RTL Tiga Paroki Program Paroki Tangguh Bencana

KUTA – Pelatihan tahap pertama Program Paroki Tangguh Bencana yang diselenggarakan Caritas-PSE Keuskupan Denpasar dalam kolaborasi dengan Caritas Indonesia berakhir pada Kamis (29/5).
Dalam sesi terakhir pelatihan, para peserta dari 3 paroki: Gumbrih, Mataram dan Kuta, yang dijadikan contoh Paroki Tangguh Bencana Keuskupan Denpasar diajak oleh Fasilitator untuk membuat Rencana Tindak Lanjut (RTL).
Dalam penyusunan RTL, para peserta dituntun oleh Fasilitator dari Caritas Indonesia F.X. Triwahyu. Frans Triwahyu mengatakan bahwa Program Paroki Tangguh Bencana dirancang oleh Caritas Indonesia dan telah melakukan MoU dengan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana).
“Paroki Tangguh Bencana dimaksudkan untuk menjawab tantangan paroki-paroki di Indonesia dalam hal kemanusiaan dengan tujuan untuk meningkatkan kapasitas komunitas,” kata Frans, sapaannya.
Beberapa hal yang menjadi point penting dari program Paroki Tangguh Bencana, menurut Frans, di antaranya meningkatkan kesadaran dan kapasitas komunitas dalam hal ini paroki. Harapannya, paroki memiliki kesadaran sekaligus kapasitas untuk merespons apabila terjadi bencana.
“Melalui program ini, kita juga mulai disadarkan bahwa respons layanan kemanusiaan kita tidak eksklusif. Perlu ada kolaborasi, koordinasi minimal antar paroki. Sehingga diharapkan 3 paroki yang ikut dapat memberikan kontribusi saat terjadi bencana,” Frans menambahkan.

Dengan demikian, 3 paroki ini dapat membuat Rencana Tindak Lanjut. Menurut Frans untuk RTL, peserta diminta untuk membuat struktur pengurus sederhana dalam merespons ketika bencana terjadi. Misalnya, jika bencana datang, apa hal pertama yang dilakukan, lalu dalam RTL itu peserta juga diminta untuk memetakan aset-aset paroki yang ada.
Sehari sebelumnya, Rabu (28/5), setiap paroki telah membuat simulasi untuk mengidentifikasi potensi bencana yang akan terjadi di paroki atau dekat dengan parokinya. Dalam simulasi itu, ketiga paroki ini telah membuat simulasi antara lain dari Paroki Gumbrih, yang sering terjadi dan berpotensi untuk kembali terjadi adalah banjir.
Sementara dari Paroki Mataram, bencana yang biasa atau berpotensi adalah gempa bumi, sedangkan dari Paroki Kuta, potensi yang paling dekat dengan mereka adalah erupsi gunung agung di Karangasem.
Dalam simulasi itu, selain identifikasi tentang kemungkinan bencana yang terjadi, mereka pun sudah melakukan identifikasi kebutuhan yang diperlukan dalam merespons darurat bencana, dengan asumsi responsnya mulai dari tanggap darurat sampai pasca bencana.

Dari identifikasi tersebut, kemudian masing-masing paroki secara garis besar juga telah merencanakan kebutuhan dana untuk respons darurat yang terjadi.
Dengan mandasarkan pada simulasi tersebut, kemudian pada saat RTL, setiap paroki kemudian menyusun struktur kepengurusan dan pembagian peran (job description) dari masing-masing pengurus yang dalam respons ketika bencana datang.
Setelah diberi kesempatan untuk melakukan diskusi kelompok paroki selama beberapa waktu, kemudian setiap paroki mempresentasikan tentang struktur kepengurusannya dengan tugasnya masing-masing (job desc), sesuai jenis bencana yang telah mereka simulasikan sehari sebelumnya. Dalam RTL juga mereka telah memetakan secara garis besar asset yang dimiliki paroki.

Kesan dan Pesan
Pelatihan itu berpuncak pada acara penutupan. Dari setiap paroki, melalui perwakilannya masing-masing menyampaikan kesan dan pesan mereka.
Yohanes Made Supriadi, mewakili teman-temannya dari Paroki Gumbrih mengungkapkan terima kasih kepada penyelenggara pelatihan baik Caritas Keuskupan Denpasar maupun Caritas Indonesia, karena melalui pelatihan ini mereka diperkaya dengan materi-materi yang sangat bermanfaat sebagai relawan kemanusiaan.
“Mudah-mudahan semua pengalaman dan bekal yang kami terima ini bisa berguna dalam tugas kemanusiaa dan berharap ke depannya akan lebih banyak lagi ilmu yang kami peroleh dalam pelatihan mendatang,” kata Made Supriadi.
Ibu Oka, mewakili para relawan kemanusiaan dari Paroki Mataram juga menyampaikan ucapan terima kasih yang sama karena melalui pelatihan ini para relawan dari tiga paroki ini bisa bertemu dan saling kenal.
“Terima kasih untuk ilmunya, karena dari tidak tahu menjadi tahu. Kami sangat senang dengan kekompakan 3 paroki yang luar biasa, dengan harapan semoga kekompakan ini terus berlanjut sampai program ini selesai,” kata Ibu Oka.
Dari Paroki Kuta diwakili oleh Irman Agus. Sama dengan kedua rekannya, Irman Agus juga berterima kasih kepada Caritas Keuskupan dan Caritas Indonesia yang telah memfasilitasi pelatihan yang bermanfaat ini.

“Walau belum diserap sepenuhnya, tetapi kami bisa belajar dari paroki Gumbrih dan Mataram yang memiliki pengalaman dalam merespons dan menangani bencana. Harapannya, setelah kegiatan ini kita tetap menjalin komunikasi dan bersama-sama menghadapi apa yang terjadi ke depan,” harap Irman Agus.
Dalam acara penutup itu, Direktur Caritas-Ketua PSE Keuskupan Denpasar, RD. Evensius Dewantoro, yang menutup kegiatan ini, dalam sambutannya mengatakan, “Saya melihat dan merasakan sukacita atas kesungguhan, ketangguhan dari proses yang dilakukan selama beberapa hari ini.”
Romo Venus, demikian disapa, berpesan kepada para peserta yang nanti menjadi relawan kemanusiaan di paroki masing-masing, agar jangan putus asa dan putus harapan, jangan pula putus di tengah jalan, karena pasti ada solusinya kalau ada kendala yang diadapi di tengah jalan.
“Saya berharap Team ini (tiga paroki) bisa saling support. Misalnya lewat grup-grup WA, untuk saling memberikan dukungan. Terima kasih kepada tiga pastor paroki yang sudah memberikan dukungan kepada team ini, kepada seksi PSE di paroki, Team Caritas Indonesia dan Team Caritas-PSE Keuskupan Denpasar,” pungkas RD. Evensius.

Sebagaimana telah diinformasikan bahwa pelatihan ini merupakan pelatihan pertama dan akan diikuti pelatihan lanjutan pada bulan-bulan berikutnya selama dua tahun ke depan.
Frans Triwahyu dari Carita Indonesia menyampaikan bahwa tema pelatihan berikutnya adalah “Aksi-Antisipasi untuk Kemanusiaan.”
Sampai jumpa pada pelatihan yang akan datang dengan peserta yang sama dari tiga paroki yang sama. *
Hironimus Adil



