberhasilan seorang imam tidak diukur dari banyaknya pembangunan gereja. Tidak juga dari jabatan. Tidak pula dari banyaknya orang yang mengenalnya.
Yesus tidak berkata, ‘Hasilkanlah banyak karya. Ia justru berkata, ‘Tinggallah di dalam Aku.’ Karena buah selalu lahir dari hubungan. Bukan dari kesibukan. Seringkali selama bertahun-tahun kita begitu sibuk bekerja untuk Tuhan sampai lupa tinggal bersama Tuhan. Padahal ranting tidak pernah menghasilkan buah dengan bekerja lebih keras sendirian. Ranting hanya perlu tetap melekat pada pokok anggur. Dan buah akan datang dengan sendirinya.
Semakin tambah usia imamat, semakin saya sadar bahwa doa jauh lebih penting daripada popularitas. Keheningan lebih menyuburkan daripada tepuk tangan. Kesetiaan dalam hal-hal kecil jauh lebih bernilai daripada karya-karya besar yang hanya ingin dilihat orang.
Kalau saya melihat kembali perjalanan tiga puluh tahun ini, saya menyadari bahwa Tuhan sering kali bekerja justru melalui hal-hal yang dahulu saya anggap kegagalan. Ada pintu yang terutup. Ada rencana yang berubah. Ada penempatan yang tidak pernah saya bayangkan. Ada orang-orang yang datang dan pergi. Ada luka yang ternyata mendewasakan. Ada air mata yang ternyata menjadi benih sukacita.

Barulah sekarang saya mengerti bahwa seorang imam tidak dibentuk terutama oleh keberhasilan, melainkan oleh salib yang dipikul bersama Kristus. Karena kayu salib dan kayu pokok anggur berasal dari pohon yang sama. Yang satu menjadi tanda penderitaan. Yang satu menjadi lambang kehidupan. Dan keduanya menunjuk kepada Kristus.
Sesudah tiga puluh tahun, saya juga belajar bahwa umat sebenarnya tidak membutuhkan imam yang sempurna. Umat membutuhkan imam yang dekat. Yang mau mendengar. Yang mau hadir. Yang mau menangis bersama yang menangis. Yang mau tertawa bersama yang bersukacita. Yang tidak lelah membawa orang kepada Kristus. Karena imam bukan tujuan. Imam hanyalah jembatan. Begitu orang bertemu Yesus, tugas imam sebenarnya sudah mulai berhasil.
Hari syukur ini juga menjadi kesempatan untuk berterima kasih. Terima kasih kepada orang tua yang telah mempersembahkan hidup anaknya kepada Tuhan. Kepada para uskup yang mempercayakan pelayanan. Kepada para imam yang menjadi saudara seperjalanan. Kepada biarawan-biarawati. Kepada seluruh umat Allah yang selama ini tidak hanya menerima pelayanan imam, tetapi juga menopang hidup imam dengan doa, perhatian, bahkan kritik yang membangun.
Sesungguhnya perjalanan tiga puluh tahun ini bukan perjalanan saya sendiri. Ini adalah perjalanan Gereja bersama saya. Kalau hari ini Tuhan bertanya lagi seperti tiga puluh tahun lalu, ‘Maukah engkau mengikuti Aku?’
Saya kira jawaban saya bukan lagi jawaban seorang imam muda yang penuh semangat, tetapi jawaban seorang imam yang telah melihat begitu banyak karya Tuhan. Seorang imam yang sering masuk dalam pergumulan Getzemani imamatnya. Seorang imam yang berjalan mengikuti Yesus sambil memikul salib hidupnya, seperti perjalanan Simon dari Kirene.

Seorang imam yang karena kerapuhannya sebagai manusia, lalu berteriak kepada Tuhan seolah-olah Allah meninggalkannya. Seorang imam yang pelayanan imamatnya dilakukan dengan syukur dan kegembiraan dalam kebangkitan Yesus. Seorang imam yang diutus seperti domba ke tengah serigala. Seorang imam yang siap diutus ke mana saja sesuai dengan rencana dan kehendak Tuhan dalam hidupnya.
Jawabanya sederhana: ‘Tuhan aku tidak tahu berapa lama lagi Engkau menghendaki aku melayani. Tetapi selama Engkau menjadi pokok anggurku, ijinkan aku tetap menjadi ranting-Mu. Mungkin ranting yang mulai menua, mungkin tidak lagi sekuat dahulu, tetapi biarlah tetap menghasilkan buah yang memuliakan nama-MU.’
Karena pada akhirnya, yang akan dikenang bukan berapa lama saya menjadi imam. Melainkan apakah selama hidup saya, orang-orang semakin mengenal Kristus melalui pelayanan imamatku. Semoga setelah tiga puluh tahun ini, Tuhan tidak menemukan seorang imam yang merasa sudah selesai, tetapi seorang murid yang masih ingin terus belajar mengasihi.
Selama Tuhan masih mempercayakan hidup dan pelayanan ini kepada saya, saya ingin tetap menjadi imam yang berjalan bersama umat, mendengarkan sebelum berbicara, melayani sebelum dilayani, mengasihi sebelum dihakimi, dan dalam segala sesuatu mengarahkan hati kita semua kepada Kristus. Sebab pada akhirnya, bukan berapa lama kita melayani yang akan dikenang, melainkan seberapa sungguh kita telah menghadirkan kasih Tuhan bagi sesama.

Dan ketika suatu hari nanti pelayanan di dunia ini berakhir, semoga kita mendengar suara Sang Guru yang selama ini kita wartakan, Dia berkata: ‘Baik sekali perbuatanmu itu, hamba-Ku yang baik dan setia… masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan Tuhanmu’ (Mat. 25:21).
Syukur bagi-Mu, Tuhan, terima kasih untukmu semua saudara dab saudariku terkasih! *
Hironimus Adil



