LINTAS PERISTIWA
Trending

SEKILAS PANDANG KONGRES NASIONAL IV KOMUNITAS KERASULAN KERAHIMAN ILAHI INDONESIA

Sesudah melewati masa PPKM karena wabah COVID-19, Kongres Nasional Komunitas Kerasulan Kerahiman Ilahi Indonesia (K32I) akhirnya bisa diselenggarakan tahun 2022.

Sesuai keputusan hasil KONGNAS III di Pontianak pada 2019, Keuskupan Agung Makassar didapuk menjadi tuan rumah dan penyelenggara Kongres Nasional IV.

Persiapan penyelenggaraan KONGNAS IV diwarnai dengan tarik ulur mengikuti kemungkinan Pembatasan Kegiatan Masyarakat. Tarik ulur kebijakan pemerintah ini tentu sangat berpengaruh bagi penyelenggara KONGNAS IV.

KONGNAS IV diselenggarakan di Kota Daeng, Kota Anging Mamiri, alias Kota Makassar. Mengambil tempat di Novotel Grand Shayla, KONGNAS dilaksanakan pada 7-9 Oktober 2022.

Hadir para peserta dan utusan dari berbagai keuskupan di wilayah Gerejani Indonesia, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Setiap peserta memiliki perjuangannya tersendiri untuk mencapai tempat tujuan ini. Jalur udara menjadi pilihan paling memadai, selain para peserta dari keuskupan Amboina menggunakan jalur laut. Tentu dengan perjuangannya tersendiri.

Secara keseluruhan, KONGNAS IV KKKII dihadiri oleh 156 orang. Ada 59 orang hadir sebagai perwakilan devosan masing-masing keuskupan. Keuskupan Agung Jakarta, Keuskupan Bandung, Keuskupan Bogor, Keuskupan Agung Semarang, Keuskupan Agung Medan, Keuskupan Agung Kupang, Keuskupan Agung Pontianak, Keuskupan Padang, Keuskupan Ruteng, Keuskupan Amboina, Keuskupan Sanggau, Keuskupan Manado, Keuskupan Agung Merauke, Keuskupan Timika, dan Keuskupan Denpasar.

Dari Keuskupan Agung Makassar hadir 20 orang dari devosan di paroki-paroki, selain itu para pastor paroki dari Keuskupan Agung Makassar juga turut hadir 15 orang.

Tarekat Hidup Bakti yang hadir ada 16 orang dari paroki-paroki: HHK, CIJ, JMJ dan SFIC. Para frater turut membantu memperlancar acara demi acara.

Dari Keuskupan Denpasar, Angelina S.M. Neves dan I Made Totok Suharto dalam pertemuan 2 Juli 2022, terpilih untuk hadir mewakili para devosan dari paroki-paroki di Keuskupan Denpasar. Turut hadir mewakili Keuskupan Denpasar, RP Laurensius I Ketut Supriyanto, SVD sebagai Moderator Komunitas Kerasulan Kerahiman Ilahi (K3I) Keuskupan Denpasar (KKKI KD).

Kongres ini dibuka dalam perayaan Ekaristi oleh Uskup Banjarmasin, Mgr. Petrus Boddeng Timang, didampingi oleh Uskup Keuskupan Agung Makassar, Mgr. John Liku Ada.

Turut dalam perayaan konselebrasi juga para imam moderator K3I dari berbagai keuskupan dan beberapa imam dari Keuskupan Agung Makassar. Para devosan Kerahiman Ilahi (KI) yang hadir, berasal dari ragam latar belakang dan para suster dari beragam konggregasi.

KONGNAS IV K32I, menempuh tema: “KELUARGA: Oasis awal mekarnya Kerahiman Ilahi hingga menyebar ke seluruh dunia.” Tema ini dijabarkan dalam beberapa sesi yang disiarkan secara live-streaming di saluran KOMSOS KAMS.

Pembicaraan dibuka dengan sesi berjudul “Setiap Murid Yesus diberi Misi Menjadikan Keluarganya Oasis Kerahiman Ilahi”. Tema ini dipaparkan oleh Bapak Stefan Leks yang sudah tidak asing lagi bagi seluruh peserta.

Selain mengajak para devosan memulai dari keluarga masing-masing, Bapak Stefan Leks juga mengajak para imam untuk terlibat merawat gerakan awam ini dengan membimbing para devosan sesuai semangat Santa Faustina Kowalska yang pengalaman rohaninya tertulis dalam Buku Harian Santa Faustina (BHF). Para imam diajak untuk membaca kekayaan rohani Santa Faustina, yang tertuang dalam BHF.

Sesi kedua dipaparkan tema: “Keluarga Nazaret Oasis Inkarnasi Kerahiman Ilahi.” Tema ini dijabarkan oleh Mgr. John Liku Ada, Uskup Keuskupan Agung Makassar. Bapa Uskup menyesuaikan tema yang diusulkan oleh Panitia KONGNAS IV “Spiritualitas Kerahiman Ilahi dalam Hidup Keluarga Kudus Nazaret.”

Berangkat dari pengalaman tradisi religius Israel, hingga sampai pada pengalaman keluarga Nazaret, maka spiritualitas Kerahiman Ilahi sejatinya adalah “taat total kepada kehendak Allah”. Pengalaman hidup Yesus, Yoseph, dan Maria yang tercatat dalam Injil, sungguh nyata memberi gambaran tentang ketaatan pada kehendak Allah itu.

Input ketiga diberikan oleh YM Uskup Banjarmasin, Mgr. Petrus Boddeng Timang yang membawakan penyajian berjudul “Merawat Cinta Kerahiman Ilahi dalam Keluarga dengan Ketekutan Devosi dan Liturgi.

Dengan bahan yang sudah dibagikan kepada peserta KONGNAS, Bapa Uskup Piet Timang, demikian Beliau biasa disapa, menyampaikan pemaparan dengan hal-hal praktis yang terjadi di Keuskupan Banjarmasin.

Berangkat dari visi dan misi keuskupan, Bapa uskup menyasar pengalaman iman umat yang terhitung kecil dalam jumlah. Namun itu tidak perlu membuat merasa kecil karena walaupun di Banjarmasin, umat Katolik hanya 0,4% tetapi dengan berpikir nasional dan global, umat Katolik adalah kelompok umat terbesar di dunia. Dan dengan berpikir Indonesia yang beragam, maka keluarga umat yang kecil tidak perlu merasa menjadi minoritas.

Dengan itu, kesaksian keluarga Katolik dalam kehidupan sosial di tengah umat beragama lain, justru telah mendapat pengakuan.

Sesi keempat diisi oleh RD Andreas Rusdyn Ugiwan, ketua Komisi kerasulan Keluarga KAMS. Dengan latar belakang pendidikan khusus di bidang keluarga, Pastor Rusdyn menyampaian bahan secara ringan dengan judul “Kerahiman Ilahi Kekuatan Keluarga Kristiani dalam Tujuh Cincin Perkawinan” yang diambil dari buku Jackie Bledsoe “Seven Rings of Marriage”.

Tujuh cincin: wedding ring (perkawinan), discover-ring (penemuan), suffer-ring (penderitaan), persever-ring (keteguhan), restor-ring (pemulihan), prosper-ring (kemapanan), offer-ring (persembahan), merupakan proses perjalanan hidup berkeluarga yang tidak bisa dipungkiri.

Untuk mencapai kematangan dan mencinta dengan cinta sejati, banyak keluarga mengalami persoalannya tersendiri.

Pastor Rusdyn mengajak keluarga-keluarga untuk menjadikan Kerahiman Ilahi sebagai landasan untuk bertumbuh menuju cinta yang sejati melalui devosi nyata dalam hal sederhana: makan bersama dan berdoa bersama dalam keluarga.

Sesudah aneka masukan itu, KONGNAS diarahkan untuk meramu apa yang akan dikerjakan dalam tiga tahun ke depan hingga KONGNAS V. Hal-hal praktis terkait keputusan KONGNAS akan disampaikan secara komprehensif dalam hasil yang akan dibagikan menyusul.

KONGNAS IV juga telah memutuskan memilih Keuskupan Agung Merauke untuk menjadi penyelenggara KONGNAS V tahun 2025 dengan catatan. Jika terdapat kesulitan yang bisa membatalkan tempat KONGNAS V, maka Keuskupan Bandung atau Keuskupan Denpasar akan menjadi tuan rumah pengganti.

Keuskupan Agung Merauke dipilih mengingat dari KONGNAS yang telah terjadi, para peserta dari Timur, selalu mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Dengan pengandaian sekali penerbangan seharga 6 juta, maka setiap peserta minimal harus menyediakan 15 juta rupiah untuk sekali KONGNAS. Solidaritas ini disetujui namun tetap dengan pertimbangannya.

KONGNAS IV ditutup dengan perayaan ekaristi yang dipersembahkan oleh YM Uskup Keuskupan Agung Makassar, Mgr. John Liku Ada, yang sekaligus mengutus dengan berkat untuk kembali merasul mulai di tengah keluarga masing-masing.

Warna-warni KONGNAS IV belum seluruhnya sempurna dirangkum. Hasil KONGNAS sebelumnya, belum sempat ditanggapi dan dievaluasi dengan baik. Juga mandat-mandat dan rencana-rencana belum seluruhnya bisa dilaksanakan mengingat peserta KONGNAS IV telah overtime di Novotel Shayla.

Komunitas Kerasulan Kerahiman Ilahi tetap adalah sebuah komunitas devosional. Namun hal itu tentu akan menjadi persoalan tersendiri jika sudah mengumpulkan banyak devosan, kecuali jika devosi Kerahiman Ilahi, tetap dibiarkan menjadi spiritualitas pribadi.

Peran dan kehadiran moderator dari hirarki Gereja sangat diharapkan oleh KONGNAS IV. Oleh sebab itulah, perwakilan dari Keuskupan Denpasar telah melangkah sebagai yang pertama untuk merapikan para devosan dalam hal berkumpul, mengamalkan spiritualitas sesuai ajaran Gereja dan kesediaan terlibat dalam reksa pastoral parokial sesuai Arah Dasar Keuskupan.

Hadirnya Statuta, yang oleh beberapa utusan, dianggap tidak perlu karena bersifat komunitas devosional pribadi. Namun jika ada Kongres Nasional, hal ini jelas mengandaikan ada perangkat resmi di bawahnya sebagai bagian dari komunitas nasional ini.

Tanpa kelompok atau komunitas yang teratur, maka tidak mungkin menyelenggarakan, menghadiri Kongres Nasional atau mengatasnamakan diri sebagai utusan keuskupan tertentu.

Beberapa utusan dari keuskupan lain, telah meminta contoh Statuta Komunitas Kerasulan Kerahiman Ilahi Keuskupan Denpasar untuk dijadikan bahan belajar.

Komunitas Kerasulan Kerahiman Ilahi Keuskupan Denpasar dari paroki-paroki, selanjutnya akan diundang untuk mendapatkan sosialisasi hasil KONGNAS IV ini, sekaligus memilih koordinator dan pengurus KKKI KD untuk tiga tahun ke depan. Jesus, I Trust in You ***
Penulis: RP Laurensius I Ketut Supriyanto,SVD/Moderator K3I Keuskupan Denpasar

Penulis
Hironimus Adil
Show More

KOMISI KOMUNIKASI SOSIAL

Tim Redaksi *Pelindung Mgr. DR. Silvester San (Uskup Keuskupan Denpasar) *Pemimpin Umum/Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi RD. Herman Yoseph Babey (Ketua Komisi Komsos) *Redaktur: Hironimus Adil- Blasius Naya Manuk- Christin Herman- J Kustati Tukan-

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
error: Content is protected !!
Close
Close