LINTAS PAROKI

Dialog Lintas Iman “Draw The Line Bali”, Satukan Suara Perlindungan Alam

NUSA DUA – Dialog lintas iman yang bertajuk “Draw the Line Bali” diselenggarakan di Kompleks Puja Mandala, tempat berdirinya lima rumah ibadah dari lima agama, Sabtu (20/09/2025).

Helat tersebut digelar sebagai respons atas krisis iklim dan bencana yang melanda Bali dengan menghadirkan lima pemimpin agama.

Kelimanya bersatu untuk menyuarakan kepedulian dan komitmen perlindungan bumi, serta menekankan pentingnya komitmen untuk menahan laju kenaikan suhu bumi.

Dipilihnya Kompleks Puja Mandala karena tempat tersebut merupakan simbol keberagaman dan persatuan. Para pemuka agama yang hadir berbagi perspektif ajaran masing-masing tentang kewajiban merawat lingkungan sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral.

Kompleks Puja Mandala

Pemuka agama tersebut berasal dari Masjid Agung Ibnu Batutah, Gereja Katolik Maria Bunda Segala Bangsa (MBSB), Vihara Buddha Guna, GKPB Bukit Doa, dan Pura Jagatnatha.

Sebagai perwakilan dari Gereja Katolik MBSB Nusa Dua, hadir Ketua Seksi Hubungan Antar Kepercayaan (HAK), Rotman Naibaho, serta Alexander Sani Kelen yang menjadi pembicara pada tema “Merawat Bumi sebagai Ibadah”.

Acara dibuka oleh Hening Parlan, Direktur Greenfaith Indonesia, yang mengungkapkan bahwa ajang tersebut adalah momen lintas agama yang menyerukan ‘suara iman adalah suara alam.’

Menurut Hening, iman kepada Tuhan dari agama apa pun merupakan cerminan kasih Tuhan kepada ciptaannya, sehingga harus secara tegas mengambil jalan kebaikan dengan berbuat baik dan mencegah kerusakan. Dengan merawat iklim secara baik, maka dampak yang diberikan dari iklim tersebut tidak akan buruk.

“Kalau saja itu semua terawat dengan baik, mungkin dampaknya juga tidak terasa dan bahkan tidak ada, seperti halnya yang ada di Bali belum lama ini. Dari data terakhir, kalau tidak salah ada 18 orang yang wafat karena bencana yang ada di Bali,” ungkap Hening di Kompleks Puja Mandala, dalam dialog Sabtu (20/09/2025) itu.

Dialog lintas iman. Tampak para tokoh lintas agama saat memberikan pandangannya dari prespekti agama masing-masing tentang alam

Selain Hening, Sisilia Nurmala Dewi selaku Indonesia Team Leader 350.org Indonesia menyerukan bahwa dari Bali pesan damai dapat disampaikan, yakni dengan cara berhenti bertindak sewenang-wenang terhadap sesama dan alam ciptaan. Menurutnya, dengan energi dan vibrasi yang positif, dunia akan menjadi lebih baik lagi.

“Di Puja Mandala, perbedaan dipandang sebagai rahmat dan keberagaman sebagai kekuatan. Seruan ini ditegaskan kepada semua pihak agar berdiri di garis yang benar, bersama menjaga bumi, bersama menolak kehancuran,” tegasnya.

Selanjutnya, kelima perwakilan agama sama-sama menjelaskan perspektif agama masing-masing mengenai kewajiban merawat lingkungan sebagai bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral.

Dari Masjid Agung Ibnu Batutah, KH. Ibnu Subhan menjelaskan bahwa manusia akan dinasehati dengan keadaan, tetapi manusia juga mempunyai solusi untuk warisan generasi selanjutnya.

Dari Vihara Buddha Guna, Pandita Nyoman Setiabudi, menjelaskan mengenai larangan untuk menyakiti makhluk lain dan hidup berdampingan secara simbiosis. Berdasarkan ajaran agama Buddha, manusia dan alam sejajar, maka perubahan bumi disebabkan karena keserakahan.

Pandita Setiabudi memandang Bali sebagai pusat spiritual sudah mulai memperlihatkan tanda karma kolektif sebagai akibat dari pengelolaan lingkungan yang tidak seimbang.

Pendeta Wisesa dari GKPB Bukit Doa menyampaikan bahwa bumi adalah milik bersama, sehingga diperlukan dukungan terhadap kebijakan pro lingkungan, mendorong zero waste, dan menghindari konsumerisme.

Sementara itu, Jero Ketut Subianta dari Pura Jagatnatha menjelaskan nilai kesucian dan kebersihan alam perlu dijaga dan dilestarikan melalui berbagai jenis ritual.

Alexander Sani Kelen dari Gereja Katolik MBSB, yang mewakili Romo Paroki RD. Adianto Paulus Harun, menjelaskan mengenai Laudato Si yang merupakan ensiklik kepausan dari Paus Fransiskus.

Alexander Sani Kelen (pegang microphon) saat memberikan pandangan dari prespektif Gereja Katolik

Alexander mengutip isi kitab suci mengenai penciptaan dunia, bahwa manusia diberikan perintah oleh Tuhan untuk menguasai dan menaklukkan bumi.

“Kuasa yang diberikan berdasarkan kehendak Tuhan adalah merawat, melestarikan, dan menggunakan sesuai dengan kebutuhan. Dalam perkembangan sampai dengan detik ini, ternyata kerusakan alam itu juga menjadi perhatian gereja, sebab gereja juga menjadi bagian dari dunia,” jelasnya.

Alexander melanjutkan, pada ensiklik tertanggal 24 Mei 2015, Paus Fransiskus menuliskan keprihatinannya terhadap dunia, sehingga menyerukan adanya pertobatan ekologis.

Paus Fransiskus mengatakan bahwa bumi adalah rumah bersama dengan segala sesuatunya terhubung satu sama lain.

“Dokumen ini juga mengkritik budaya konsumerisme dan paradigma teknokratis yang merusak alam dan hubungan manusia dengan Tuhan. Karena ini sudah zaman teknologi, orang beranggapan teknologi dapat mengatasi segala krisis, padahal justru sebaliknya,” kata Alexander.

Dia menegaskan, pesan Paus Fransiskus dalam Laudato Si bukan hanya untuk umat Katolik, tetapi mendesak seluruh umat manusia untuk mengambil tindakan yang terpadu dan segera karena yang hidup di dunia bukan hanya orang Katolik, tetapi semua orang sebagai saudara. Oleh sebab itu, diperlukan solidaritas global dalam rupa dialog antar-umat beragama.

“Saya rasa, kita semua setuju bahwa bumi menjadi rumah kita bersama dan kita tidak menggantungkan diri pada orang lain atau siapa pun yang mengambil atau menginisiasi untuk merawat dan menjaga lingkungan. Kita semua inilah yang diberi tanggung jawab oleh Tuhan sejak diciptakan,” tutupnya.

Acara tersebut pada akhirnya diharapkan menjadi pijakan masyarakat Bali dan dunia dalam menempatkan perlindungan alam sebagai agenda utama pembangunan yang berkeadilan dan berkelanjutan.

Berbagai segmen masyarakat yang hadir mengeklaim mereka tidak akan berhenti menyuarakan pentingnya melawan krisis iklim dengan berbagai cara, khususnya melalui mimbar-mimbar keagamaan.

Penulis: Sandra Gisela/Bobo Tandiono (Komsos Nusa Dua)
Editor: Hiro/KomsosKD

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button