
PALASARI – BALI, Hari terakhir (5/7) Kemah Sekami Remaja Dekenat Bali Barat menjadi momen refleksi dan pengendapan diri yang mendalam bagi seluruh peserta. Selama kurang lebih satu setengah jam, Romo Herman Yoseph Babey mendampingi para remaja dengan mengingatkan kembali materi-materi edukasi yang telah diberikan selama berkemah.
Materi tersebut berfokus pada tiga refleksi penting: Mengapa Remaja Menjauhi Kitab Suci, Bagaimana Remaja Menyikapi Dunia Digital, dan Bagaimana Remaja Menjadi Pribadi yang Misioner, Solid, dan Solider.

Suasana interaktif terasa ketika beberapa pertanyaan diajukan kepada anak-anak. Bagi mereka yang berhasil menjawab dengan benar, Romo Babey memberikan hadiah berupa sebuah rosario.
Pada sesi ini, Romo Babey juga menegaskan agar sepulang dari perkemahan, anak-anak membawa perubahan sikap yang nyata. Setiap Sekami dari masing-masing paroki diminta merumuskan lima komitmen perubahan sikap.
Secara garis besar, poin-poin perubahan yang disepakati para remaja meliputi: Lebih rajin membaca Kitab Suci; Rajin merayakan Ekaristi dan berdoa; Rajin membantu orang tua dan belajar; Aktif mengikuti kegiatan SEKAMI dan melayani di Gereja dan Membatasi waktu bermedia sosial serta menggunakannya secara bijak sesuai kebutuhan.

Ekaristi Jalan Tol Menuju Surga
Setelah sesi refleksi, seluruh rangkaian kegiatan kemah resmi ditutup dengan Perayaan Ekaristi. Misa kudus dipersembahkan oleh RD. Herman Yoseph Babey sebagai konselebran utama, didampingi oleh para imam konselebran lainnya, yaitu RD. YB. Komang Suryana, RD. Yohan Ferell Castillo, RD. Yohanes I Made Mahastra Perdana, dan RD Bartholomeus Bere.

Dalam khotbahnya, Romo Babey menyampaikan refleksi yang menyentuh realitas hidup zaman sekarang. Katanya: “Kalau mau jujur dengan diri sendiri berhadapan dengan kemajuan zaman yang serba canggih, kita menemukan banyak kepincangan hidup.
Mungkin karena kita terlalu gaduh dengan dunia digital, lalu hidup penuh kebosanan karena tidak punya kesempatan mengolah hidup rohani dengan merayakan Ekaristi harian dan Mingguan,” ungkapnya.
Beliau lebih lanjut mengingatkan bahwa ketika aktivitas kehidupan digeser oleh media sosial dan manusia lebih memercayai dunia maya, dampaknya adalah rasa bosan, letih, lelah, otak menjadi tumpul, hingga menjauh dari Kerajaan Allah.

Banyak remaja kehilangan waktu untuk menolong orang tua, jarang bersosialisasi dengan teman dan menjauh dari Ekaristi sehingga hidup menjadi kacau balau.
Yesus dalam pengajaran-Nya membawa berita gembira dan mengajak semua yang berbeban berat datang kepada-Nya. “Semua beban akan diubah menjadi berkat ketika kita memilih datang kepada Yesus, bukan lari ke dunia digital,” tegasnya.
Romo Babey meminta para remaja untuk meninggalkan hidup lama. Lima perubahan sikap yang telah disepakati harus benar-benar dijalankan dalam hidup harian. Pribadi yang misione5r, solid dan solider juga harus semakin rendah hati, sebab Kerajaan Allah disembunyikan bagi orang pandai, tetapi dinyatakan kepada orang yang rendah hati.
“Pulanglah membawa sukacita perutusan. Selalu dekat dengan Yesus, bukan dengan AI (Artificial Intelligence). Jangan lupa berdoa dan merenungkan firman Tuhan. Mengakhiri kotbahnya Romo Babey mengutip kata-kata Santo Carlo Acutis, seorang remaja milenial asal Italia yang dikenal sebagai ahli komputer dan sangat mencintai sakramen Ekaristi, agar anak-anak rajin merayakan Ekaristi, sebab Ekaristi adalah jalan tol menuju surga,
Sesi Sambutan dan Apresiasi
Romo Yohan Castillo – Ketua Panitia
Dalam sambutannya, Romo Yonce menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang terlibat, utamanya kepada Bapak Uskup Denpasar, Dirdios KMKI, Deken Bali Barat, para pastor, Pendamping Sekami se-Dekenat Bali Barat, dan anak-anak Remaja peserta Kemah.
“Perjumpaan akan berakhir, membawa banyak cerita, tawa, kenalan baru, hingga kejailan. Ada yang sehat, sakit, maupun sedih. Begitu banyak warna yang kita alami. Limpah terima kasih untuk semuanya yang telah turut menyukseskan Kemah Dekenat Bali Barat ini,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa melalui kemah ini, telah lahir ‘bintang-bintang misioner baru’ dari Sekami Dekenat Bali Barat. Ia juga bersyukur kemah berjalan dengan sangat baik, sukses dan banyak nilai ditanamkan dalam kemah ini.
“Saatnya Kalian kembali ke keluarga dan paroki masing-masing. Jadikan diri kalian pelangi misioner, tumbuhkan api misioner, dan hidupi semangat itu,” pesannya kepada peserta.
- Herman Yoseph Babey – Direktur Diosesan (Dirdios) KKI/KMK
Dirdios KMKI Keuskupan Denpasar turut mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan atas penyertaan-Nya yang luar biasa sehingga kegiatan berjalan sukses dan lancar.
“Kesempurnaan hanya ada pada Tuhan. Terima kasih kepada Romo Komang dan Romo Yonce yang telah mengkoordinir kegiatan ini dengan sangat baik. Terima kasih juga kepada Yayasan Insan Mandiri dan susteran OSF Palasari yang telah memberikan fasilitas tempat berlangsungnya kemah. Semoga anak-anak pulang menjadi remaja yang solid dan solider,” ungkapnya.
Romo YB. Komang Suryana – Pastor Deken Bali Barat
Sebagai penutup rangkaian sambutan, Romo Komang menegaskan bahwa selesainya kemah adalah awal untuk menjadi manusia yang baru. “Waktunya kemah selesai. Pulanglah menjadi manusia baru dan tinggalkan manusia lamamu. Adalah sia-sia kemah ini jika kalian tidak berubah,” tegas Romo Komang.
Ia mengibaratkan remaja Sekami yang tidak ikut Ekaristi seperti pohon durian yang kekurangan air, perlahan-lahan akan layu dan mati. Oleh karena itu, ia meminta anak-anak untuk rajin merayakan Ekaristi bahkan jika memungkinkan mengikuti misa tiap pagi, rajin membaca Kitab Suci, serta tidak lupa berdoa dan mendoakan para imam.
“Kalian diutus membawa berkat bagi semua orang, memiliki komitmen diri: disiplin, tekun belajar, rajin membantu orang tua, lakukan semua itu dengan cinta yang dibuktikan serta aktif melayani Gereja, khususnya di paroki asalmu!”

Kemudian Romo Komang selaku Pastor Deken Bali Barat menutup kegiatan Kemah Sekami Remaja Dekenat Bali Barat dengan mengetok mic tiga kali, yang disambut tepuk tangan meriah peserta kemah.
Rangkaian kegiatan kemah resmi ditutup dengan penuh rasa syukur, menandai awal perutusan baru bagi seluruh peserta untuk menghidupi sukacita injil dan mewujudkan diri sebagai remaja misioner yang solid dan solider.

Salam Misioner. Christin***



