LINTAS PERISTIWA

Panggilan Kenabian KOMSOS Keuskupan Denpasar di Era Digital

MUNTILAN— Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan besar budaya komunikasi, Komunikasi Sosial (KOMSOS) Keuskupan Denpasar menghadapi sebuah panggilan yang semakin penting: bukan sekadar menjadi penyampai informasi Gereja, tetapi menjadi suara profetis Gereja di tengah dunia digital.

KOMSOS dipanggil menghadirkan Injil, kebenaran, kemanusiaan dan harapan di tengah ruang publik yang dipenuhi berbagai suara. Panggilan tersebut dapat dilihat dalam tujuh dimensi kenabian.

Pertama, menjadi suara Injil di tengah kebisingan dunia. Banjir informasi, hoaks, ujaran kebencian, polarisasi dan konten yang kehilangan nilai kemanusiaan membuat masyarakat membutuhkan suara yang mampu memberikan arah. KOMSOS tidak cukup hanya memberitakan apa yang dilakukan Gereja, tetapi dipanggil menghadirkan suara Kristus di tengah dunia.

Muntilan – Komunikasi sosial (Komsos) Gereja tidak semestinya berhenti pada kerja-kerja teknis produksi konten, dokumentasi, atau penyebaran informasi.

Kedua, menjadi nabi kebenaran. KOMSOS harus memiliki keberanian profetis untuk melawan hoaks dan disinformasi, membangun budaya verifikasi, menyuarakan keadilan, membela martabat manusia serta memberikan perspektif iman terhadap berbagai persoalan sosial. Dalam dunia yang mudah mempercayai sesuatu hanya karena viral, KOMSOS dipanggil untuk memastikan bahwa kebenaran tidak dikalahkan oleh kecepatan informasi.

Ketiga, menjadi jembatan komunikasi dalam Gereja Sinodal. Gereja sinodal adalah Gereja yang berjalan bersama. Karena itu, KOMSOS bukan hanya berbicara kepada umat, tetapi juga mendengarkan umat. Pola komunikasinya bergerak dalam alur: mendengarkan, mengolah, mengomunikasikan, menggerakkan dan membangun persekutuan. Dengan demikian, KOMSOS menjadi ruang perjumpaan antara Uskup, imam, religius, awam, paroki, komunitas dan masyarakat.

Keempat, menjadi nabi di “Areopagus digital”. Dunia digital kini menjadi ruang baru untuk mencari informasi, membangun relasi bahkan menemukan makna hidup. YouTube, Instagram, TikTok, podcast, WhatsApp dan berbagai platform digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Gereja tidak boleh absen dari ruang ini. KOMSOS dipanggil membawa Kristus ke tengah budaya digital, bukan sekadar mengikuti tren, tetapi mengubah ruang digital menjadi ruang perjumpaan dengan Injil.

Kelima, menjadi penjaga martabat manusia. Perkembangan kecerdasan buatan dan teknologi komunikasi membawa peluang sekaligus tantangan. KOMSOS perlu terus mengingatkan bahwa manusia bukan algoritma, bukan data dan bukan sekadar pengguna media. Manusia adalah pribadi yang bermartabat dan dikasihi Allah. Karena itu, tema KOMSOS Keuskupan Denpasar 2026, “Manusia Bukan Algoritma,” menjadi sangat relevan sebagai bagian dari panggilan kenabian tersebut.

Keenam, menjadi pewarta harapan. Di tengah berita tentang perang, kekerasan, kemiskinan, bencana, konflik dan intoleransi, KOMSOS tidak boleh hanya menjadi “pabrik berita”. KOMSOS harus menjadi ruang pengharapan: berani memberitakan kenyataan secara jujur, namun melihatnya dengan mata iman. Bahkan di tengah kegelapan, selalu ada cahaya Kristus dan tanda-tanda harapan yang perlu ditemukan serta diwartakan.

Menurut Mgr. Didik, pertanyaan tentang apa yang baik dari Gereja harus dijawab bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui komunikasi yang mampu memperlihatkan kekayaan iman dan pengalaman hidup Gereja.

Ketujuh, menjadi penggerak misi Gereja. Komunikasi Gereja pada akhirnya harus menghasilkan gerakan. Berita melahirkan kesadaran; kesadaran mendorong pertobatan; pertobatan melahirkan keterlibatan; dan keterlibatan membawa umat kepada perutusan. Karena itu, KOMSOS tidak berhenti pada pertanyaan, “Apa yang terjadi?”, tetapi mengantar umat kepada pertanyaan yang lebih penting: “Apa yang harus kita lakukan sebagai murid Kristus?”

Dari ketujuh panggilan tersebut, panggilan kenabian KOMSOS Keuskupan Denpasar dapat dirumuskan sebagai berikut: “Menjadi suara profetis Gereja yang mendengarkan, menyuarakan kebenaran, membela martabat manusia, membangun persekutuan, mewartakan Injil dan menyalakan harapan di tengah dunia digital.”

Sementara itu, sebuah semboyan yang singkat namun kuat dapat menjadi arah bersama: “KOMSOS: Mendengar Suara Zaman, Mewartakan Suara Kristus, Menggerakkan Gereja.”

Dalam perspektif Gereja Sinodal, seluruh panggilan itu dapat dipadatkan menjadi lima gerakan: MENDENGARKAN — MEWARTAKAN — MEMPERSEKUTUKAN — MENGGERAKKAN — MENGUTUS.

Lima gerakan inilah yang dapat menjadi fondasi spiritualitas sekaligus arah strategis KOMSOS Keuskupan Denpasar: menjadi Gereja yang hadir, mendengarkan, berbicara dengan kebenaran, merawat martabat manusia, menyalakan harapan dan akhirnya mengutus umat untuk menjadi pembawa kabar baik di tengah dunia.

RD. Herman Yoseph -Ketua Komsos Keuskupan Denpasar
Show More

KOMISI KOMUNIKASI SOSIAL

Tim Redaksi *Pelindung Mgr. DR. Silvester San (Uskup Keuskupan Denpasar) *Pemimpin Umum/Penanggung Jawab/Pemimpin Redaksi RD. Herman Yoseph Babey (Ketua Komisi Komsos) *Redaktur: Hironimus Adil- Blasius Naya Manuk- Christin Herman- J Kustati Tukan-

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button