PUSAT PASTORAL

Pesan Paus Fransiskus pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-59: Jadilah Komunikator Harapan

DENPASAR – Menyambut Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-59, Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Pusat Pastoral Keuskupan Denpasar, menyelenggarakan Workshop Pesan Paus Fransiskus.

Sekitar 200 orang utusan paroki-paroki dan stasi se-pulau Bali hadir dalam workshop yang dilaksanakan Sabtu (31/05/2025) di Catholic Center Denpasar.

Para peserta terdiri dari para Imam, Seksi Komsos, OMK, Seksi Keluarga, Seksi KKI/Pendamping Sekami, utusan Biarawan/Biarawati, Jurnalis dan Praktisi Pendidikan Katolik.

Peserta Workshop

Paus Fransiskus, sebelum meninggal dunia (21 April 2025), telah menyiapkan pesan Hari Komunikasi Sosial (Harkom) Sedunia, yang tahun ini jatuh pada Minggu, 1 Juni 2025. Pesan ini sekaligus menjadi warisan terakhir bagi umat Katolik terutama yang bergerak di bidang komunikasi sosial.

Narasumber tunggal dalam workshop ini adalah Katua Komisi Komunikasi Sosial yang juga Direktur Puspas Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey.

Dalam pengantarnya, Rm. Babey, mengatakan selain memaknai pesan Paus Fransiskus, workshop ini juga harus sampai pada follow up dengan membuat RTL (rencana tindak lanjut) untuk diimplementasikan di paroki/stasi masing-masing setelah kegiatan ini.

Ice breaking untuk mencairkan suasana

Romo Babey sekilas mengungkapkan munculnya sejarah Hari Komunikasi Sosial Sedunia. Harkom Sedunia, katanya, dicanangkan oleh Konsili Vatikan II melalui Inter Mirifica (1963), dengan tujuan menyadarkan Gereja dan umat akan pentingnya media dan komunikasi dalam pewartaan Injil. Tahun 2025 ini merupakan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-59.

Tema Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-59

Pesan Paus Fransiskus pada Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-59 diberi tema: Bagikanlah Dengan Lemah Lembut Harapan yang Ada di Hatimu” (1 Ptr 3: 15-16). Harkom tahun ini bertepatan dengan tahun Yubileum 2025 yang mengusung tema “Peziarah Pengharapan”.

Dengan demikian, tema Harkom ini memiliki keterkaitan dengan tema Tahun Yubileum tentang pengharapan. Sehingga inti dari pesan atau harapan Paus Fransiskus adalah mengajak selurut umat Katolik maupun dunia untuk menjadi ‘Komunitor Harapan.’

“Komunikasi Kristen bukan sekedar menyampaikan informasi, tetapi mewartakan harapan,” tegas Rm. Babey, mengutip pesan Paus Fransiskus.

Ketua Komsos Puspas RD. Herman Yoseb Babey

Komunikasi yang tidak memberikan harapan, kata Romo Babey, adalah komunikasi yang menyebabkan ketakutan, keputusasaan, prasangka dan dendam, fanatisme, kebencian serta informasi palsu, dan lain-lain.

Menurut Paus Fransiskus, “Harapan bukan optimisme buta, melainkan iman akan karya penyelamatan Kristus yang menuntun dunia menuju pemulihan.”

Lemah lembut, lanjutnya, adalah gaya komunikasi Injil yang melawan arus kekasaran digital, ujaran kebencian dan agitasi politik.

Paus Fransiskus, kata Rm. Babey, melalui Harkom Sedunia ini juga mengajak seluruh umat dan dunia untuk membangun komunikasi dari ‘Agresi ke Damai’.

Ajakan tersebut dikuatkan oleh dasar biblis yang dikutip Paus Fransiskus dalam memaknai Harkom ini dari 1 Petrus 3: 15-16: Kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan Siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggung jawaban kepada tiap-tiap orang yang meminta pertangggung jawaban tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat.

Peserta aktif bertanya

“Paus Fransiskus mengajak semua orang untuk mengubah cara berkomunikasi yang selama ini pernah ‘agresi’ jadi sesuatu yang membuat lebih ‘damai’,” imbuh Romo Babey.

Dikatakan Romo Babey, dalam dunia yang ditandai polarisasi krisis dan berita palsu, Gereja dipanggil untuk bersaksi dengan kelemahlembutan dan kesaksian hidup.

Selanjutnya, untuk mengubah cara berkomunikasi dari ‘agresi ke damai’, dapat diambil dan menghidupi cara berkomunikasi Yesus sebagai Komunikator Sejati.

Sarana Membagi Harapan

Lebih lanjut Rm. Babey, menegaskan bahwa komunikasi merupakan sarana utama membagi harapan. Oleh sebab itu, komunikasi melalui media sosial, misalnya, harus yang sehat dan bermartabat.

“Kita bisa memanfaatkan medsos kita untuk membagi kesaksian hidup yang konsisten dan penuh belas kasih, berkaitan dialog antar-agama dan antar-kelompok yang membangun persaudaraan universal,” kata Rm. Babey.

Romo Babey juga berpesan, sebagai aplikasi praktis, komunikasi harus dapat membebaskan dan membawa harapan dalam keluarga, komunitas dan pelayanan harus mencerminkan keterbukaan hati, pendengaran aktif, sikap yang tidak menghakimi dan kemampuan mengangkat semangat orang lain.

Di sisi lain, Romo Babey, mengingatkan untuk menghindari gaya komunikasi yang provokatif, memecah-bela, menyebarkan berita palsu, memakai kekuasaan untuk membungkam yang lemah, serta komunikasi ‘robot’ atau ‘mesin’.

Diskusi Kelompok Komsos dan OMK

Setelah memaparkan materi, pada sesi kedua Romo Babey membagi peserta dalam beberapa kelompok menjadi 6 kelompok yaitu: Komsos, OMK, KKI/Pendamping Sekami, Keluarga, Imam-Suster-Frater dan Praktisi Pendikan untuk membuat konten sesuai kelompok sasaran masing-masing. Konten yang dibuat menyesuaikan tema pesan Paus Fransiskus.

Dalam waktu singkat, setiap kelompok menghasilkan satu karya menarik, kecuali OMK karena cukup banyak pesertanya dibagi dalam dua kelompok, sehingga total ada 7 karya digital. Romo Babey mengapresiasi semua kelompok bisa mengahasilkan konten menarik dalam waktu yang terbatas.

Kelompok Pendamping Sekami dan Praktisi Pendidikan

Sebelum mengakhiri workshop, Romo Babey menegaskan beberapa hal yang dipelajari dari Worshop ini, di antaranya belajar mengubah media sosial menjadi ruang pengharapan dan berlatih menyampaikan kebenaran dengan kasih dalam diskusi dan perbedaan.

Romo Babey juga mengajak peserta untuk membangun komitmen baik pribadi maupun komunitas, agar menjadikan media sosial komunikasi sebagai ruang damai dan harapan.

Kelompok keluarga dan Imam-Suster-Frater

Di pengujung acara Rm. Babey, mengajak peserta untuk menindaklanjuti Workshop ini sebagai RTL yaitu membuat konten rutin bertema harapan dan damai di medsos, latih budaya komunikasi penuh hormat dalam rapat dan kegiatan komunitas, serta membagikan kutipan dan pesan Paus ke kalangan muda secara kreatif.

“Komunikasi sejati tidak membagi dan menghakimi, tetapi menyembuhkan dan menghidupkan kembali,” pungkas Rm. Babey mengutip pesan Paus Fransiskus.*

Hironimus Adil

Show More

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button