LINTAS PERISTIWA
Trending

KKP-PMP Regio Nusra Tindak Lanjuti Hasil Pertemuan Jaringan Caritas Indonesia tentang Adaptasi Perubahan Iklim

KUTA BALI – Komisi Keadilan, Perdamaian dan Pastoral Migran Perantau (KKP-PMP) Regio Nusa Tenggara (Nusra) mengadakan pertemuan regio di Rumah Retret Betania, Kuta, Bali, 3 – 5 Mei 2024.

Dari tema pertemuan KKP-PMP Regio Nusra tahun 2024 yaitu “Membangun Gerakan yang Masif sebagai Bentuk Adaptasi Perubahan Iklim,” menurut Ketua KKP-PMP Regio Nusra RD. Marthen Jenarut, merupakan tindak lanjut dari hasil pertemuan tahunan jaringan nasional Caritas Indonesia Regio Nusra yang baru berakhir sehari sebelumnya.

“Pertemuan kita ini masih korelasi dengan pertemuan tahunan jaringan Caritas Indonesia Regio Nusra yang baru dilangsungkan juga di Bali, 29 April – 3 Mei 2024. Terkait isu perubahan iklim ini secara eksplisit disebutkan dalam Ensiklik Paus Fransiskus Laudato Si, maupun dalam dokumen Laudate Deum,” ungkap Romo Marthen, sapaannya.

Dikatakan Romo Marthen, tanggapan Gereja maupun komunitas dunia lainnya masih minim, dan gerakannya belum masif dalam beradaptasi dengan perubahan iklim yang dampaknya tidak hanya menyebabkan bencana alam, tetapi juga kemiskinan.

Oleh sebab itu, dalam pertemuan ini, akan mendesign gerakkan bersama sebagai tindak lanjut dari pertemuan jaringan nasional Caritas Indonesia dengan tetap memperhatikan beberapa rekomendasi dan program keuskupan yang dihasilkan dalam pertemuan tahunan Caritas Indonesia.

Meregangkan otot dengan game disela-sela pertemuan

Hal tersebut diungkapkan RD. Marthen Jenarut dalam sambutannya pada pembukaan kegiatan itu, Sabtu (4/5/2024) pagi.

Kegiatan ini diawali dengan Misa Pembukaan yang dipimpin Uskup Denpasar Mgr. DR. Silvester San, didampingi RD. Marthen Jenarut, selaku Ketua Regio KKP-PMP.

Dalam homilinya, Uskup San, mengajak seluruh peserta untuk selalu setia dan teguh hati dalam menjalanan panggilan dan tugas perutusan sebagai fungsionaris pastoral KKP-PMP.

“Tentu banyak tantangan, kesulitan bahkan mengalami penolakan dalam memperjuangkan kemanusiaan maupun dalam menegakan keadilan dan perdamaian. Tetapi hendaknya semangat kita tidak boleh kendor, kita bisa meneladani Yesus Kristus yang juga melakukan perjuangan demi kemanusiaan bahkan mengalami tantangan dan penolakan yang lebih dahsyat hingga menderita dan mati di Salib,” ungkap Mgr. San.

Misa pembukaan pertemuan dipimpin Uskup Denpasar DR. Silvester San (kiri) dan Ketua Regio Nusra KKP-PMP RD. Marthen Jenarut

Uskup menambahkan, perhatian pada masalah perubahan iklim maupun terhadap tindak pidana perdagangan orang yang semakin meresahkan saat ini, berkaitan erat dengan kepedulian kita pada persoalan kemanusiaan, di mana hal ini juga bagian dari misi Yesus yang ingin menyelamatkan semua orang tanpa pandang bulu.

Ketua KKP-PMP Keuskupan Denpasar, Yusdi Diaz, mengungkapkan, peserta pertemuan ini dihadiri oleh seluruh utusan KKP-PMP Keuskupan se-Regio Nusra.

“Setiap keuskupan rata-rata mengutus dua orang, kecuali Keuskupan Denpasar sebagai tuan rumah menghadirkan lebih banyak paserta. Dari tuang rumah, selain pengurus KKP-PMP, juga ada dari komunitas etnis Flobamora Bali, utusan dari tiga dekenat serta dari Pusat Pastoral. Total 36 orang termasuk narasumber dan panitia lokal,” katanya menjelaskan peserta pertemuan ini.

Kegiatan ini dihadiri sejumlah narasumber sebagai pematik diskusi sekaligus penyegaran pengetahuan bagi para peserta.

RD. Herman Yoseph Babey & Suasana pertemuan dalam salah satu sesi

Tampil pada sesi pertama Ketua Regio Nusra KKP-PMP RD. Marthen Jenarut. Pastor asal Keuskupan Ruteng yang kini dipercaya menjadi Sekretaris Eksekutif KKP-PMP KWI ini, mengharapkan supaya di bagian akhir pertemuan nanti secara khusus membicaraka tentang kepengurusan Regio.

Selanjutnya Romo Marthen, menyegarkan kembali tentang ruang lingkup KKP-PMP. Dikatakan, selain pastoral migran perantau, pastoral ekologi juga menjadi ruang lingkup atau bagian kerja dari KKP-PMP. Juga dalam tugas perutusan komisi ini adalah terkait keadilan dan perdamaian.

Menurut Romo Marthen, isu ekologi memiliki keterkaitan dengan migran, di mana perubahan iklim menyebabkan tidak hanya terjadi bencana alam tetapi berdampak pada kemiskinan. Lalu, alasan miskin menjadi salah satu sebab orang menjadi migran, dan isu migran ini berpotensi terjadinya TPPO (Tindak Pidana Perdagangan Orang).

Narasumber lain yang hadir dalam pertemuan regional ini adalah Pakar Ekonomi Lingkungan DR. Maria Ratnaningsih, SE, MA.

DR. Maria menjelaskan secara komprehensif tentang perubahan iklim dan bagaimana respons terhadap perubahan iklim tersebut khususnya di Nusa Tenggara (Bali, NTB, NTT).

Salah satu bagian penjelasannya, Pakar Ekonomi Lingkungan yang juga Pengurus KKKP-PMP KWI, ini pentingnya membangun Basic Ecological Community sebagai gerakan adaptasi berbasis ekologi.

Langkah-langkah yang dilakukan antara lain mendorong penguatan ketahanan pangan, penerapan praktek pertanian dan perkebunan berkelanjutan dan melakukan rehabilitasi hutan dan lautan.

Langkah penting lainnya adalah mempertahankan sumber-sumber air dan fungsi hidrologinya serta meningkatkan penyerapan dan pengurangan emisi karbon.

“Kalimat kuncinya adalah keadilan untuk semua mahluk ciptaan,” katanya, seraya melanjutkan bahwa konsekuensinya adalah terkoneksi dan saling tergantug sebagai satu komunitas serta memiliki tanggung jawab untuk saling menjaga.

Hal mendesak dari Basic Ecological Community, yaitu perlunya upaya nyata untuk mencegah kehancuran kehidupan dan sumber-sumber penghidupan masyarakat serta mempertahankan fungsi ekosistem dan menjaga keanekaragaman hayati.

“Beragam kearifan lokal sesuai adat dan budayanya, juga harus menjadi modal untuk melakukan gerakan adaptasi berbasis ekologi,” terangnya.

Di samping itu, strategi yang dibangun antara lain meningkatkan kepeduliaan dan pemberdayaan melalui Pendidikan ekologi; memupuk spiritualitas ekologi integrasi; membangun gerakan ekologi menggunakan model dialog, interaksi, pengembangan kapasitas dan tata kelolal; membentuk tanggung jawab keberlangsungsan gerakan; dan menciptakan pemimpin yang memiliki kapasitas untuk menyebarkan dan mendorong proses perbaikan dan perawatan ekologi.

Masih terkait dengan penyelamatan lingkungan, hadir pula sebagai narasumber yaitu Direktur Pusat Pastoral Keuskupan Denpasar RD. Herman Yoseph Babey, yang menghantar studi bersama tentang Ensiklik Laudato Si dan Dokumen Laudate Deum dari Paus Fransiskus.

Peserta pertemuan bersama Uskup Denpasar dan Ketua Rehio Nusra KKP-PMP

Juga ada Andri Zainudin dari PT. Bank Plastik yang berbicara mengenai “Upaya Penyelamatan Lingkungan Hidup dengan Mengurangi dan Mengolah Sampah Plastik.”

Berbicara tentang Migrasi dan Perdagangan Manusia, KKP-PMP Regio Nusra menghadirkan Wahyu Susilo sebagai narasumber dan Sigit Wacono dari Plan International yang mensharingkan hasil survey tentang Penguatan Perlindungan Anak di Komunitas pada beberapa daerah di NTT. Studi Bersama dua materi ini dilaksanakan Minggu (5/5). ***

Penulis : Hironimus Adil
Show More

KOMISI KOMUNIKASI SOSIAL

Tim Redaksi *Pelindung Mgr. DR. Silvester San (Uskup Keuskupan Denpasar) *Pemimpin Umum/Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi RD. Herman Yoseph Babey (Ketua Komisi Komsos) *Redaktur: Hironimus Adil- Blasius Naya Manuk- Christin Herman- J Kustati Tukan-

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
error: Content is protected !!
Close
Close