LINTAS PAROKILINTAS PERISTIWA
Trending

SYUKURAN PANEN SEBAGAI KEARIFAN LOKAL PAROKI GUMBRIH, DISATUKAN DENGAN KRISMA

Suasana persaudaraan yang diiringi obrolan-obrolan ringan penuh sukacita, tampak dalam kebersamaan sejumlah kaum pria Paroki St. Maria Ratu Gumbrih di samping gereja/pastoran paroki itu, Sabtu (11/6) malam. Beberapa kaum ibu juga ada yang duduk tidak jauh dari kumpulan bapak-bapak dan beberapa remaja laki-laki itu.

Mereka tidak sekedar ngobrol menghabiskan waktu menikmati malam mingguan. Tetapi ada sesuatu yang mereka lakukan secara gotong royong, yaitu membuat sate lilit yang menjadi salah satu menu yang disiapkan untuk acara resepsi syukuran yang berlangsung Minggu siang keesokan harinya.

Sate lilit yang dibuat umat ini berbahan dasar daging babi dicampur aneka bumbu dan rempah. Campuran yang telah menjadi adonan itulah yang dikerjakan malam itu. Mulai dari melilitnya pada lidi sate yang telah disediakan, kemudian dipanggang di bara api.

Sambil bercerita, tangan mereka terus bekerja melilit sate, dan sebagian lainnya bertugas memanggang. Ada dua kelompok yang bertugas melilit, demikian pula yang memanggang pada dua tungku api. Ibu-ibu yang ada di sana selalu sigap menyuguhkan kopi dan jajan selama pekerjaan dilakukan.

Inilah yang disebut “mebat” dalam tradisi masyarakat Bali. Mebat merupakan suatu kegiatan gotong royong memasak makanan dalam menyambut pesta atau acara khusus. Paling berkesan dan nilai utama dari mebat, bukanlah soal rasa masakannya, tetapi prosesnya yang melibatkan banyak orang, saling bergotong royong dan terciptanya persaudaraan dan kekeluargaan.

Kebersamaan umat atau Mebat dari umat Paroki Gumbrih hari itu, sejatinya sudah sejak Sabtu pagi. Mereka secara gotong royong masak memasak, mulai dari memotong babi,membersihkan dan menghaluskan bumbu hingga memasaknya hingga matang lalu makan bersama.

Sebagian bumbunya mereka bawa dari rumah masing-masing, misalnya ada yang membawa bawang, sere, kunyit, jahe, lengkuas, merica, ketumbar dan sebagainya. Dalam tradisi mebat ini biasanya semua olahan masakan jika sudah matang, akan disantap bersama-sama dan juga berbagi.

Paroki St. Maria Ratu Gumbrih merupakan salah satu paroki tertua di Bali dan Keuskupan Denpasar umumnya. Paroki ini berdiri pada 4 Februari 1939 atau telah berusia 83 tahun.

 

Mebat di paroki hari itu dalam rangka perayaan syukur atas penenan umat baik dari hasil bumi maupun hasil usaha lainnya selama setahun. Umat setempat menyebutnya “Ngaturang Sarin Tahun.”

Syukuran panen atau ngaturang sarin tahun itu adalah tradisi baik yang merupakan kekhasan atau menjadi kearifan lokal dari umat di paroki yang terletak di Bali Barat itu. Acara ini mereka laksanakan setiap tahun.

Menurut Pemakasan Katolik Gumbrih, yang juga Sekretaris DPP Paroki Gumbrih Nyoman Melastika, Ngaturang Sarin Tahun adalah sebagai wujud rasa syukur atas hasil yang dicapai dalam setahun dan memohon agar Tuhan memberikan hasil yang lebih baik dan berlimpah di tahun mendatang, sehingga semuanya hidup dalam keadaan bahagia, harmonis serta mampu mengisi hidup untuk Tuhan dan sesama.

Syukuran atas panenan itu dipersembahkan dalam Perayaan Ekaristi yang bertepatan dengan Hari Raya Tritunggal Mahakudus, Minggu (12/6). Ekaristi dalam rangka syukur atas panenan itu juga dirangkaikan dengan upacara penerimaan Sakramen Krisma bagi 39 orang umat, serta pelantikan pengurus DPP, DKP dan Prodiakon paroki itu.

Perayaan itu dipimpin langsung oleh Gembala Tertinggi Keuskupan Denpasar Mgr. Silvester San, didampingi 4 orang imam konselebrasi, terdiri dari Administator Paroki Gumbrih RD. Emanuel Ano dan Pastor Rekan RD. Libert Elias Marung, serta dua imam asal paroki ini, RD. Kadek Aryana dan RP. Thomas.

Perayaan dimulai dengan pemberkatan hasil panen di samping gereja, lalu perarakan menuju gereja yang dimulai pukul 10.00 wst.

Bertepatan dengan Perayaan Tritunggal Mahakudus (Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus), Bapak Uskup dalam homilinya mengingatkan agar persekutuan Allah Tritunggal itu mendorong kita (Gereja) untuk membangun persekutuan, persatuan dan persaudaraan seperti persekutuan Bapa, Putra dan Roh Kudus.

Foto atas : Pelatikan DPP, DKP, Prodiakon Foto Bawah : Krismawan-krimawati

“Kita menghayati Allah Tritunggal itu dengan membangun komunio, persekutuan, persatuan dan persaudaraan dalam komunitas kita,” ungkap Bapak Uskup.

Kepada para krismawan-krismawati, Bapak Uskup, mengungkapkan bahwa Sakramen Krisma merupakan Sakramen pemenuhan inisiasi, di mana para Krismawan-krismawati akan menerima Roh Kudus sebagai penguatan sehingga mereka dapat menjadi dewasa dalam iman dan mampu menjadi saksi-saksi Kristus.

“Bertepatan hari ini, juga dilantik sejumlah umat yang dipercaya menjadi pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP), Dewan Keuangan Paroki (DKP), juga Prodiakon. Dengan pelantikan mereka resmi menjadi petugas pastoral Gereja yang dapat membantu Pastor Paroki untuk melayani umat,” kata Mgr. San.

Upacara krisma

Usai homili dilanjutkan upacara pelantikan DPP, DKP dan Prodiakon yang didahului oleh Pembacaan Surat Keputusan Uskup Denpasar oleh Administrator Paroki RD. Emanuel Ano. Usai pelantikan dilanjutkan penerimaan Sakramen Krisma kepada 39 orang umat setempat.

Selama upacara krisma, koor paroki yang anggotanya banyak Orang Muda (OMK) dan memeriahkan Perayaan Iman tersebut terus menyanyikan puji-pujian dengan lagu-lagu yang indah penuh semangat.

Usai misa dilanjutkan dengan ramah tamah dalam resepsi syukur yang bertempat di samping gereja. Selain dihadiri Bapak Uskup, para imam dan seluruh umat setempat ramah tamah ini juga dihadiri Camat Pekutatan, pejabat dari Polsek Pekutatan serta Kodim Pekutatan dan unsur pemerintah lainnya termasuk Kepala Desa Gumbrih.

Dalam acara ramah tamah ini, aneka acara seni baik tarian maupun nyanyian dipersembahkan oleh umat setempat. Acara ini juga diisi dengan sambutan-sambutan dan resepsi bersama.

Nyoman Melastika, mewakili umat menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh hadirin, sekaligus mengungkapkan rasa bahagia dan syukur atas peristiwa iman hari itu. “Kami sangat bahagia karena dalam kesempatan ini ada beberapa rangkaian acara mulai dari syukuran atas panen, penerimaan Sakramen Krisma serta Pelantikan Pengurus DPP, DKP dan Prodiakon,” katanya.

Selain ucapan terima kasih kepada Bapak Uskup dan para imam, Melastika juga menghaturkan terima kasih kepada pemerintah Kabupaten Jembrana, maupun kecamatan Pekutatan dan Desa Gumbrih yang telah memberikan perhatian kepada Gereja Katolik Gumbrih, termasuk kehadiran Camat, Kepala Desa maupun unsur pemerintahan lainnya dalam acara ini.

Melastika juga mengajak umat agar dalam kehidupan menggereja selalu bersatu padu, rukun dan damai serta hidup berdampingan dengan para saudara yang beragama lain sebagaimana keharmonisan selama ini serta senantiasa membangun semangat solidaritas dan gotong royong.

Pastor Administrator Gumbrih RD. Emanuel Ano, dalam kesempatan itu juga mengapresiasi atas perhatian pemerintah Kabupaten Jembrana, khususnya pemerintah Desa Gumbrih yang telah membantu pembangunan pagar kuburan Katolik di sana.

Foto atas : Pemaksan Katolik Gumbrih Nyoman Melastika Foto bawah : Camat Pekutata Wayan Yudana

Secara khusus Romo Eman, demikian biasa disapa, juga berterima kasih atas kehadiran Camat Pekutatan dan Kepala Desa Gumbrih serta unsur pemerintahan lainnya sebagai bentuk dukungan ril kepada Gereja Katolik.

Camat Pekutatan Wayan Yudana, dalam sambutan berikutnya mengungkapkan rasa gembira telah diundang dan hadir dalam acara ini. “Ini baru pertama kali saya diundang untuk acara Krisma ini. sudah tiga tahun saya jadi camat, baru kali ini dengar namanya krisma. Terima kasih dan selamat kepada krismawan-krismawati. Juga para pengurus dewan gereja,” katanya.

Administrator Paroki Gumbrih RD. Emanuel Ano

Camat Yudana, mengatakan bahwa di mata Tuhan semua orang adalah sama, karena sama-sama diciptakanNya. “Oleh karena itu, kita semua adalah saudara,” katanya.

Camat Pekutatan menegaskan, “Kalau kita menghina orang lain karena berbeda dengan kita, itu berarti kita sedang menghina penciptanya yaitu Tuhan sendiri.” Kerukunana umat beragama, katanya lebih lanjut, harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Di bagian akhir sambutannya, Camat yang mengaku salah satu adik perempuannya menikah dengan umat Katolik Gumbrih itu, berharap agar umat Katolik Gumbrih ke depannya akan semakin lebih sejehtera dan lebih baik lagi.

Kiri ke kanan: Rm. Eman Anon, Bapak Uskup dan Camat Pekutatan

Sementara itu Bapak Uskup, pada sambutan pemuncak selain berterima kasih atas kehadiran pemerintah khususnya Camat Pekutatan, Kepala Desa Gumbrih dan unsur pimpinan pemerintahan lainnya, juga mengucapkan selamat dan proficiat kepada seluruh umat Gumbrih atas syukuran panenan, juga kepada para krismawan-krismawati, dan para pengurus DPP, DKP, Prodiakon yang dilantik.

Bapak Uskup secara khusus mengapresiasi acara syukuran panen yang menjadi tradisi umat paroki Gumbrih. “Syukuran panen merupakan kebiasaan yang baik dari umat di paroki Gumbrih ini setiap tahun, sekaligus memohon berkat Tuhan untuk hari-hari selanjutnya. Kita tahu pertanian penting sekali untuk menyangga kehidupan kita selanjutnya,” ungkapnya.

Bapak Uskup juga berharap agar mereka yang dilantik baik DPP, DKP maupun Prodiakon, mampu melaksanakan tugas dengan baik khususnya dalam melayani umat. Sedangkan kepada krismawan-krismawati Bapak Uskup berharap agar sebagai umat yang telah dewasa dalam iman hendaknya memiliki semangat komunio dengan mengambil bagian dalam karya pelayanan Gereja dan mampu menjadi Saksi Kristus di tengah masyarakat.

Di hadapan unsur pemerintah yang hadir, Bapak Uskup juga menerangkan tentang wilayah Keuskupan Denpasar yang meliputi Bali dan NTB. “Gereja Katolik merupakan kawan kecil di antara kawan besar Hindu di Bali dan Islam di NTB,” ungkap Bapak Uskup.

Menurut Bapak Uskup, walau hanya kawanan kecil, tetapi umat Katolik cukup berperan sesuai kemampuan masing-masing dengan berkontribusi terhadap pembangunan daerah.
“Umat Katolik senantiasa berkontribusi dalam kehidupan bersama yang damai dan aman serta terlibat dalam proses pembangunan sesuai peran dan kemampuan masing-masing,” tutupnya.

Acara ramah tamah itu menjadi lengkap dengan santap siang bersama. Sate lilit yang dikerjakan secara bersama dan gotong royong Sabtu malam adalah salah satu menu dalam makan siang itu serta beberapa menu dengan bahan dasar daging babi, lengkap dengan ikan laut. Proficiat Paroki Gumbrih***

Penulis
Hironimus Adil
Tags
Show More

KOMISI KOMUNIKASI SOSIAL

Tim Redaksi *Pelindung Mgr. DR. Silvester San (Uskup Keuskupan Denpasar) *Pemimpin Umum/Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi RD. Herman Yoseph Babey (Ketua Komisi Komsos) *Redaktur: Hironimus Adil- Blasius Naya Manuk- Christin Herman- J Kustati Tukan-

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
error: Content is protected !!
Close
Close