LINTAS PERISTIWA

Realitas Multireligius dan Kemiskinan Jadi Tantangan Mewartakan Kristus di Asia-Indonesia

DENPASAR – Pertemuan Nasional Lembaga Biblika Indonesia (PERNAS LBI) di Catholin Center Keuskupan Denpasar, 15-19 Juli 2025, memasuki hari ketiga.

Pertemuan hari ketiga, Kamis (17/7), dimulai dengan pemaparan materi yang tak kalah menariknya dari sebelumnya yaitu ”Mewartakan Kristus dalam Konteks Budaya Lokal,” dengan narasumber RD. Herman Punda Panda.

Rm. Herman Punda Panda, seorang Teolog dari Seminari Tinggi St. Mikael Kupang, dalam paparannya mengungkapkan, bicara tentang konteks Asia-Indonesia, ada dua realitas yang paling umum yaitu ’Multireligius-Religiositas dan Kemiskinan-Ketidakadilan Sosial.’

Dalam konteks multireligius-religiositas, katanya, Kekristenan di Asia itu minoritas, hanya 3% di antara agama-agama besar lainnya. Secara religiositas, orang Asia memiliki perhatian besar terhadap agama dan menjadi pusat kehidupannya.

RD. Herman Punda Panda, Teolog

Sementara konteks kemiskinan-Ketidakadilan sosial, kata Dosen Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira Kupang itu, sebagian besar bangsa di Asia termasuk Indonesia masih terlilit oleh Kemisknan dan ketidak adilan sosial. ”Kemiskinan terjadi karena tetidak adilan sosial,” imbuhnya.

Dengan realitas seperti itulah, bagaimana Gereja mewartakan Kristus di tengah konteks Asia-Indonesia. Tentunya ini menjadi tantangan utama. Asia (Indonesia), katanya, dengan kekayaan tradisi religius dan realitas kemiskinananya, menyajikan tantangan unik bagi pewartaan Kristus.

”Teologi Kontekstual hadir sebagai jawaban atas kebutuhan untuk mengkomunikasikan Iman Kristiani dengan cara yang relevan dengan pengalaman kongkret masyarakat Asia,” ungkapnya.

Peserta PERNAS LBI

Menurut Teolog jebolan S-3 (Doktor) Universitas Urbaniana Roma, Italia ini,  Teologi Kontekstual yang paling relevan sekaligus untuk menjawab tantangan pewartaan Kristus di Asia, dengan dua orientasi utama yaitu ’Teologi Inkulturasi’ dan ’Teologi Pembebasan’. Demikian pula Yesus diwartakan dalam konteks lokal Indonesia.

”Semua itu membantu mewujudkan Kristus yang hidup dan bermakna dalam konteks Asia khususnya Indonesia yang beragam,” imbuhnya.

Dua orientasi Teologi Kontekstual Asia (Teologi Inkulturasi dan Teologi Pembebasan), dasarnya dari pandangan Aloysius Pieris, seorang Teolog Jesuit dari Sri Lanka. Pieris, menurut Rm. Herman, mengungkapkan dengan indah dua orientasi utama teologi kontekstual Asia. Kata Pieres ”Gereja harus cukup rendah hati untuk dibaptis di dalam Yordan religiositas Asia, dan harus cukup berani untuk disalibkan di Golgota kemiskinan Asia.”

Romo Herman, lantas menafsirkan ’Dibaptis dalam Religiositas Asia’ sebagai ’Teologi Inkuturasi’ yang menekankan dialog dengan tradisi religius Asia yang kaya. ”Ini mengundang Gereja untuk menyelami kedalaman spiritualitas Asia dan membiarkan dirinya ditransformasi oleh perjumpaan ini,” urainya.

Peserta menanggapi dan mengajukan pertanyaan kepada narasumber

Sedangkan ’Disalibkan di Golgota Kemiskinan’ sebagai ’Teologi Pembebasan’ yang berfokus pada solidaritas dengan yang miskin dan tertindas. ”Gereja dipanggil untuk mengidentifikasi diri dengan penderitaan rakyat dan berjuang bersama mereka untuk keadilan dan martabat,” tuturnya.

Teologi Inkulturasi, lanjutnya, proses di mana iman Kristiani diekspresikan melalui kekayaan budaya setempat. Ini melibatkan dialog antara Injil dan budaya yang menghasilkan pemahaman dan ekspresi iman yang baru namun tetap otentik.

Sedangkan Teologi Pembebasan, merupakan teologi yang berakar pada perjuangan untuk keadilan sosial. Berfokus pada pembebasan dari struktur dan sistem yang menindas, menciptakan masyarakat yang lebih adil sesuai dengan nilai-nilai kerajaannya.

Ice breaking disela-sela sesi

Kedua teologi di atas, ungkapnya, merupakan bagian dari Teologi Kontekstual, yang dipahami sebagai upaya sistematis untuk memahami iman Kristiani dari sudut pandang pengalaman hidup tertentu. Teologi ini mengakui bahwa semua teologi dipengaruhi oleh konteks sosial, budaya dan sejarah tempat ia berkembang.

Lebih jauh, Rm. Herman menerangkan Yesus Kristus dalam Teologi Kontekstual Asia, dilihat sebagai Guru yang Bijaksana, Yesus sebagai Pembebas dan Yesus sebagai Avatar/Inkarnasi.

Romo Herman, juga memberikan contoh beberapa teologi kontekstual yang lahir dari situasi/budaya lokal beberapa negara di Asia. Di India, misalnya ada Teologi Dalit sebuah Teologi Pembebasan. Teologi ini dikembangkan oleh AP. Nirmal dan Samuel Rayan, yang berfokus pada pembebasan kaum Dalit, sebuah kelompok yang berada di luar sistem kasta Hindu.

Contoh berikutnya adalah Teologi Minjung yaitu Kristologi Pembebasan dari Korea Selatan. Teologi Minjung merupakan teologi yang lahir dalam konteks penderitaan rakyat Korea Selatan pada era 1960-an hinggan 1980-an. Istilah Minjung sendiri berarti rakyat biasa atau rakyat miskin yang menjadi korban penindasan rezim diktator militer.

Uskup Delegatus Kitab Suci KWI Mgr. Silvester San (kanan) menyerahkan cendramata kepada RD. Herman selaku pembicara

Kemudian Romo Herman, memberikan beberapa konteks Indonesia, kendatipun Kristologi di Indonesia masih dalam tahap perkembangan dan belum mencapai bentuk yang sistematis dan komperhensif.

”Refleksi teologis yang ada saat ini merupakan hasil penelitian dari berbagai Sekolah Filsafat dan Teologi, yang sebagian besar berfokus pada aspek tertentu dari Yesus Kristus,” katanya.

Beberapa contoh Teologi Kontekstual yang digali dari budaya lokal Indonesia, antara lain ’Manunggaling Kawula lan Gusti’ sebuah konsep Jawa dalam refleksi Kristologis (Persatuan manusia dan Tuhan dalam spiritualitas Jawa-Katolik).

Kemudian di Toraja, Yesus Kristus sebagai Tomanurun dan Eran di Langit Sejati. Katanya, masyarakat Toraja memiliki kisah penciptaan yang kaya makna teologis ’Puang Matua‘ (Tuhan) menciptakan segala mahluk di langit, kemudian menurunkannya ke bumi melalui Eran di Langi (tangga dari langit).

Contoh berikut adalah kepercayaan asli orang Sumba (Marapu), di mana Kristus dipandang sebagai Marapu sejati dalam konteks budaya Sumba (NTT). Menurut Romo Herman, ada hubungan unik antara kepercayaan Marapu dan iman Kristen di Sumba.

Peran Marapu dalam Kepercayaan Tradisional Sumba yaitu Marapu sebagai agama asli; perantara ilahi (Marapu sebagai perantara lewat roh-roh leluhur) untuk sampai kepada Tuhan yang tidak dapat didekati langsung; dan kurban darah (upacara kurban darah hewan).”Kristus sebagai Marapu sejati adalah pengantara sekaligus kurban untuk keselamatan,” pungkas Peneliti Budaya Sumba ini.

Agenda Lain

Setelah mendengarkan presentasi materi dari RD. Herman Punda Panda serta tanggapan dan pertanyaan konstruktif dari peserta, sesi berikutnya pada hari ketiga ini adalah diskusi kelompok. Peserta dibagi dalam sembilan kelompok, untuk mendiskusikan beberapa hal yang akan menjadi rekomendasi dari Pernas ini.

Suasana diskusi kelompok

Dalam kelompok peserta mediskusikan (1) Arah Dasar kerasulan Kitab Suci di Indonesia pada periode 2026-2030; (2) Program Kerasulan Kitab Suci di Indonesia yang dapat dilaksanakan di tingkat keuskupan dan regio; (3) Tema-tema yang dapat diangkat dalam Bulan Kitab Suci Nasional selama periode 2026-2030 berkenaan dengan “figur Kristus dalam konteks Asia/Indonesia”; dan (4) Usulan-usulan yang dapat direkomendasikan kepada Lembaga Biblika Indonesia untuk Kerasulan Kitab Suci di Indonesia. Hasil diskusi kelompok kemudian dirangkum oleh Tim Perumus dan dibahas bersama dalam pleno.

Memasukan kertas suara saat pemilihan Ketua Sidang Laporan Pertanggung Jawaban Pengurus Lama dan Pemilihan Pengurus Baru

Acara berikutnya adalah pengumuman anggota baru yang diterima sebagai anggota LBI yang baru. dilanjutkan pemilihan Ketua Sidang untuk memimpin Laporan Pertanggung Jawaban Pengurus 2021-2025 dan pemilihan pengurus baru periode 2025-2029.

Pertemuan hari ini diakhiri Laporan Pertanggung Jawaban Pengurus periode 2021-2025 *

Hironimus Adil

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button