LINTAS PERISTIWA

Sesepuh dan Aktivis Gereja Ibu Atik Bone Tutup Usia

DENPASAR – Berita duka datang dari Lingkungan Banjar Hati Maria Tak Bernoda, Paroki Roh Kudus Katedral Denpasar.

Salah seorang sesepuh sekaligus aktivis Gereja pada masanya, Ibu Atik Bone meninggal dunia dalam usia 82 tahun di Rumah Sakit Prof. Ngoerah, Sanglah Denpasar, Rabu (20/9/2023).

Maria Yovita Kristina Atik Riptatining, demikian nama lengkapnya, pada zamannya sangat aktif dalam pelayanan maupun kehidupan menggereja umumnya.

Alm. Ibu Atik Bone

Tidak sedikit organisasi yang diikutinya, antara lain menjadi pengurus Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Bali-NTB, dan sebagainya.

Di kalangan institusi TNI khususnya di Kodam IX/Udayana, nama Ibu Atik juga cukup dikenal, karena sebagai salah seorang tokoh kunci dalam organisasi Persatuan Istiri TNI (Persit) dengan berbagai kreativitas dan keaktifannya ketika sang suami Bonefasius Bali Hada masih aktif sebagai anggota TNI.

Bapak Bonefasius Bali Hada sendiri, selain sebagai seorang tentara, juga seorang yang dikenal luas sebagai tokoh dan akitivis Gereja, bahkan Keuskupan Denpasar pernah mempercayai Pak Bone, demikian biasa disapa, sebagai Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (PSE).

Sebelum menjadi Ketua, Pak Bone sudah lama berkecimpung dalam komisi ini, tergabung dalam Tim Kerja Komisi PSE. Selain itu, juga dipercaya menjadi Penasehat Yayasan Valentia Dendios, sebuah Yayasan milik Keuskupan Denpasar yang menanungi beberapa klinik kesehatan dan Panti Penitipan Anak.

Pak Bone juga berjasa sebagai Pendiri Lingkungan Banjar Hati Maria Tak Bernoda (BHMTB) puluhan tahun silam. Sekaligus juga salah satu tokoh Pendiri Flobamora Bali (Organisasi etnis Bali keturunan NTT).

Berbagai pelayanan maupun aktivtas Pak Bone tentu saja tidak lepas dari peran dan dukungan sang istri terkasih. Ibu Atik Bone (alm) selalu mendampingi dan terjun langsung ke lapangan bersama Pak Bone dalam berbagai aksi sosial selama Pak Bone aktif di Komisi PSE Keuskupan Denpasar.

Pasutri Bone-Atik juga dikenal luas sebagai keluarga yang sangat peduli dan suka menolong orang-orang yang berkesusahan tanpa memandang perbedaan, dengan cara khas mereka.

Pasutri Bone-Atik, dicover Agape edisi Mei 2018, ketika merayakan Pesta Emas (50 tahun) Perkawinan mereka

Jenazah Ibu Atik Bone, sejak Rabu siang disemayamkan di Rumah Duka RSAD Denpasar. Rabu malam dilaksanakan Misa Requiem yang dipimpin RD. Hubert Hady Setiawan sebagai selebran utama, dengan imam konselebrasi RD. Thomas Almasan dan RP. Guido Fahik, SVD.

Pergaulan luas dan kebaikan hati pak Bone dan Ibu Atik, sungguh terlihat dari banyaknya orang yang hadir memadati area rumah duka saat misa berlangsung, dari berbagai kalangan dan latar belakang.

Senyuman Terakhir

Romo Hady sendiri tidak menyampaikan homili dalam misa itu, tetapi memberikan kesempatan kepada Pak Bone untuk menceritakan kisah-kasihnya bersama istri tercinta sampai detik-detik terakhir kehidupan Ibu Atik.

Menurut sang suami, mereka pertama kali bertemu di Singaraja dan saling jatuh cinta. Sebagai anggota tentara, Pak Bone bertugas di Singaraja, sedangkan ibu Atik sebagai Bidan di Klinik Kesehatan Katolik di kota yang pernah menjadi Ibukota Provinsi Sunda Kecil itu.

Singkat cerita, Pak Bone menjalani masa pacaran dengan Ibu Atik selama lima (5) tahun dan akhirnya merekapun mengikrarkan janji suci perkawinan pada tanggal 15 April 1968, di gereja St. Yoseph, Jalan Kepundung Denpasar oleh RP. Hejne, SVD.

“Dalam hidup berkeluarga kami rukun, walau terkadang ada pertengkaran sedikit, sesuatu yang wajar dalam kehidupan suami istri. Dia istri tentara yang kreatif, maka dia selalu diorbit oleh Panglima Kodam zaman itu untuk mengikuti berbagai kegiatan atau lomba yang melibatkan Persit dan seringkali menjadi juara,” kisah Pak Bone.

Menurut Pak Bone, istri terkasih juga dikenal seorang yang sangat teliti, termasuk teliti tentang masalah keuangan, sehingga dalam organisasi Persit ibu Bone dipercaya mengurus uang sebagai bendahara. Dia sangat bertanggung jawab, segala pekerjaan diselesaikan secara tuntas walaupun harus dikerjakan sampai larut malam.

Kreativias dan segudang prestasi ibu Bone dalam Persit juga menghantar Ibu Atik ikut bermain film terkait kehidupan TNI. “Ibu pernah main film, diminta oleh ibu Sintong Panjaitan dan Ibu Herman Musakabe. Dia ke Jakarta untuk shooting selama satu bulan. Selama kami ditinggal ibu, pengurus Persit sangat baik memperhatikan kebutuhan kami sehari-hari,” katanya.

Selain itu, ibu Atik juga sering menjadi pembawa acara (MC) baik dalam HUT Persit maupun acara besar lainnya.

“Dia selalu berada di belakang saya. Dia selalu giat dalam pekerjaan walau sedang hamil Tina, anak sulung kami saat itu. Saat saya bertugas di Komisi PSE Keuskupan Denpasar saya selalu mengajak ibu. Dia tidak dibiayai oleh keuskupan, hanya saya yang dibiayai oleh Keuskupan. Dia selalu mendampingi saya,” ungkap Bapak Bone.

Sebagai orang tua, mereka selalu berjuang untuk mendidik dan membesarkan anak-anaknya dengan harapan terbaik akan masa depan mereka.

Mereka berharap ada di antara ketiga anaknya yang menjadi imam. Maka, mulai dari Budi, Kristo dan Frans, semuanya pernah mengenyam pendidikan Seminari.

Walau tidak menjadi imam sesuai harapan, tapi ketiga putra mereka menyelesaikan pendidikan tingginya. Tina sebagai anak sulung juga menyelesaikan kuliahnya di bidang keuangan pariwisata.

Pak Bone lanjut berkisah, “Sekitar lima tahu lalu ibu mulai sakit Alzheimer (pikun/sakit lupa). Saya selalu setia merawatnya. Sampai tadi pagi, saat saya mau pergi kontrol kesehatan di Rumah Sakit Wangaya Denpasar, saya pamit kepada ibu dan dia senyum-senyum. Ternyata itu senyum terakhir ibu untuk saya,” kisah pak Bone penuh haru.

Saat di rumah sakit Pak Bone mendapat kabar dari anak-anaknya bahwa ibu mengalami sesak dan segera diantar ke rumah sakit. Tidak lama kemudian datang berita duka itu dan pak Bone mengetahui ibu telah pergi ketika mendapat ungkapan belasungkawa dari para kolega . Pak Bone berusaha untuk kuat dan setelah memberitahu dokter dan urusan di rumah sakit Wangaya selesai, Pak Bone segera meluncur bertemu sang kekasih hati yang tak lagi bernyawa.

“Istri saya setia sampai saat ini. Walau karakter kami jauh berbeda. Dia halus, orang Solo, Jawa Tengah. Saya orang Flores dengan watak keras. Awalnya dia terkejut-terkejut tapi lama-lama dia terbiasa,” pungkas Pak Bone.

Romo Hady, menanggapi secara singkat dengan mengatakan, “Pak Bone suami yang luar biasa, sama luar biasanya dengan Ibu Atik sebagai istri. Bagaimana ibu menghadapi suami yang memiliki karakter sangat berbeda dari dirinya. Mereka juga luar biasa karena selalu berjuang melayani Kristus. Semoga kita semua bisa meneladani pelayanan Ibu Bone dan Bapak Bone.”

Ibu Atik lahir di Surabaya, Jawa Timur, 29 Desember 1941. Tutup usia di RS Prof. Ngoerah Sanglah Denpasar, Rabu 20 September 2022 pukul 11.25 Wita dalam usia 82 Tahun.

Rencananya jenazah akan dimakamkan, Jumat, 22 September 2023, di Taman Makam Katolik Mumbul, Jimbaran.

Sebelum ke pemakaman Katolik Taman Mumbul, jenazah Ibu Atik disemayamkan di Gereja Katedral Roh Kudus Denpasar untuk di upacarai secara Katolik dengan Misa Pelepasan Jenazah.

Setelah itu jenazah Ibu Atik akan diantar ke Taman Makam Katolik Mumbul diiringi umat, kerabat dan warga Flobamora di Bali.

Ibu Atik meninggalkan suami Bone Bali Hada dan empat orang anak; Tina, Kris, Budi dan Frans serta cucu ***

Hironimus Adil

Show More

KOMISI KOMUNIKASI SOSIAL

Tim Redaksi *Pelindung Mgr. DR. Silvester San (Uskup Keuskupan Denpasar) *Pemimpin Umum/Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi RD. Herman Yoseph Babey (Ketua Komisi Komsos) *Redaktur: Hironimus Adil- Blasius Naya Manuk- Christin Herman- J Kustati Tukan-

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
error: Content is protected !!
Close
Close