LINTAS PAROKILINTAS PERISTIWA
Trending

MENIKMATI KESEDERHANAAN NATAL DI LEMBAH STASI MBAWA

KEUSKUPANDENPASAR.NET. Sukacita Natal adalah milik semua orang. Tidak terkecuali umat di Stasi Mbawa, sebuah stasi di yang terletak di lembah kaki gunung Donggo. Stasi ini berada agak pedalaman yang merupakan bagian dari Paroki Maria Vianey Donggo.

Sukacita Natal ini sungguh dialami penulis bisa menikmati kesederhanaan Natal bersama umat yang mayoritas bekerja sebagai petani itu.

Misa di stasi ini, baik malam Natal maupun Natal pagi dilaksanakan dua kali. Ini untuk memenuhi prasyarat 50% kapasitas gereja yang boleh terisi.

Kendati demikian di depan gereja tetap dibangun sebuah tenda sederhana untuk sebagian umat yang tidak tertampung di dalam ruangan gereja.

Sebagian umat berada di kuar gereja di bawah tenda sederhana ( insert) Kampung Mbawa dengan latar belakang gunung Donggo. Di kampung ini hidup damai umat Katolik dan Muslim

Penulis mengikuti jadwal misa kedua yang dilaksanakam pukul 08.00 wita. Pagi-pagi turun dari pusat paroki di Tolonggeru bersama Aston, seorang umat, dengan menempuh perjalanan sekitar 45 menit.

Umat cukup taat mengikuti protokol kesehatan. Saat misa berlangsung umat yang rata-rata hidup dalam kesederhanaan begitu kyusuk mengikuti jalan Ekaristi Suci yang dipersembahkan Pastor Rekan Paroki Donggo, RD. Benedictus I Wayan Rico Yusadi.

Seperti kata Paus Fransiskus bahwa Natal adalah Saya. Demikian pula, Natal adalah umat Stasi Mbawa maupun umat Paroki Donggo umumnya yang rata-rata berlatar belakang hidup dalam kesederhanaan dan juga kepolosan.

Natal bagi umat di pedesaan umumnya seperti menemukan jati diri dari Natal sesungguhnya.

Tepat sekali apa yang diungkapkan Rm. Rico, demikian Pastor Rekan Donggo disapa, bahwa perayaan Natal adalah perayaan kesederhanaan.

Romo Rico, Pastor Rekan Paroki Donggo

“Perayaan Natal bukan perayaan hura-hura, tetapi perayaan kesederhanaan,” tegasnya dalam homili.

Di sisi lain, Romo Rico mengungkapkan bahwa Natal identik dengan Terang.

“Sangat menyenangkan ketika terang datang di saat kegelapan menimpa. Terang paling besar adalah terang yang datang membawa keselamatan. Terang itu adalah Yesus Kristus yang kita rayakan kelahiranNya hari ini,” kata Romo Rico.

Menurut Romo Rico, semua pengikut Yesus adalah anak-anak Terang lewat Sakramen Baptis yang telah diterimanya. Maka, ada jaminan setiap anak Terang untuk diselamatkan.

Namun demikian, menjadi anak-anak Terang bukan tanpa tantangan. Menurut Romo Rico tantangan pertama adalah orang tua yang ditantang untuk mendidik anaknya menjadi anak yang baik dan rajin berdoa.

“Setiap orang tua hendaknya sudah mengajarkan anak-anaknya berdoa sejak dia dari kecil, mengajari mereka dengan nilai-nilai kehidupan yang baik, sehingga terang itu terus menyinari mereka dengan menjadi orang yang teguh dalam iman dan menjadi anak yang baik dan berguna,” ingatnya.

Romo Rico menegaskan, “Jangan alasan capek pulang dari kebun, para orang tua menjadi lalai dalam mengajarkan doa dan kebaikan bagi anak-anak.”

Kepada anak-anak, Romo Rico meminta mereka juga untuk belajar mendengarkan orang tuanya, tidak hanya sibuk bermain hp.

Lebih lanjut Romo Rico mengatakan bahwa tanggung jawab setiap umat sebagai bagian dari Gereja, untuk terus menjaga terang baik untuk Gereja sendiri maupun bisa menerangi orang lain. “Terang itu harus lahir dari hati kita,” imbuhnya.

Di sisi lain Romo Rico menjelaskan tentang makna kelahiran Yesus.

“Bahwa kelahiran Yesus harus menjadi semangat dan napas kehidupan kita. Kita harus juga aktif dalam kehidupan menggereja. Semoga dengan Natal ini semangat kita dikobarkan lagi,” pungkasnya.

Anggota koor stasi yang sebagaian besar generasin milenial ( insert ) Petugas keamanan foto bersam Rm. Rico dan Katekis Ignasius Ismail setelah misa

Stasi Mbawa mengusung tema Natal: Cinta Kasih Kristus Menggerakkan untuk Berbagi.”

Sebelum berkat penutup Romo Rico meminta umat supaya rela untuk berbagi satu sama lain sebagai wujud persaudaraan sejati.

“Kalau kita tidak bisa memberi dengan uang atau harta lainnya, tetapi kita bisa berbagi dengan memberi tenaga dan semangat untuk membantu sesama saudara terutama di masa sulit akibat covid 19 yang belum berujung. Pergilah membawa Damai Natal dengan berbagi kepada semua orang,” tutupnya.

Misa di Stasi ini berjalan aman dan lancar di bawah pengamanan ketat dari pihak kepolisian dan TNI.

“Bersyukur Natal ini berjalan lancar dan penuh damai. Walaupun kami harus membuat jadwal ulang supaya setiap peribadatan dilakukan dua kali supaya tetap menjaga jarak. Sebelumnya kami menjadwalkan misa hanya satu kali, namun diubah lagi sesuai himbauan dari pihak keamanan dan Satgas Covid pemerintah,” kata Ignasius Ismail, Katekis Stasi Mbawa usai misa. *

Penulis
Hironimus Adil
Show More

KOMISI KOMUNIKASI SOSIAL

Tim Redaksi *Pelindung Mgr. DR. Silvester San (Uskup Keuskupan Denpasar) *Pemimpin Umum/Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi RD. Herman Yoseph Babey (Ketua Komisi Komsos) *Redaktur: Hironimus Adil- Blasius Naya Manuk- Christin Herman- J Kustati Tukan-

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
error: Content is protected !!
Close
Close