LINTAS PERISTIWA

Komsos Dipanggil Menjadi Nabi yang Menghidupkan Mimpi Gereja

Muntilan — Komunikasi Sosial (Komsos) Gereja dipanggil bukan sekadar menjadi sarana penyampai informasi, dokumentasi kegiatan, atau publikasi program Gereja. Komsos perlu memiliki kepekaan profetis untuk membaca realitas, menghadirkan harapan, dan membuka kemungkinan baru bagi kehidupan yang lebih manusiawi.

Hal tersebut disampaikan Romo F. Wawan Setyadi, SJ, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, dalam kegiatan Training of Trainers (ToT) Komsos KWI di Aula Pelican, Pusat Pastoral Sanjaya, Keuskupan Agung Semarang, Selasa (25/8/2026).

Romo F. Wawan Setyadi, SJ, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, dalam kegiatan Training of Trainers (ToT) Komsos KWI di Aula Pelican

Dalam pembekalannya mengenai imajinasi profetis dan panggilan Komsos, Romo Wawan menekankan pentingnya kemampuan untuk melihat realitas secara lebih mendalam. Menurutnya, imajinasi tidak boleh dipahami sekadar sebagai kemampuan menyalin atau mengulang pengalaman yang sudah ada.

“Imajinasi tidak hanya sekadar copy paste dari dunia kehidupan,” demikian salah satu penekanan Romo Wawan dalam pemaparannya.

Imajinasi, lanjutnya, memiliki daya produktif dan kreatif. Dengan kemampuan tersebut, manusia dapat mengolah pengalaman dan kenyataan yang dihadapinya untuk membentuk kemungkinan-kemungkinan baru.

Dari sinilah muncul apa yang disebut Romo Wawan sebagai “ruang mimpi”. Ruang tersebut bukanlah khayalan yang membuat seseorang menjauh dari kenyataan, melainkan kemampuan untuk membayangkan kemungkinan baru yang dapat diwujudkan demi kehidupan yang lebih baik.

Mimpi yang Berakar pada Iman

Bagi Gereja, mimpi tersebut berakar pada iman akan Kristus, terutama misteri wafat dan kebangkitan-Nya. Di tengah penderitaan, kegagalan, dosa, dan kematian, iman Kristiani memberikan keyakinan bahwa realitas tidak berakhir dalam kegelapan.

Romo Wawan menyebutnya sebagai surplus makna, yakni makna yang melampaui berbagai bentuk absurditas kehidupan manusia. Karena itu, wafat dan kebangkitan Kristus tidak hanya menjadi peristiwa masa lalu, tetapi juga menjadi sumber harapan dan dasar bagi visi etis Gereja.

Dalam konteks tersebut, Komsos memiliki peran penting. Para pelaku komunikasi Gereja tidak cukup hanya menyampaikan apa yang terjadi. Mereka dipanggil untuk menerjemahkan harapan iman ke dalam bahasa dan narasi yang dapat menyentuh kehidupan manusia zaman ini.

Pesan tentang Kristus yang wafat dan bangkit, menurut Romo Wawan, tidak boleh berhenti sebagai jargon atau slogan. Pesan itu perlu dihadirkan secara kontekstual melalui narasi, metafora, dan bentuk komunikasi kreatif yang dapat dipahami masyarakat masa kini.

Membaca Realitas dengan Kepekaan Profetis

Karena itu, seorang pelaku Komsos dituntut memiliki apa yang disebut sebagai imajinasi profetis. Ia perlu mampu melihat dunia sebagaimana adanya, termasuk berbagai luka dan kontradiksi di dalamnya, sekaligus mempertahankan kemampuan untuk melihat apa yang mungkin terjadi.

Tantangan tersebut menjadi semakin penting di tengah dunia yang semakin teknis, teknologis, kapitalistis, dan konsumtif. Manusia dapat terjebak dalam rasionalitas yang sempit sekaligus terus-menerus didorong untuk memenuhi hasrat yang dibentuk oleh budaya konsumsi.

Training of Trainers (ToT) Komsos KWI di Aula Pelican, Pusat Pastoral Sanjaya, Keuskupan Agung Semarang, Selasa (25/8/2026).

Dalam situasi seperti itu, imajinasi menjadi kemampuan yang membebaskan. Imajinasi memungkinkan manusia mempertanyakan dunia yang diterimanya dan bertanya apakah masih ada kemungkinan lain serta cara yang lebih manusiawi untuk hidup bersama.

Pertanyaan semacam itu, menurut Romo Wawan, merupakan bagian dari tugas profetis Komsos. Komunikasi Gereja dipanggil untuk membuka cakrawala, bukan menutupnya; menghadirkan harapan, bukan sekadar menambah kebisingan informasi.

Memberi Ruang bagi Mereka yang Tersisih

Panggilan profetis Komsos juga tidak dapat dilepaskan dari keberpihakan kepada mereka yang berada di pinggir kehidupan.

Romo Wawan menekankan pentingnya solidaritas dengan mereka yang menjadi korban, tersisih, dan terdampak oleh berbagai kontradiksi kehidupan. Kemajuan masyarakat, menurutnya, tidak boleh membuat Gereja kehilangan kepekaan terhadap mereka yang tertinggal.

Karena itu, Komsos perlu memiliki “radar” yang semakin peka untuk menangkap wajah-wajah yang tidak selalu memperoleh tempat dalam arus utama.

Komunikasi Gereja juga tidak boleh menjadikan penderitaan manusia sekadar bahan konten. Cara melihat dan menceritakan sebuah peristiwa harus mampu membuka jalan menuju harapan.

Dalam konteks ini, komunikasi bukan hanya kemampuan berbicara. Komunikasi juga berarti mendengarkan, menemani, dan membangun persekutuan. Dengan demikian, Komsos dapat menjadi bagian dari komunio, sebuah persekutuan yang tidak meninggalkan siapa pun.

Merajut Gereja yang Tersebar

Persoalan tersebut semakin nyata dalam konteks Gereja di Indonesia yang memiliki wilayah geografis sangat luas. Di sejumlah keuskupan, umat hidup tersebar di berbagai pulau dan wilayah yang berjauhan.

Dalam situasi tersebut, komunikasi menjadi sarana untuk memperpendek jarak dan menghubungkan komunitas-komunitas yang terpisah. Komsos bahkan dapat menjadi perpanjangan tangan uskup kepada umat sekaligus menjadi jembatan bagi suara umat kepada uskup.

Mimpi yang dibangun adalah merangkai komunitas-komunitas yang tersebar itu menjadi sebuah mosaik yang indah. Dengan demikian, umat dapat semakin mengenal satu sama lain dan menyadari bahwa mereka merupakan bagian dari satu Gereja.

Teknologi, dalam konteks ini, bukan tujuan pada dirinya sendiri. Teknologi merupakan sarana untuk mempertemukan manusia, merawat kedekatan, dan membangun kesadaran sebagai satu keluarga Allah.

Dari “Aku dan Kamu” Menjadi “Kita”

Refleksi mengenai komunikasi kemudian bermuara pada tema harapan dan persekutuan. Dalam pembekalannya, muncul gagasan Gabriel Marcel mengenai harapan melalui ungkapan J’espère en toi—“aku berharap padamu”.

Harapan, dalam pemahaman ini, bukan semata-mata keinginan pribadi. Harapan menjadi nyata ketika seseorang membuka diri kepada orang lain dan bersama-sama melakukan sesuatu. “Aku” dan “kamu” tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi menjadi “kita”. Dan “kita” itulah yang menjadi wujud konkret dari komunio.

Refleksi tersebut memberi kedalaman baru terhadap panggilan Komsos. Pelaku komunikasi Gereja tidak bekerja sendirian. Komsos merupakan bagian dari jejaring Gereja yang saling mendengarkan, mengandalkan, dan menguatkan.

Imajinasi diperlukan untuk menyatukan berbagai realitas yang tampak tercerai-berai—kemiskinan, ketidakadilan, keterpisahan geografis, luka sosial, dan berbagai kontradiksi kehidupan—menjadi kesadaran bersama sebagai umat Allah.

Passion for the Possible

Pada akhirnya, Romo Wawan mengajak para pelaku Komsos memiliki apa yang disebutnya sebagai passion for the possible—hasrat untuk memperjuangkan apa yang mungkin.

Hasrat tersebut bukan optimisme kosong, melainkan keberanian untuk membayangkan dan mengusahakan dunia yang lebih baik dengan berakar pada sumber harapan Kristiani.

Karena itu, imajinasi profetis Komsos merupakan bagian dari mimpi Gereja. Mimpi itu tidak membawa orang menjauh dari kenyataan, tetapi justru memberikan keberanian untuk masuk lebih dalam ke dalam kenyataan dan menemukan kemungkinan-kemungkinan baru bagi kehidupan.

Para pelaku Komsos pun diajak untuk kembali bertanya mengenai identitas dan panggilan mereka: mimpi Gereja seperti apa yang hendak diwujudkan melalui karya komunikasi?

Pertanyaan tersebut menjadi tantangan agar Komsos tidak berhenti pada keterampilan teknis. Komsos membutuhkan kompetensi, tetapi juga iman, kepekaan, kreativitas, kemampuan mendengarkan, dan keberanian profetis.

Dengan imajinasi, narasi, dan keberanian profetis, Komsos dipanggil bukan hanya untuk menceritakan dunia, tetapi juga ikut membayangkan dan menghadirkan dunia yang lebih manusiawi.

Pada akhirnya, komunikasi yang sungguh Gerejawi bukan sekadar soal seberapa banyak informasi yang berhasil disebarkan. Komunikasi Gereja adalah keberanian untuk melihat lebih dalam, mendengarkan lebih sungguh, merangkai yang tercerai-berai, dan bersama-sama membuka jalan bagi “yang mungkin”.

Di situlah Komsos menjalankan panggilan kenabiannya: menghidupkan mimpi Gereja dan menghadirkan harapan di tengah dunia.

Penulis : Gabriel Abdi Susanto
Show More

KOMISI KOMUNIKASI SOSIAL

Tim Redaksi *Pelindung Mgr. DR. Silvester San (Uskup Keuskupan Denpasar) *Pemimpin Umum/Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi RD. Herman Yoseph Babey (Ketua Komisi Komsos) *Redaktur: Hironimus Adil- Blasius Naya Manuk- Christin Herman- J Kustati Tukan-

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button