Misa Peringatan Arwah Orang Beriman Dipadati Umat
Vikjen : Mendoakan Orang Meninggal adalah Perbuatan yang Kudus

NUSA DUA – Taman Makam Katolik Mumbul, Nusa Dua, Minggu, 2 November 2025, dipadati umat beriman.
Mereka berbondong-bondong datang dari berbagai paroki dan stasi yang ada di Dekenat Bali Timur dan Dekenat Bali Tengah. Jumlahnya diperkirakan lebih dari 1.000 orang.
Kehadiran umat Allah di Taman Makam Katolik Mumbul itu dalam rangka mengikuti misa peringatan arwah orang beriman. Sebagian di antaranya, sebelum atau setelah misa, berziarah dan berdoa khusus di makam keluarganya yang ada ditempat itu.

Sebagai informasi bahwa menjadi tradisi dalam Gereja Katolik sejagad, setiap tanggal 2 November didedikasikan sebagai hari peringatan arwah orang beriman.
Tak heran, seluruh Gereja Katolik di dunia, termasuk di Keuskupan Denpasar, setiap 2 November mengadakan misa atau doa khusus untuk arwah umat yang telah meninggal.

Tidak hanya dalam gereja, misa atau doa bagi arwah orang meninggal juga dilaksanakan di sekitar areal makam Katolik atau tempat yang layak. Seperti yang biasa dilakukan Rukun Kematian Katolik Dekenat Bali Timur (RKK-DBT) setiap tahun menyelenggarakan misa peringatan arwah di Taman Makam Katolik Mumbul.

Untuk misa arwah tahun 2025 ini, RKK-DBT mempercayakan Rukun Kematian Paroki (RKP) St. Silvester Pecatu sebagai panitia pelaksana. Suatu kebiasaan yang baik dibangun oleh Pengurus RKK-DBT periode 2022-2025, yang diperpanjang untuk periode kedua 2025-2028, bahwa panitia pelaksana kremasi massal dan misa arwah diserahkan kepada setiap paroki/stasi anggota RKK-DBT secara berilir setiap tahun.
Sebelum misa berlangsung, masing-masing paroki atau stasi secara bergilir membacakan intensi mohon ketentraman dan keselamatan jiwa-jiwa yang disebutkan. Puluhan ribu nama dibacakan mulai dari pukul 09.00-14.45 Wita.
Misa peringatan arwah di Taman Makam Katolik Mumbul dimulai pukul 15.00. Kendati sebelum misa, wilayah itu sempat diguyur hujan, namun tidak menyurutkan niat umat untuk melambungkan doa yang terlebur dalam Ekaristi itu untuk keselamatan arwah-arwah yang telah meninggal.

Misa dipimpin Vikjen Keuksupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey sebagai selebrant utama, didampingi sejumlah imam konseleberan lainnya. Sedangkan petugas liturgi mulai dari Koor, Misdinar, Tatib, Prodiakon, Lektor, Pemazmur serta segala kelengkapan liturgi sepenuhnya ditanggung oleh Paroki Pecatu.
Perbuatan Kudus
Vikjen Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey, dalam pengantar misa mengungkapkan bahwa pada hari itu seluruh Gereja Katolik di dunia bersatu dalam doa dan kasih bagi semua arwah saudara-saudari yang telah dipanggil menghadap Tuhan.
“Hari ini kita mengenang mereka yang pernah mengasihi dan kita kasihi. Ada rasa rindu, ada kenangan, ada air mata, tetapi dibalik semuanya ada iman dan pengharapan bahwa hidup tidak berakhir di liang kubur, melainkan berlanjut di dalam kasih Allah yang kekal,” kata Vikjen.

Sementara dalam homilinya, Vikjen yang akrab disapa Rm. Babey, mengungkapkan beberapa Ajaran Gereja yang mendasari adanya doa bagi arwah.
“Gereja dengan tegas mengajarkan, berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi, bahwa doa untuk arwah memiliki nilai rohani yang besar,” tegasnya.
Rm. Babey, menyebutkan antara lain terdapat dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK 1030-1032), di mana mereka yang mati dalam rahmat dan persahabatan dengan Allah, tetapi belum sepenuhnnya dimurnikan, memang dijamin keselamatannya, tetapi sesudah mati mereka menjalani pemurnian, agar mencapai kesucian yang diperlukan untuk masuk ke dalam kebahagiaan Surga.

“Karena itu Gereja mendoakan mereka, mempersembahkan Ekaristi, indulgensi dan karya amal demi keselamatan jiwa-jiwa di api penyuncian,” imbuh Vikjen.
Dalam Konsili Trente pun, lanjut Rm. Babey, menjelaskan maanfaat mempersembahkan kurban misa, doa dan amal kasih bagi arwah, agar mereka dipercepat masuk dalam kebahagiaan kekal.
“Doa bagi arwah adalah buah iman kita akan persekutuan para kudus bahwa kita, Gereja di bumi (yang masih hidup), tetap bersatu dengan Gereja yang sedang dimurnikan (jiwa-jiwa di api penyucian) dan Gereja di Surga yang telah dimuliakan,” ungkapnya.

Romo Babey, juga mengatakan bahwa mendoakan orang yang telah meninggal adalah perbuatan yang kudus dan penuh iman. Hal ini, terungkap dalam Kitab 2 Makabe.
“Kita percaya bahwa mereka yang mati akan dibangkitkan, maka doa kita tidak sekedar mengenang masa lalu melainkan tanda iman akan masa depan, masa depan dalam kebangkitan,” tegasnya.
Romo Babey juga mengingatkan bahwa kematian adalah pintu menuju kehidupan baru bersama Allah, sebagaimana Yesus yang telah melewati pintu itu dan karena Ia telah bangkit.

Kemudian, St. Paulus dan 1 Korintus 15 juga mengajarkan bahwa Kristus adalah yang sulung dari antara orang yang telah meninggal. Kebangkitan Kristus adalah jaminan bahwa umat beriman yang meninggal akan dibangkitkan bersama Dia.
Yesus, lanjut Rm. Babey, dalam Injil yang diperdengarkan hari itu memberikan pengharapan dalam janjiNya. “Barang siapa datang kepada-Ku, ia tidak akan dibuang.” Sabda Yesus ini sejatinya berbicara tentang jaminan keselamatan dan kasih Bapa yang tidak berubah.
Di bagian akhir Rm. Babey, mengajak kepada yang masih hidup untuk selalu hidup dalam kasih dan pertobatan, dengan tidak menunda kebaikan, saling mengampuni dan untuk saling melayani.
Sebelum berkat penutup diisi beberapa sambutan. Setelah misa, dilanjutkan dengan pemberkatan semua makam maupun kolombarium yang ada di Taman Makam Mumbul oleh beberapa imam yang hadir sebagai konselebrant. *
Hironimus Adil


