Rekoleksi Menyongsong 150 Tahun SVD; ‘Dalam Salib Ada Keselamatan’

DENPASAR – Dalam rangka merayakan 150 tahun SVD dan 90 tahun SVD berkarya di Pulau Dewata, Soverdia – Komunitas Awam Mitra Misi SVD yang telah secara resmi menjadi pilar ke-4 dalam Keluarga Arnoldus Janssen, menyelenggarakan Rekoleksi Salib Misi.
Soverdia bersama SVD, SSpS dan SSpS Adorasi Abadi di Distrik Bali Lombok, ikut dalam rekoleksi yang berlangsung pada Jumat, 18 Juli 2025, di Gereja Katolik Santo Yoseph Denpasar.
Mengawali Rekoleks Salib Suci, didahului Perayaan Ekaristi harian bersama umat. Hal ini menjadi kesempatan berahmat untuk menerima bekal Rohani yang dipersembahkan dan diberikan oleh Pater Eko Yuliantoro, SVD.

Salah satu sporitualitas Bapa Pendiri, penghormatan pada Allah Roh Kudus
Paulina Suharsi selaku Ketua Soverdia Provinsi Jawa, dimana Soverdia Distrik Bali Lombok ada di dalamnya, mengatakan bahwa “Rekoleksi Salib Misi Soverdia diselenggarakan agar Soverdia dapat lebih mendalami makna Salib Misi itu sendiri”

Pater Eko yang pernah menjadi Moderator Soverdia Provinsi Jawa pada period 2022 – 2023, mengatakan bahwa “Salib Misi merupakan salib yang diberikan kepada misionaris SVD (Societas Verbi Divini atau Serikat Sabda Allah) saat upacara perutusan ke tanah misi.
“Terimalah Salib ini yang menjadi perlindungan pada jalan tugas perutusanmu. Inilah bantuan dan kekuatan dalam kerasulanmu. Inilah penghiburan bagimu dalam hidup dan mati,” demikian terucap kata-kata saat penyerahan Salib Misi.

Salib Misi sifatnya kekal dan melekat dalam diri misionaris, sehingga saat meninggal, Salib Misi merupakan satu-satunya “harta milik” yang dibawa serta menghadap Bapa.”
Dalam pemaparannya, Pater Eko juga mengajak anggota Soverdia untuk melakukan pendekatan historis saat pertama kalinya SVD menyerahkan Salib Misi yakni pada tanggal 2 Maret 1879, kepada dua misionaris pertama SVD ke Cina: Pater Johanes B. Anzer SVD dan Pater Josef Freinademetz SVD di Rumah Misi Steyl Belanda.

Pater Eko, mengatakan, “Tentu, kita dapat bertanya: Mengapa Bapa Arnoldus menyerahkan ‘Salib Misi’ kepada para misionarisnya? Mengapa tidak ‘Kitab Suci’ mengingat nama kongregasinya adalah ‘Serikat Sabda Allah?”
Dikatakan, Bapa Arnoldus menyadari bahwa misi bukanlah medan yang mudah ditaklukkan. Berbagai tantangan dihadapi misionaris saat masuk dan beradaptasi dengan situasi misi. Tak mengherankan, dalam 464 surat ke misionaris di Cina, Bapa Arnoldus berkali-kali menyatakan, “In Cruce Salus” (dalam Salib, ada keselamatan) atau “Per Crucem ad Lucem” (dari Salib menuju Terang) untuk menguatkan dan mendukung karya misi mereka.
“Jika demikian, apa arti “Salib Misi” bagi Soverdia?” Sejak awal, dalam ‘February Rule 1885,’ saat Kapitel Jenderal I (1884-1886), Bapa Arnoldus mewacanakan pendirian Serikat ke-4 yang beranggotakan kaum awam dengan nama ‘Lembaga Sekular Pendukung Misi’. Namun, hal ini tidak terealisir dan baru dalam Kapitel Jenderal XVIII/2018, ‘Kelompok Awam’ diterima secara resmi sebagai mitra misi SVD dan pilar ke-4 Keluarga Arnoldus. Tentu, proses yang terbilang tidak sebentar, penantian selama 133 tahun,” ungkapnya.

“Sebagai paguyuban yang menghayati spiritualitas Bapa Arnoldus dan menghidupi karisma Serikat Sabda Allah, kita diajak untuk menggali “tradisi dan identitas khas” Serikat Sabda Allah. Dalam konteks inilah, “Salib Misi Soverdia” mendapat tempat dan pemaknaannya, serta arti penyerahannya bagi anggota Soverdia setelah melalui dan menuntaskan tahapan formasi Soverdia,” tambahnya.
Pater Eko melanjutkan, adapun pemaknaannya adalah sebagai: Tanda Penyerahan Diri, Tanda Perutusan Misi Soverdia, Tanda Kesiapsediaan sebagai Mitra Misi SVD, Tanda Komitmen dan Kesetiaan dalam Paguyuban Soverdia, Tanda Solidaritas dan Kesatuan bersama Anggota Soverdia.

Dalam bagian akhir, Pater Eko menekankan bahwa Salib Misi Soverdia bukanlah souvenir, tetapi tanda dan buah perjuangan kerohanian anggota Soverdia untuk menyerahkan diri secara kekal kepada perutusan Soverdia dan bermitra bersama SVD dalam mewujudkan misi Allah.
Harapan Soverdia, agar dengan mengetahui makna Salib Misi dan sejarah Soverdia, Soverdia dapat belajar untuk selalu setia, rendah hati dalam penyerahan diri pada Allah Tritunggal Mahakudus, turut serta secara aktif masuk dalam misi Allah dalam hidup dan karya sehari-hari melalui spiritualitas yang diajarkan Bapak Pendiri, Santo Arnoldus Janssen.
Rangkaian kegiatan ini ditutup dengan makan malam bersama dan sosialisasi kegiatan Gebyar 150th SVD berupa Jalan Sehat dan Bazaar Ceria yang akan diadakan pada Sabtu, 23 Agustus 2025 di Paroki Tritunggal Mahakudus Tuka. Sosialisasi ini disampaikan oleh Ibu Paulina yang juga sebagai Ketua Panitia Gebyar 150th SVD.
Penulis : Virly
Edito: Hiro/KomsosKD



