Usai Pelatihan Peserta Diharapkan Bisa Menyusun Rencana Aksi Paroki Tangguh Bancana

KUTA – Target jangka pendek yang diharapkan oleh Caritas Indonesia setelah para relewan dari tiga paroki (Gumbrih, Kuta dan Mataram) yang mengikuti Pelatihan Paroki Tangguh Bencana tahap kedua adalah mampu menyusun rencana aksi Paroki Tangguh Bencana (PTB).
Hal tersebut disampaikan Adi Rusprianto, salah seorang Fasilitator dari Caritas Indonesia, dalam wawancara khusus dengan media ini, saat istirahat sejenak di sela-sela pelatihan, Jumat (25/7).
Pelatihan Paroki Tangguh Bencana diselenggarakan oleh Caritas Indonesia dalam kolaborasi dengan Caritas-PSE Keuskupan Denpasar. Ini adalah pelatihan tahap kedua, dilaksanakan 24-26 Juli 2025, di aula Paroki St. Fransiskus Xaverius Kuta.
Kepada Media ini, Adi Rusprianto, menjelaskan secara garis besar tujuan yang mau dicapai dalam pelatihan tahap kedua ini. Menurut dia, dari materi-mater belajar yang diberikan, sejatinya mau mengajak peserta untuk memahami lebih dalam tentang manajemen penanggulangan bencana dan memahami karateristik bencana yang terjadi di paroki maupun keuskupan.

Selain diberikan pemahaman tentang manajemen dan karateristik bencana, peserta diberikan juga prinsip-prinsip pengurangan risiko bencana oleh masyarakat sebagai kerangka berpikir untuk mendesign gerakan Paroki Tangguh Bencana.
“Dalam pengurangan risiko bencana oleh masyarakat, peserta diwajibkan memahami juga kerangka piramida resilensi (ketangguhan) dalam mengkaji komponen risiko yang meliput: Kerentanan, Ancaman dan Kapasitas,” jelasnya.
Dengan ilmu yang didapat dalam pelatihan ini, diharapkan para relawan terlatih ini sepulang dari pelatihan mereka mampu menyusun Rencana Aksi Paroki Tangguh Bencana pada kondis: Pra Bencana, Saat Bencana dan Pasca Bencana.
Aktivasi berikut yang mestinya dilakukan para relawan ini adalah menularkan kepada umat dan masyarakat umum pemahaman tentang tentang kebencanaan, melalui sosialisasi atau edukasi.
“Di samping itu, para relawan kemanusiaan dari tiga paroki ini, sesudah pelatihan harap segera membuat struktur Paroki Tangguh Bencana, membuat date base relawan serta memetakan potensi sumber daya Paroki Tangguh Bencana,” kata Adi.
Di samping itu, yang tidak kalah penting adalah agar relawan terlatih ini perlu membangun komunikasi dan kolaborasi baik internal Gereja maupun dengan pihak eksternal.

Pihak internal mestinya seluruh umat Katolik, kelompok teritorial dan kategorial Gereja, DPP, Kongregasi/Biara, Sekolah, Klinik, dan lain-lain.
Kolaborasi dengan pihak eksternal antara lain dengan Pemerintah Desa, Kecamatan, Kabupaten, BPBD, Organisasi Kebencanaan dan sebagainya. “Minimal mulai bangun komunikasi,” harapnya.
Ketika ditanyakan cara sederhana dalam menganalisa atau memetakan kerentanan dan kapasitas di paroki, menurut Adi, bisa dimulai dengan memetakan apa saja yang membuat paroki itu tidak mampu menghadapi bencana. Ketidak mampuan menghadapi bencana itu yang disebut kerentanan.
Untuk mengatasi kerentanan itu maka dibantu dengan peningkatan kapasitas dengan mulai mendata potensi yang dimiliki paroki, dibuatkan pelatihan, sosialisasi, membuat jalur evakuasi, mengenalkan peralatan kedaruratan, dan seterusnya dan golnya adalah mengurangi risiko.
Keluarga Tangguh Bencana
Salah satu komponen Paroki Tangguh Bencana adalah Keluarga Tangguh Bencana (KATANA). Menurut Adi, KATANA, merupakan produk ketangguhan komunitas dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Kemudian coba direplikasi atau diadopsi oleh Caritas Indonesia untuk menjadi fondasi dari Gerakan Paroki Tangguh Bencana.
Syarat terbentuknya KATANA antara lain: pengenalan risiko bencana di lingkungan keluarga, pengenalan rumah aman bencana, dan rencana kesiap siagaan keluarga.
Rencana Aksi Paroki
Menanggapi harapan Adi Rusprianto dari Caritas Indonesia, tiga Paroki Tangguh Bencana sudah memiliki rencana aksi setelah pelatihan tahap kedua ini.

Ibu Dice, Ketua Seksi PSE Paroki Maria Immaculata Mataram, menjawab media ini mengatakan, mereka berencana melakukan sosialisasi kepada umat dan membuat jalur evakuasi di gereja.

Para relawan kemanusiaan dari paroki itu juga merencanakan melakukan edukasi kepada masyarakat di sekitar bantaran sungai yang selama ini sering kebanjiran serta melakukan edukasi tentang pengelolaan sampah yang benar untuk mengurangi risiko banjir akibat sampah.
Paroki Fransiskus Xaverius Kuta, akan melakukan rencana aksi berupa sosialisasi tentang keluarga tangguh bencana dan sosialisasi di Lingkungan. “Kita akan melakukan sosialisasi tentang keluarga tangguh bencana. Dari keluarga pasti akan merembet ke Lingkungan, Paroki dan masyarakat luas,” ungkap Pak Irman Ketua PSE Paroki Kuta.

Rancana aksi lainnya, menurut Irman, adalah akan menyediakan rambu-rambu evakuasi, kemudian membuat jalur evakuasi di gereja. “Kami juga merencanakan buat jalur evakuasi di rumah-rumah keluarga,” katanya.
Hal senada juga dilakukan oleh Paroki Gumbrih, yaitu melakukan sosialisasi di paroki untuk memberikan pemahaman tentang kebencanaan dan kesiap siagaan.
Menurut salah satu relawan dari Paroki Maria Ratu Gumbrih Aloysius I Ketut Sarwo Edi, target dari sosialiasi itu adalah supaya setiap pribadi memiliki tanggung jawab mengantisipasi bencana dan bagaimana menghadapi situasi ketika terjadi bencana.

Rencana aksi berikutnya, kata Ketut Sarwo Edi, adalah berkoordinasi dengan Desa Dinas maupun Desa Pakraman (adat), koordinasi dengan pihak Polri dan TNI, Linmas dan Pecalang di desa.
“Kami juga akan membangun komunikasi dan koordinasi dengan desa tetangga yang satu jalur rawan bencana banjir berdasarkan pengalaman selama ini,” pungkas Ketut Sarwo. *
Hironimus Adil



