LINTAS PAROKILINTAS PERISTIWA
Trending

PERAYAAN PENTAKOSTA, HARI SPESIAL DAN BERSEJARAH BAGI PAROKI BABAKAN

Hari Raya Pentakosta selalu menjadi hari spesial bagi Paroki Babakan, sebab peringatan turunnya Roh Kudus atas para Rasul itu menjadi hari Pesta Pelindung Paroki ini yaitu Roh Kudus.

Pentakosta secara etimologi berasal dari bahasa Yunani, artinya lima puluh. Hari raya Pentakosta adalah hari ke-50 setelah Kebangkitan Yesus (Paskah). Pada Pentakosta itulah turunnya Roh Kudus yang pernah dijanjikan Yesus kepada para Murid sebelum Dia wafat, yang disebutnya sebagai Penolong yang lain.

[6/6, 4:13 PM] KD Hiro: Menyambut Bapak Uskup dengan kalungan bunga [6/6, 4:14 PM] KD Hiro: Pastor Paroki RD. Rony Alfridus Bere Lelo, mengucapkan selamat datang kepada Bapak Uskup
Bagi Paroki Roh Kudus Babakan, Pentakosta tahun 2022 ini memiliki kisahnya sendiri. Pada perayaan Pentakosta Minggu (5/6), yang juga pesta pelindung paroki itu, dimahkotai dua peristiwa bersejarah yakni penerimaan Sakramen Krisma dan Pemberkatan Gereja setelah direnovasi.

Untuk diketahui, gereja paroki itu baru saja melakukan pembongkaran dan perbaikan atap secara total. Demikian pula plafon gereja semuanya diganti. Pekerjaan renovasi itu berjalan lancar sehingga patut disyukuri dalam upacara khusus pemberkatan setelah direnovasi.

Umat Paroki Roh Kudus Babakan menyambut rangkaian peristiwa iman itu dengan penuh sukacita. Selain rangkaian pesta iman, juga dilaksanakan pesta budaya yakni Mebat pada Minggu (5/6) pagi.

Mebat adalah kegiatan memasak makanan secara bersama-sama yang mengedepankan gotong royong, di mana hasil olahan masakan itu dimakan bersama dan berbagi. Mebat biasanya dilakukan sebelum perayaan khusus. Dalam tradisi umat Hindu-Bali, mebat biasa dilakukan pada hari penampahan atau H-1 Galungan.

Dalam perayaan Ekaristi, selain diiringi oleh koor paroki ‘Kidung Agung’ perayaan tersebut juga dimeriahkan dengan alunan Gamelan khas Bali, lengkap dengan sendratari (khusus saat persiapan persembahan), yang dipersembahkan oleh para penabuh dan penari dari Sanggar Astiti Budaya, salah satu Kelompok Kategorial Paroki itu.

Ketua Panitia Perayaan Paulus I Wayan Bethalion Tarian persembahan diiringi tetabuhan dari Sanggar Astiti Budaya Babakan

Iringan koor dan tetabuhan gamelan khas Bali itu menghadirkan kemeriahan dan agungnya perayaan yang berlangsung Minggu petang itu.

Perayaan Pentakosta dalam satu rangkaian dengan Pesta Pelindung Paroki, Penerimaan Sakramen Krisma dan Pemberkatan Gereja pasca renovasi ini dipimpin Uskup Denpasar Mgr. Silvester San. Ada empat imam konselebrasi yang turut mendampingi Bapak Uskup, antara lain Pastor Paroki Babakan RD. Rony Alfridus Bere Lelo, serta tiga imam yang berkarya di Seminari Roh Kudus Tuka yakni RD. Yasintus Nahak, RD. J.B. Nyoman Suryana dan RD. Agustinus Maksimus Soge.

Dalam homilinya, Bapak Uskup, mengawali dengan sebuah cerita ringan yang mengisahkan seorang anak perempuan berusia lebih kurang 4 tahun bernama Mei dari Republik Rakyat China (RRC).

Saat pembaruan janji baptis sebelum menerima Sakremen Krisma

Bapak Uskup mengisahkan, “Tahun 1950-an, ibunya Mei dipenjarakan oleh RRC karena dia percaya kepada Kristus. Mei terpaksa pergi bersama Ibunya ke penjara karena tidak ada yang bisa menjaganya di rumah. Orang-orang Kristen di penjara itu dikawal secara ketat, tapi Mei dibiarkan jalan kian kemari karena dia masih kecil. Di antara para tawanan itu ada seorang uskup, beberapa imam dan suster.

Mereka tentu saja tidak bisa merayakan misa di dalam penjara, namun untunglah masih ada beberapa imam di luar penjara sehingga secara sembunyi-sembunyi merayakan Ekaristi dan diam-diam mengirimkan komuni kudus kepada orang-orang Katolik di dalam penjara itu.

Suatu ketika ada seorang tahanan perempuan beragama Katolik yang tidak boleh dikunjungi. Para pengawal penjara tidak pernah mengijinkan siapapun untuk mengunjungi ibu itu. Namun mereka tidak memperhitungkan Mei anak kecil ini.

Upacara Penerimaan Sakramen Krisma

Dia bisa pergi ke mana saja, karena memang usianya masih kecil. Mei memanfaatkan kesempatan itu untuk membawa Sakramen Mahakudus kepada ibu itu dengan menyembunyikan dibalik bajunya. Itu dilakukannya cukup sering dalam penjara itu.

Tidak lama kemudian ibu Mei dibebaskan dan bersama Mei sang anak, kembali ke kampung mereka. Mei kemudian minta untuk menerima Sakramen Mahakudus walaupun usianya baru 5 tahun. Satu bulan setelah itu dia menerima Sakramen Krisma.

Ketika semua misionaris diusir dari RRC, Mei mengucapkan selamat jalan kepada pastor parokinya sambil berkata, ‘sekarang saya tidak takut lagi karena saya sudah menerima Roh Kudus melalui Sakramen Krisma.’ Bagi Mei, Roh Kudus adalah Roh yang memberi kekuatan, Roh yang memberi keberanian.”

Bapak Uskup melanjutkan, memang Roh Kudus itu adalah Roh yang memberi kekuatan, keberanian. Hal itu nyata dialami oleh para Murid. Ketika Yesus wafat, para murid begitu takut dan tak berdaya. Di anatara mereka mulai ada yang kembali ke kehidupan masing-masing.

Umat Babakan yang berbahagia di Pesta Pelindung Paroki, sebagian umat lainnya duduk di aula dan di halaman gereja di bawah tenda

“Walaupun mereka tahu Yesus sudah bangkit melalui beberapa bukti dan penampakan Yesus kepada mereka seperti dialami dua orang Murid yang pergi ke Emaus, namun mereka tetap belum berani untuk mewartakan tentang kebangkitan Yesus itu,” ungkap Mgr. San.

Kemudian, pada Pentakosta atau hari ke-50 setelah Yesus bangkit, dalam suasana takut, Roh Kudus turun di atas para Rasul. Sejak itu para murid sudah mulai berani mewartakan Yesus yang bangkit, Petrus misalnya dengan penuh keberanian mewartakan Yesus yang telah bangkit itu.

Menurut Bapak Uskup, Pentakosta adalah awal yang baru dan menandai lahirnya Gereja, di mana Yesus menganugerahkan kepada kita Roh Kudus.

Para Krismawan-Krismawati

“Dalam Injil hari ini kita mendengar bahwa Yesus berjanji mengirimkan Penolong yang lain atau penghibur. Janji Yesus itu terpenuhi pada hari Pentakosta. Kita hendaknya juga senantiasa membuka hati kita untuk dipimpin oleh Roh Kudus. Roh Kudus itu yang menghidupkan kita dan mengangkat kita sebagai anak Allah,” ungkap Uskup yang juga Pakar Kitab Suci ini.

Bapak Uskup, pada bagian puncak homili mengatakan, “Hari ini, di Hari Raya Pentakosta yang juga Pesta Pelindung Paroki Babakan ini, gereja ini akan diberkati setelah direnovasi. Juga dalam perayaan ini sejumlah umat akan menerima Sakramen Krisma. Kita bersyukur kepada Tuhan atas lencarnya proses renovasi gereja, seraya memohon kepada Tuhan agar kita semua, lebih khusus kepada krismawan-krismawati agar mereka sungguh mengalami Roh Kudus, mereka mau membuka hati kepada karya Roh Kudus sehingga akan dimampukan dan berani menjadi Saksi Kristus di tengah masyarakat majemuk.”

Para konselebran bersama petugas liturgi

Usai homili dilanjutkan dengan upacara penerimaan Krisma, yang didahului oleh penyerahan Calon Krismawan-krismawati oleh Pastor Paroki RD. Rony Alfridus Bere Lelo.

“Yang Mulia Bapak Uskup, hari ini kami umat paroki Roh Kudus Babakan mengantarkan 54 orang dewasa dan muda-mudi yang ingin menerima Sakramen Krisma. Mereka ini telah disiapkan dengan seksama oleh para pembina selama 4 bulan. Dalam pengamatan kami, mereka ini memang pantas untuk menerima Sakramen Krisma,” ungkap Romo Rony, yang disambut Bapak Uskup dengan ucapan terima kasih dan mengabulkan permohonan pastor paroki itu.

Para konselebran bersam Satgas Paroki

Selanjutnya penerimaan Sakramen Krisma berjalan kyusuk dan diiringi lagu-lagu mohon Roh Kudus dan pujian lainnya dari paduan suara Kidung Agung. Usai penerimaan Sakramen Krisma dilanjutkan pemberkatan gereja. Semua upacara ini berjalan lancar dan hikmad.

Sebelum berkat penutup diisi oleh Laporan dari Ketua Panitia dan sambutan Bapak Uskup. Paulus I Wayan Bethalion, selaku Ketua Panitia, selain mengucap syukur dan berterima kasih kepada Bapak Uskup, para imam konselebrasi serta seluruh umat atas berjalan lancarnya peristiwa iman itu, juga menyampaikan beberapa hal, baik menyangkut Sakramen Krisma maupun proses renovasi gereja.

“Serangkai acara sore ini berjalan lancar yaitu perayaan Pentakosta sekaligus Pesta Pelindung Gereja, penerimaan Sakramen Krisma kepada 54 orang. Mereka telah mengikuti pembinaan selama 4 bulan. Hari ini juga ada pemberkatan gereja setelah direnovasi, khususnya bagian atap dan plafon,” katanya.

Pak Bethalion, kemudian bertanya khusus kepada para krismawann-krismawati tentang perasaan mereka setelah menerima sakramen krisma hari ini. Para peneriman krisma itu secara kompak menjawab: senang, bahagia dan gembira.

Para konselebran bersama DPP

Mendengar jawaban itu, Pak Bethalion berpesan, “Tidak cukup dengan perasaan itu. sakramen Krisma sebagai tanda kedewasaan iman. Sebagaimana seseorang yang telah memasuki usia dewasa, kita sudah memiliki tanggung jawab. Sakramen Krisma kita maknai untuk bertanggung jawab atas iman kita, semakin percaya teguh kepada Yesus, dan bertanggung jawab dalam kehidupan menggereja maupun bermasyarakat.”

Lalu, Bapak Uskup San juga menyampaikan profisiat serta selamat bahagia dalam kegembiraan kepada seluruh umat, Pastor dan DPP Babakan atas pesta pelindung paroki itu, seraya meminta untuk terus membuka hati kepada karya Roh Kudus agar Gereja Paroki itu terus berkembang dan lebih sejahtera.

Bapak Uskup saat pemberkatan Gereja

Secara khusus Bapak Uskup juga menyampaikan selamat bahagia dan profisiat kepada krismawan-krismawati, dengan harapan agar dengan Roh Kudus yang diterima melalui Sakramen Krisma semakin dewasa dalam iman, semakin mampu dan berani mewartakan kabar sukacita Injil dan menjadi Saksi Kristus di tengah dunia.

Bapak Uskup, dalam kesempatan ini juga menjabarkan secara sepintas mengenai tema pastoral Keuskupan Denpasar 2022: Gereja dalam Perutusan Kontekstual.

Menurut Bapak Uskup, ada beberapa konteks yang berkaitan erat dengan perutusan Gereja Katolik Keuskupan Denpasar, antara lain, konteks pandemik covid 19 yang semakin membaik dan menuju endemi, namun tetap waspada.

Konteks lainnya adalah media sosial. Bapak Uskup meminta agar dapat memanfaatkan medsos untuk karya pewartaan, tetapi tetap hati-hati dan bijaksana menggunakannya. Konteks lainnya bahwa Keuskupan Denpasar merupakan kawanan kecil di antara kawan besar Hindu di Bali dan Islam di NTB, maka Gereja harus selalu mengedepankan kerjasaman bersifat dialogis dengan pihak lainnya.

Konteks selanjutnya adalah ekologis (bumi) yang semakin rusak supaya Gereja ikut merawat sebagaimana harapan Paus Fransiskus melalui Laudato Si. Kemudian, juga konteks Gereja Universal, dimana Paus mengajak seluruh umat untuk berpartisipasi dalam Sinode Para Uskup Sedunia yang bertema “Mewujudkan Gereja Sinodal: Persekutuan, Partisipasi dan Misi.”

Usai perayaan Ekaristi dilanjutkan ramah tamah di aula paroki itu.***

Penulis
Hironimus Adil
Show More

KOMISI KOMUNIKASI SOSIAL

Tim Redaksi *Pelindung Mgr. DR. Silvester San (Uskup Keuskupan Denpasar) *Pemimpin Umum/Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi RD. Herman Yoseph Babey (Ketua Komisi Komsos) *Redaktur: Hironimus Adil- Blasius Naya Manuk- Christin Herman- J Kustati Tukan-

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
error: Content is protected !!
Close
Close