Perayaan Natal di Paroki Sumbawa, Pastor Paroki: Keselamatan Dimulai dari Saling Menerima

SUMBAWA BESAR – Suasana penuh sukacita menyelimuti Paroki Sang Penebus Sumbawa Besar. Pada perayaan Hari Raya Natal, Kamis (25/12), sebanyak 1.700 umat hadir untuk
mengikuti Misa yang dimulai pukul 08.00 WITA.
Misa dipimpin oleh Pastor Paroki RD. Laurensius Maryono. Tampak juga Frater Niko yang pernah TOP di paroki ini.
Kemeriahan Natal tahun ini terlihat semarak dari dekorasi apik hasil karya Tim Dekor Gereja. Sebuah pohon natal setinggi 4,5 meter berdiri megah, bersanding dengan kandang natal
unik dari ranting kayu hasil kreasi Lingkungan Teresia.

Sebelum misa dimulai, gereja mendapat kunjungan dari Kapolres Sumbawa, AKBP Marieta Dwi Ardhini, S.H., S.I.K., M.IK, yang hendak memantau langsung situasi keamanan di lokasi.
Dalam homilinya, RD. Laurensius Maryono mengangkat tema Natal tahun ini: “Allah Hadir untuk Menyelamatkan Keluarga,” dengan sub-tema dari Injil Yohanes 1:14, “Firman telah menjadi manusia.”
Romo Laurensius menekankan bahwa keselamatan dimulai dari sikap mau menerima dan menghadirkan Kristus dalam Keluarga melalui kerendahan hati. Selain menerima Kristus, juga penting sikap saling menerima sesama, baik dalam keluarga maupun dengan sesama yang lain.

Rm. Laurens juga menyoroti tantangan besar umat beriman saat ini, yaitu ego dan ketakutan untuk “bergantung” pada sesama.
“Menerima sesama adalah jalan keselamatan yang ditawarkan Allah. Namun, untuk sampai ke sana,
kita membutuhkan kerendahan hati seperti Maria,” ungkap Romo Laurens.
Pastor Paroki juga menjelaskan bahwa melalui ucapan “Jadilah padaku menurut perkataan-Mu” (Luk 1:38), Bunda Maria mengajarkan supaya membuang keakuan demi memberi ruang bagi rencana Tuhan.
“Tanpa kerendahan hati tersebut, mustahil bagi manusia untuk benar-benar menerima kehadiran orang lain, terutama dalam lingkup terkecil yaitu keluarga,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Romo Laurensius memberikan refleksi kritis terhadap realitas sosial saat ini. Dikatakan, di tengah tekanan ekonomi—terutama di masa-masa sulit seperti fenomena ‘tanggal tua’- kesabaran dalam keluarga sering kali rapuh.
Hal itu memicu ketersinggungan, kemarahan, hingga berujung pada gugatan hukum dan ini menyebabkan tingginya angka perceraian di kalangan umat Katolik.
“Semua ini terjadi karena keluarga kehilangan fokus pada Yesus sebagai sumber keselamatan.
Tanpa menghadirkan Yesus, rumah tangga kehilangan jangkar saat badai persoalan datang,” tegasnya.
Mengutip Yohanes 1:12, Romo mengingatkan bahwa setiap orang yang menerima Kristus
diberi kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Kuasa inilah yang memampukan pasangan suami-istri untuk tetap sabar, saling mengampuni, dan merasa aman di bawah perlindungan Tuhan, meski dalam situasi sulit sekalipun.
Kelancaran Misa Natal di Paroki Sumbawa tidak terlepas dari pengamanan ketat tim gabungan yang terdiri dari POLRES Sumbawa, Kodim 1607, Pol PP, DLLAJR, serta bantuan relawan Pramuka. Sinergi ini memastikan umat dapat mengikuti misa dengan tenang dan khidmat.

Di akhir perayaan, Pastor Paroki mengajak seluruh umat untuk menanggalkan kesombongan diri.
“Mari jadikan Yesus pusat kehidupan rumah tangga agar keluarga kita selamat, aman, dan penuh kasih,” tutupnya.*
Penulis: Made Suryani-Komsos Paroki Sumbawa Besar
Editor: Hiro/KomsosKD



