Growth Mindset : Fokus Baru Dunia Pendidikan
Workshop Komdik Bersama Prof. Djohan Yoga, Ph.D

DENPASAR – Komisi Pendidikan Keuskupan Denpasar, mengumpulkan para Seksi Pendidikan dan Seksi Keluarga di Catholic Center, Denpasar, Sabtu, akhir pekan lalu. Mereka dibekali Growth Maindset, yang dikemas dalam workshop yang diselenggarakan oleh komisi itu.
Komisi Pendidikan (Komdik) sengaja melibatkan peserta dari dua seksi paroki itu. Seksi Pendidikan tidak saja sebagai perpanjangan Komdik di paroki, tetapi juga dipandang sangat strategis untuk mempromosikan keunggulan Pendidikan Katolik kepada umat, agar mau menyekolahkan anaknya di sekolah Katolik yang tersedia.
Seksi Keluarga pun memiliki peran vital, sebab anak-anak usia sekolah ada dalam keluarga, sehingga seksi ini bisa menjadi jembatan memotivasi keluarga-keluarga Katolik bahwa Pendidikan merupakan investasi masa depan. Dengan menyekolahkan anak di sekolah Katolik memiliki keuntungan ganda, selain berkualitas dalam membentuk kecerdasan intelektual dan membentuk karakter, juga jaminan pendidikan iman Katolik terpenuhi.
Para peserta datang dari semua paroki, mulai dari Bima di ujung timur Dekenat NTB, sampai Palasari di ujung barat pulau Bali. Semua berjumpa dan berproses bersama narasumber luar biasa dalam bidang Growth Mindset yaitu Prof. Djohan Yoga, Ph.D.
Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Vikjen Keuskupan Denpasar, RD. Herman Yosep Babey. Dalam sambutan singkat, Vikjen mengapresiasi workshop ini, yang melibatkan Seksi Pendidikan dan Seksi Keluarga.

“Tugas kita setelah mendapatkan ilmu dalam workshop ini membantu keluarga-keluarga mengubah mindset sekaligus mendorong anak mereka bersekolah di sekolah Katolik. Mahalnya sekolah Katolik, sebenarnya hanya kesan dan itu relatif, kalau kita menyadari bahwa pendidikan itu sebagai investasi, maka kesan mahal itu sebenarnya tidak perlu ada dalam pikiran kita. Mindset baru ini perlu kita ingatkan kepada keluarga Katolik,” katanya.
Sebelum Vikjen membuka workshop dengan tema “Growth Mindset dan Pendidikan Sebagai Investasi Masa Depan,” didahului sapaan kasih dari Ketua Komdik RD. DR. Yohanes Kadek Ariana dan sambutan Ketua BPU Puspas RD. Flavianus Endi.
Menggeser Mindset
Narasumber tunggal dalam worshop sehari ini adalah Prof. Djohan Yoga, Ph.D, seorang jebolan Institut Teknolgi Bandung (ITB) Fakultas Teknik Kimia dan Fakultas Matematika di UT Jakarta (S1). S-2 Managemen of Teknologi di NUS Singapura dan S-3 mengambil Applied Creativity and Innovation (Nus Singapura). Post Doktoral antara lain menekuni Mindset, Skillset, Toolset Approach to Innovation UWA Pert Australia.

Menurut pemegang beberapa sertifikat internasional ini, Growth Mindset telah menjadi fokus baru dalam dunia pendidikan saat ini. “Mindset itu segalanya, karena mindset akan mendikte kita,” katanya.
Prof Djohan memulai penjelasannya dengan contoh sederhana. “Kalau bicara tentang pembiayaan, saya dengan kondisi keluarga yang sederhana, tidak mungkin bisa melanjutkan di ITB. Ayah saya mengatakan, Djohan kamu di ITB, bapak hanya mampu biaya 1 semester, selanjutnya kamu cari sendiri atau beasiswa. Saya memiliki mindset, supaya harus selesai di ITB maka berjuang. Inilah yang disebut mindset,” katanya.
Menurut Prof. Djohan, mengubah mindset itu sulit, tetapi yang bisa dilakukan adalah menggeser mindset. Dia mencotohkan pola pikir bahwa sekolah Katolik itu mahal. Mahal itu sesungguhnya relative. “Menjadi tidak mahal kalau menggeser mindset kita, bahwa pendidikan itu merupakan investasi masa depan. Sebagai investasi maka perlu berjuang supaya tercapai,” katanya.

Mindset, terangnya, adalah pola pikir yang disetting manusia, sehingga tidak ada yang tetap dan sulit dipegang. Ini yang membedakan dengan mesin, AC misalnya kita seting 25 derajat, sampai pagi dia tetap 25. Oleh karena itu, mindset merupakan kumpulan keyakinan atau cara berpikir yang akan menentukan ‘reaksi dan pemaknaan’ seseorang terhadap suatu peristiwa atau kejadian.
Prof Djohan juga menjelaskan korelasi antara Mindset, Skillset dan Toolset. Ketiganya saling melengkapi. Mindset: bagaimana cara melihat (see) dan cara berpikir (think). Skillset (Knowledge & Experience): apa yang bisa kita buat; dan Toolset (method & tool): apa yang bisa kita gunakan. Skillset dan toolset dapat dilakukan dan dicapai tergantung bagaimana mindset.
“Sebuah hasil ditentukan oleh 80% mindset dan 20% action. Sehingga rumusannya: R (result) =80% M (mindset) + 20% A (action). Mindset itu terbentuk dari: attitude (sikap), behavior (prilaku), character (karakter), habit (kebiasaan),” imbuhnya.

Prof Djohan juga menjelas tipe orang dengan ciri fixed mindset (FM) dan orang dengan growth mindset (GM). “Orang-orang yang fixed mindset itu berserah pada talenta, takdir, dan mengindar. Sedangkan orang growth mindset terus belajar, usaha (berjuang) dan menerima. Kita ada di mana dan mau pilih yang mana, itu menentukan masa depan kita,” katanya.
Prof. Djohan memberi contoh tentang biaya pendidikan. Orang FM berpikir sebagai kost, sedangkan GM berpikir sebagai investasi. “Pendidikan itu tidak ada yang mahal. Tergantung investasinya tinggi atau rendah. Biaya tinggi benefitnya mutu, biaya rendah ya, hasilnya begitu saja,” katanya.
Orang dengan FM terkurung dalam pemikirannya, sedangkan GM dia terbuka, termasuk cara pikirnya. Maka penting berpindah dari FM ke GM, dengan tiga prinsip dasar pergeseran dari FM to GM: Kegagalan ke Proses Belajar, Sulit – Butuh Waktu, Tidak Bisa – Belum Bisa.
“Rute perjalanan seseorang itu dari tidak tahu menjadi tahu. Ini yang disebut proses belajar. Kalau ada orang yang bingung, maka orang termotivasi untuk belajar. Sepanjang orang berjuang, mau bersusah, maka tidak ada yang tidak mungkin,” imbuhnya.
Dalam dunia Pendidikan, menurut Prof Djohan, butuh kerja sama antara sekolah, keluarga dan masyarakat. Soal biaya Pendidikan, perlu ada mindset bahwa biaya itu hanya satu komponen, kalau murah tetapi tidak berkualitas untuk apa, apa gunanya untuk masa depan.
Investasi itu, katanya sepanjang masa, yang manfaatnya dirasakan terus menerus. Dan Pendidikan bukan sekedar konsumsi, melainkan penanaman modal sebagai human capital, proses peningkatan produktivitas dan keahlian Individu.

Dalam workshop sehari yang dimoderatori Ketua Komdik RD. Kadek Ariana, itu dilangsungkan dalam tiga sesi. Banyak tanggapan dan contoh-contoh kasus yang diceritakan peserta sehingga kegiatan ini semakin memperkaya antara peserta.
Sesi terakhir, peserta masuk dalam kelompok berdasarkan dekenat : Bali Timur, Bali Barat, Bali Tengah dan NTB. Setiap kelompok mendiskusikan 3 hal yang menjadi refleksi sekaligus pedoman tindak lanjut yang dapat dilakukan di paroki masing-masing.

Tiga hal yang mereka diskusikan antara lain: Mengapa anak-anak di paroki sulit masuk sekolah Katolik?; Apa yang dapat dilakukan peserta untuk mensosialisasikan growth mindset pendidikan sebagai investasi masa depan di paroki atau dekenat?; dan Apa masukan untuk komdik, untuk memberdayakan Seksi Pendidikan paroki?

Prof. Djohan, merupakan pakar mindset kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat, 8 Oktober 1964. Dia adalah anak ke-4 dari 5 bersaudara: 3 orang laki-laki dan 2 perempuan. Menariknya, kelimanya merupakan tamatan ITB dan saat ini semuanya mencapai posisi Direktur di bidangnya masing-masing.
Orang tua mereka menerapkan pola yang sama, bahwa orang tua hanya membiayai sekolah mereka di ITB hanya satu semester, dan semester berikutnya hingga tamat mereka berjuang sendiri. Hal itu yang membuat mindset mereka terus berkembang, supaya bisa bertahan dan sukses. Prof. Djohan saat ini tinggal dan bekerja di Singapore. *
Hironimus Adil



