LINTAS PAROKILINTAS PERISTIWA
Trending

PERAYAAN IMLEK PAROKI SANTO YOSEPH; RD. HADY: SEMANGAT IMLEK MENGAJAK PERUBAHAN

Minggu, 22 Januari 2023, suasana Gereja Yesus Gembala Yang Baik, Ubung Kaja, Denpasar, terbilang berbeda.

Hampir semua umat mengenakan pakaian bernuansa merah.

Hiasan altar juga didominasi oleh warna merah. Warna liturgi yang dikenakan pun juga warna merah. Ada apa gerangan?

Tanggal 22 Januari 2023 adalah Hari Tahun Baru Imlek 2574 Kongzili.

Bertepatan dengan Hari Raya Imlek, Paroki Santo Yoseph Denpasar mengambil momentum yang pas ini untuk menyelenggarakan Perayaan Syukur dalam Misa Inkulturasi yang disambung dengan acara kebersamaan.

Misa pukul 08.30 WITA ini dipadati oleh umat dari berbagai kalangan.

Meski perayaan Imlek identik dengan etnis Tionghoa, tetapi umat berbagai etnis turut bergembira dan bersyukur di hari bahagia ini.

Perayaan ini dipimpin oleh RD. Hubertus Hady Setiawan, Rektor Seminari Menengah Roh Kudus Tuka, atau yang akrab disapa Romo Hady, didampingi oleh kedua pastor di Paroki St. Yoseph yakni P. Yan Madia, SVD dan P. Ketut, SVD.

Perayaan Ekaristi diawali dengan tarian perarakan yang dibawakan oleh anak-anak Sekami.

Perayaan ini menjadi semakin lengkap dengan suara emas dari Paduan Suara Paroki yang membawakan lagu-lagu bernuansa Mandarin sebagai ciri khas Imlek.

Tidak kurang juga perarakan persembahan khas Imlek, seperti parsel jeruk, kue kelinci air yang melambangkan tahun 2023 dalam shio Tionghoa, juga yang bao, sebuah keranjang permen berbentuk uang-uangan khas Tionghoa.

Dalam homilinya, Romo Hady menjelaskan asal-usul Imlek yang sebenarnya “diciptakan atau dibuat”.

Sebelum sampai ke sana, Romo Hady menyebut bahwa dalam memahami Imlek, konteks empat musim, yakni musim semi, musim gugur, musim panas, dan musim dingin harus dipahami.

Hal inilah yang kurang dapat dibayangkan oleh umat Indonesia yang hanya mengalami dua musim.

“Adalah seorang filsuf yang tidak disebut namanya memproklamirkan perubahan seperti yang kita dengar dalam Injil tadi. Zebulon dan Naftali yang hidup dalam kegelapan telah menyambut Terang yang sudah datang,” katanya.

Menurut Tradisi Kristiani, lanjutnyaa, Terang adalah Yesus. Dalam tradisi dan budaya Tionghoa, mereka tidak menyapa secara jelas seperti kita menyapa Allah Tritunggal, tetapi “Tien” atau Dewa Langit.

“Dewa Langit adalah yang berkuasa mengatur peredaran musim yang berganti-ganti. Pada musim semi, tanaman dapat bertumbuh dan hewan-hewan beranak banyak sehingga mereka bisa berpesta,” imbuhnya.

Lanjutnya, “Maka seorang filsuf mengubah pandangan dan pikiran bahwa di musim dingin adalah saat untuk merefleksikan diri dan di musim semi adalah masa suka cita.

“Suka cita inilah yang diungkapkan dengan simbol-simbol warna merah. Pada waktu itu pula, ketika sebagian besar masyarakat Tionghoa belum bersekolah, mereka pun “dibohongi” oleh filsuf itu bahwa ada monster yang berupa bakteri yang menyerang kita sehingga hidup kita harus bersih. Inilah seorang filsuf yang kemudian melahirkan apa yang disebut Hari Raya Imlek, perayaan musim semi,” urainya.

Romo Hady kemudian menjelaskan beberapa simbol yang ditampilkan dalam perayaan Imlek.

Pertama, keluarga besar wajib berkumpul untuk makan malam bersama pada malam tahun baru. Ini adalah simbol kekeluargaan dan kebersamaan.

Kedua, salah satu makanan khas adalah kue Cina yang melambangkan kerekatan dalam keluarga.

Ketiga, jeruk merupakan buah yang terdiri dari bagian-bagian yang menyatu. Hal ini melambangkan banyak saudara yang terikat dalam sebuah ikatan persaudaraan.

Keempat, permen melambangkan “bahasa yang manis” karena pada malam tahun baru, keluarga besar dilarang untuk bertengkar. Bahasa yang manis juga melambangkan rasa syukur dan terima kasih kepada Sang Tien.

Selain simbol-simbol dalam perjamuan bersama, simbol lain juga ditampilkan.

Salah satunya adalah lampion. Lampion biasanya berdampingan dengan liong (naga) yang identik dengan penampilan barongsai.
Lampion melambangkan terang yang menghalau kegelapan atau penyakit sebagaimana terwujud dalam rupa naga.

“Maka sesuai dengan bacaan hari ini, Yesus hadir sebagai terang keselamatan. Terang itu tidak hanya hadir dalam pribadi, tetapi juga diwartakan oleh para murid. Dalam konteks di tanah Tiongkok, perlu kiranya kita mengetahui seorang santo SVD, yakni Santo Yoseph Freinademetz. Beliau menjadi misionaris di Fujien dan tidak pernah kembali sampai akhir hayatnya. Mengapa? Karena suasana desa Fujien sama dengan suasana tempat kelahirannya yang bergunung-gunung di Austria. Apa pewartaannya? Bertobatlah, sebab kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah, berubahlah,” sambungnya.

Lanjutnya, “Maka Imlek pun memiliki semangat perubahan. Sang filsuf tadi mencuci otak saudara-saudaranya untuk berubah, dari hidup kotor menjadi hidup bersih. Ini berkaitan dengan simbol angpao,” terangnya.

Angpao yang diberikan tidak boleh berangka 4, tetapi sangat dianjurkan berangka 8. Mengapa? Angka 4 seperti kursi, melambangkan duduk saja, tidak bekerja, malas-malasan. Tetapi angka 8 melambangkan lingkaran yang tidak pernah putus, seperti jarum jam yang terus berputar, terus beraktivitas, terus bekerja, untuk mengubah dunia.

Simbol terakhir yang dijelaskan Romo Hady adalah warna merah.

Warna merah melambangkan kegembiraan, kemeriahan, damai sejahtera, dan penuh berkat.

“Luar biasa para filsuf yang mengubah paradigma kehidupan kita yang mau berubah, mau bekerja, mau takut kepada Tien, Allah,” ungkapnya.

Foto atas : Koor paroki bersama imam konselebrasi Foto bawah : Para donatur pengadaan AC menerima parcel jeruk dari panitia

Penjelasan detail Romo Hady tentang makna dari simbol-simbol Imlek bukanlah tanpa alasan.

“Begitu banyak simbol yang kita tahu itu bagus, karena apa? Gereja Katolik sangat menghargai inkulturasi. Tidak mencaplok semua budaya, tetapi menghargainya dalam bentuk keindahan, musik-musik, dan sebagainya sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan.”

“Akhirnya, selamat hari raya Imlek. Semoga semangat Imlek yang ditanamkan oleh para filsuf Tionghoa itu yang tumbuh dan berkembang sampai sekarang, kita ambil hal-hal positifnya, sehingga kita betul menjadi manusia yang bermartabat, manusia yang dipilih oleh Yesus, sebagai pewarta kabar baik, dengan menjaga pikiran kita, perkataan kita, dan perbuatan kita,” harapnya.

“Kita juga menjadi orang-orang yang berubah, bukan seperti tanah Zebulon dan Naftali, tetapi seperti tanah Yerusalem di mana Tuhan memberikan kepada kita berkat-berkat-Nya. Gong Xi Fa Cai. Tuhan memberkati,” pungkas Rektor Seminari Menengah Roh Kudus Tuka ini.

Setelah penerimaan komuni, anak-anak SD berbaris untuk menerima berkat sekaligus angpao.

Bahkan, karena jumlah angpao masih terbilang banyak, anak-anak SMP dan SMA juga diperkenankan menerima angpao setelah perayaan Ekaristi.

Setelah pengumuman, P. Yan Madia, SVD selaku Pastor Paroki menyampaikan limpah terima kasih kepada Romo Hady yang telah menjadi selebran utama dalam Perayaan Ekaristi Tahun Baru Imlek ini.

P. Yan juga berterima kasih kepada Paduan Suara Paroki yang telah menyemarakaan perayaan ini dengan nyanyian khas Mandarin.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada para donatur, segenap panitia, dan siapa pun yang terlibat hingga perayaan syukur ini dapat terlaksana dengan baik.

Menariknya, sebelum perayaan Ekaristi berakhir, P. Yan secara terang-terangan menyampaikan kepada umat bahwa kebutuhan AC (air conditioner) di Gereja Yesus Gembala Yang Baik adalah mendesak.

Oleh sebab itu, tanpa berlama-lama, P. Yan langsung melelang sepuluh parsel jeruk yang menjadi persembahan dalam perayaan Ekaristi ini.

Tidak tanggung-tanggung, satu parsel dihargai Rp10 juta. Walhasil, sepuluh donatur langsung mengajukan diri dan terkumpullah Rp100 juta.

Tidak sampai di situ, kue kelinci air yang juga menjadi persembahan dilelang hingga mencapai penawaran tertinggi Rp 25 juta. Dengan demikian, terkumpullah dana sejumlah Rp125 juta untuk pengadaan AC di Kompleks Gereja Yesus Gembala Yang Baik. Sontak seluruh umat bertepuk tangan atas kemurahan hati para donatur.

Perayaan Ekaristi ditutup dengan berkat meriah dan foto bersama dengan seluruh petugas liturgi serta para donatur.

Pementasan barongsai di basemen gereja setelah Misa

Perayaan syukur Tahun Baru Imlek tidak hanya sampai pada perayaan Ekaristi.

Acara kebersamaan juga diselenggarakan di Basement Gereja.

Atraksi barongsai membuka acara kebersamaan ini pukul 11.00. Sejumlah hiburan menarik juga ditampilkan, yakni atraksi wushu, storytelling tentang hari raya Imlek, doorprize, serta pembawaan sejumlah lagu bernuansa Imlek.

Basement gereja semakin semarak dengan hiasan lampion dan ornamen khas Imlek.

Di sini, ribuan umat yang telah mendapatkan bingkisan ketika keluar dari gereja dapat menikmati santap siang bersama.

Seluruh acara kebersamaan ini dipandu oleh kelompok PD PKK Yesus Gembala Yang Baik.

Akhirnya, perayaan syukur ini berakhir pada pukul 14.00. Ribuan umat dari berbagai kalangan turut bersuka cita dalam perayaan syukur ini.

Proficiat! Gong Xi Fa Cai!

Penulis
Joshua Jolly SC

Editor: Hiro

Show More

KOMISI KOMUNIKASI SOSIAL

Tim Redaksi *Pelindung Mgr. DR. Silvester San (Uskup Keuskupan Denpasar) *Pemimpin Umum/Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi RD. Herman Yoseph Babey (Ketua Komisi Komsos) *Redaktur: Hironimus Adil- Blasius Naya Manuk- Christin Herman- J Kustati Tukan-

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
error: Content is protected !!
Close
Close