LINTAS PERISTIWA
Trending

PENGALAMAN INDAH MENGIKUTI RETRET DI PERTAPAAN LEMBAH KARMEL MALANG

Sempat vakum sekitar dua tahun selama masa pandemi covid 19, Pertapaan Lembah Karmel, Malang, kembali dibuka untuk umat yang hendak menimba kekuatan spiritual.

Dengan udara kota Malang yang sejuk, pekan ketiga September, di Pertapaan Karmel itu diadakan Retret untuk pertama kalinya setelah dua tahun Vakum. Retret awal “Penyembuhan Luka Batin” itu, diadakan 22-25 September 2022.

Diikuti 134 peserta dari berbagai daerah di Indonesia termasuk penulis sendiri. Berikut pengalaman penulis dalam beberapa hari retret itu.

Hari pertama diawali dengan doa pembuka, puji-pujian lanjut season ‘Hati yang Luka Harus Diobati.’ Sesi ini dibawakan oleh Romo Brendan.

“Luka yang bernanah harus dikorek keluar, nanahnya lalu ditaburi atau dikasih ‘betadin.’ Betadinnya disini adalah TUHAN, carilah TUHAN karena TUHAN Penyembuhnya,” katanya.

Menurut Romo Brendan, penyembuhan memang butuh proses dan harus percaya kuasa Tuhan yang menyembuhkan, mengampuni, memaafkan dan berdamai, karena Janji Yesus bahwa “Dia akan menyertai kamu sampai akhir jaman.”

Esok harinya, kabut masih menyelimuti Lembah Karmel, udara terasa dingin, di keheningan pagi terdengar lonceng gereja berbunyi. Semua peserta menuju ruang aula yang luas untuk misa pagi yang dimulai pukul 05.00. Selesai Misa, lanjut season berikutnya bertema: Cara Menyembuhkan Luka Batin.

Sesi kedua ini dibawakan oleh Sr. Sisilia. “Luka batin disembuhkan oleh Tuhan. Saya pinjam hati Yesus untuk mengampuni, mencintai, dan memaafkan. Serahkan semuanya kepada Yesus. Jadilah pemenang sejati,” kata Sr. Sisilia dalam renungannya.

Dalam kesempatan itu peserta juga diberi kesempatan menikmati suasana keheningan alam yaitu turun ke lembah tempat Gua Maria. Perjalanan ini melewati hutan pinus yang rindang, terasa sunyi dan hening menuruni lembah hingga ke mata air yang ceritanya bisa menyembuhkan beberapa penyakit, dan berdoa memohon pada Bunda Maria.

Dalam perjalanan ini ditemukan tanaman unik, pisang yang biasanya berbuah ke bawah, tapi ini pisangnya berbuah dengan jantungnya keatas. Penjaga kebun menamai pisangnya “Pisang Sundul Langit” atau pisang menusuk langit.

Hari berikutnya setelah misa pagi yang dipimpin Romo Brendan, beberapa pengalaman dialami peserta. Ada peserta yang mendapatkan kesembuhan, pencerahan, kebahagiaan, juga percaya diri karena sudah dapat “Surat Cinta dari Yesus kepada Manusia.” ***

Penulis: Rosalina Meiling/KomsosSumbawa

Penulis: Rosalina Meiling/KomsosSumbawa

Editor: Hiro/KomsosKD

Show More

KOMISI KOMUNIKASI SOSIAL

Tim Redaksi *Pelindung Mgr. DR. Silvester San (Uskup Keuskupan Denpasar) *Pemimpin Umum/Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi RD. Herman Yoseph Babey (Ketua Komisi Komsos) *Redaktur: Hironimus Adil- Blasius Naya Manuk- Christin Herman- J Kustati Tukan-

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
error: Content is protected !!
Close
Close