Karya Komsos yang Mendunia Harus Tetap Berwajah Manusia
Dalam Sesi 5 Training of Trainers Komisi Komunikasi Sosial KWI, Prof. Richardus Eko Indrajit mengajak para pelaku komunikasi Gereja untuk tidak sekadar mengejar popularitas di ruang digital, melainkan membangun karya yang berakar pada nilai, kreatif, kolaboratif, dan membawa perubahan nyata.
Komunikasi Sosial Gereja di tengah perkembangan teknologi digital tidak boleh hanya mengejar jangkauan dan popularitas. Karya komunikasi yang mampu melintasi batas justru harus berangkat dari sesuatu yang paling mendasar, yakni manusia.
“Yang paling mendunia adalah yang paling manusiawi,” ujar Prof. Richardus Eko Indrajit, dalam Sesi 5 Training of Trainers Komisi Komunikasi Sosial Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) di Aula Pelican, Pusat Pastoral Sanjaya Keuskupan Agung Semarang, Muntilan, Jawa Tengah Selasa (25/08/2026).

Mengangkat tema “Membangun Karya Komunikasi Sosial yang Berdampak Luas dan Mendunia”, Eko Indrajit mengajak para peserta untuk melihat karya Komsos bukan sekadar sebagai kegiatan produksi konten, melainkan sebagai upaya menghadirkan perjumpaan, membangun kepercayaan, dan membawa perubahan dalam kehidupan manusia.
Mendunia Bukan Sekadar Viral
Di tengah ruang digital yang semakin padat oleh informasi dan perkembangan kecerdasan artifisial, Rektor Universitas Pradit aini menyebutkan bahwa Gereja memiliki kekayaan yang tidak begitu saja tergantikan oleh teknologi. Kekayaan itu adalah wajah-wajah nyata, komunitas yang hidup, kesetiaan lintas generasi, pijakan etis, serta berlimpahnya kisah autentik yang lahir dari pelayanan Gereja.
Karena itu, Eko begitu dia biasa disapa, mengingatkan bahwa tujuan karya komunikasi tidak seharusnya berhenti pada keinginan untuk menjadi viral. Sebuah karya mungkin dapat menarik perhatian dalam waktu singkat, tetapi dampak yang sesungguhnya membutuhkan waktu, kepercayaan, dan kesetiaan.
Karya Komsos, menurut Eko, harus bertumbuh seperti sebuah pohon. Nilai menjadi akar, kreativitas dan kemampuan menjadi batang, kolaborasi menjadi cabang yang merentang keluar, sementara dampak nyata dalam kehidupan manusia menjadi buahnya.
Kisah Manusia sebagai Kekuatan Komunikasi
Salah satu tantangan yang disoroti adalah kemampuan untuk menemukan dan membagikan kisah-kisah nyata. Gereja, bagi Eko, tidak kekurangan bahan cerita. Tantangannya justru terletak pada disiplin untuk menemukan, mengolah, dan membagikannya secara konsisten.
Karena itu, komunikasi yang baik perlu menghadirkan manusia secara nyata. Prinsip “satu wajah, satu kisah, satu kebenaran” menjadi salah satu pendekatan yang ditawarkan untuk menjaga agar karya komunikasi tetap dekat dengan pengalaman manusia sekaligus berpijak pada kebenaran.
Teknologi, termasuk kecerdasan artifisial, dapat membantu proses kerja. Namun teknologi tetap harus menjadi alat dan tidak boleh menggantikan tanggung jawab manusia. Penggunaan teknologi harus disertai kesadaran etis, terutama dalam menjaga martabat, wajah, dan suara manusia.
Bertumbuh Melalui Kolaborasi

Selain kreativitas, Eko Indrajit juga menekankan pentingnya jejaring dan kerja sama. Komsos tidak dapat bekerja sendiri. Kolaborasi antarkeuskupan, dengan media, masyarakat, dan berbagai komunitas dapat memperluas daya jangkau sekaligus memperkuat dampak karya.
Naskah sesi tersebut mencatat bahwa ketika 38 keuskupan bekerja sendiri-sendiri, kemampuan yang ada hanya menjadi hasil penjumlahan. Namun ketika mereka saling terhubung, terbuka ratusan kemungkinan kerja sama.
Kolaborasi, bagaimanapun, harus dibangun melalui tujuan yang jelas, pembagian tanggung jawab, pertemuan yang teratur, serta komitmen bersama. Jejaring juga perlu dibangun sebelum dibutuhkan, termasuk hubungan dengan media dan kesiapan menghadapi situasi krisis.
Mengukur Perubahan yang Nyata
Pada akhirnya, pertanyaan terpenting bagi setiap karya Komunikasi Sosial adalah: apa yang sungguh berubah karena karya itu ada?
Jumlah tayangan, pengikut, dan interaksi, kata Eko tetap dapat menjadi indikator, tetapi tidak cukup untuk mengukur seluruh dampak sebuah karya. Komunikasi Gereja dipanggil untuk melihat lebih jauh: apakah ada kehidupan yang disentuh, harapan yang tumbuh, solidaritas yang terbangun, atau mereka yang selama ini tidak memiliki suara akhirnya didengar.

Dalam penutup sesi, para peserta diajak untuk tidak berhenti pada gagasan, tetapi mulai mengambil langkah-langkah konkret di keuskupan masing-masing, mulai dari merumuskan narasi besar Komsos, membangun karya unggulan, mencari kisah secara konsisten, hingga memperkuat jejaring dan mengukur dampak karya.
Di tengah dunia yang semakin cepat dan semakin dipenuhi oleh teknologi, kekuatan Gereja, menurut Eko tidak terletak pada kemampuan untuk menyaingi kecepatan algoritma. Kekuatan itu terletak pada kesediaan untuk hadir, mendengarkan, dan menemani.
“Sebab karya Komunikasi Sosial yang benar-benar mendunia bukanlah yang kehilangan wajahnya demi popularitas, melainkan yang semakin manusiawi dalam menghadirkan wajah yang nyata, suara yang autentik, dan harapan bagi sesama,“ujar Eko.




